Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » Hubungan Makna dan Kata

Hubungan Makna dan Kata

Posted by Jendela Dunia on Friday, 12 October 2018




     A.  Pengertian Semantik

‘Ilm al-dilalah atau yang dikenal dengan semantik, berasal dari bahasa Yunani sema (nomina) yang berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’ atau semaino (verba) yang berarti ‘menandai’ atau ‘melambangkan’. Sumber lain juga mengatakan bahwa semantik berasal dari bahasa Yunani, yakni semantike, bentuk muannats dari semantikos, yang artinya menunjukkan , mamaknai

 
Semantik ialah ilmu bahasa yang mempelajari makna. Jadi, semantik adalah makna, membicarakan makna, bagaimana mula adanya makna sesuatu, bagaimana perkembangannya, dan mengapa terjadi perubahan makna dalam bahasa.
    B.  Etimologi
Etimologi adalah salah satu cabang dari linguistik yang berusaha menelusuri asal-usul kata secara historis sejak munculnya kata tersebut, dan dan menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi pada kata dan makna. Penjelasan asal usul kata, tidak terbatas pada satu bahasa saja, tetapi juga meliputi kumpulan bahasa yang berkembang.
Hubungan antara kata dan makna melalui penelusuran asal-usul bahasa, menjadi bagian dari proses analisis kosa kata makna dalam leksikologi. Salah satu fungsi kamus, memberikan penjelasan tentang asal-usul kata ( etimologi ) sebuah kata, sehingga makna leksim dapat dipahami oleh pengguna kamus (Taufiqurrohman, 2008 : hal 67).
    C.    Homonim dan Homofon
Menurut Warson Munawir dalam buku leksikologi Bahasa arab. Homonimi adalah beberapa kata yang sama, baik pelafalannya maupun bentuk tulisannay, tetapi maknanya berlainan. Sesungguhnya kata-kata yang berhomonimi merupakan kata-kata berlainan dan dan kebetulan bentuknya sama. Oleh karena itu maknanya berbeda. Contoh: kata bisayang bermakna racun ular adalah homonimi dengan kata bisa yang berarti sanggup, dapat. Contoh lain, dalam bahasa arab, kata الجد memiliki tiga makna, yaitu bapak dari ayahnya ibu, bagian nasib baik, dan tepi sungai.
Dalam ilmu balaghoh, homonimi disebut dengan istilah jinas yaitu kemiripan dua kata yang berbeda maknanya.
Dalam bahasa indonesia, adakalanya kata-kata yanng berhomonimi ini hanya sama bunyinya tetapi ejaannya tidak sama, hal seperti ini disebut homofon. Contoh: kata sangsi yang berarti ragu dan kata sanksi yang berarti hukuman. Sedangkan dalam satu yang lain,  kecuali kesamaan antara satu dengan frase. Contohnya: kata ذاهبة dan ذاهبة. Kata yang pertama berarti seorang perempuan/ sesuatu yang hilang atau pergi, sedangkan kata yang kedua merupakan frase yang berarti orang yang punya hadiah.(Taufiqurrohman, 2008 : hal 67).
    D.    Polisemi
Polisemi adalah sebuah kata yang maknanya lebih dari satu, sebagai akibat adanya lebih dari sebuah komponen konsep makna pada kata tersebut. Contoh kata kepala yang mengandung konsep makna selain bermakna “anggota tubuh manusia, hewan atau  Bagian yang berada di sebelah atas dan sesuatu yang bentuknya bulat menyerupai kepala. Perbedaan dan banyaknya makna dari kata kepala, dapat di mengerti dari contoh-contoh berikut ini:
a.       Ia menyundul bola dengan kepalanya
b.      Ibunya diangkat menjadi kepala Darma wanita
c.       Setiap kepala mendapat subsidi minyak tanah
d.      Rangkaian kereta api itu belum diberangkatkan karena kepalanya rusak.
Contoh lain dalam bahasa arab kata عين mengandung dalam beberapa komponen konsep makna pada kata itu, yaitu mata panca indra, sumur mata air, mata-mata, bulatan matahari.
     E.     Sinonimi
Sinonimi adalah dua kata atau lebih yang maknanya kurang lebih sama. Dikatakan kurang lebih karena memang tidak akan ada dua buah kata berlainan yang maknanya persis sama. Yang sama sebenarnya hanya infirmasinya saja, sedangkan maknanya tidak persis sama. Contoh : kata jenazah, bangkai, mayat, kata-katanya ini disebut bersinonim, namun kata-kata ini tidak persis sama maknanya. Buktinya, kata-kata yang bersinonim tidak bebas dipertukatkan secara bebas, misalnya : “aku melihat bangkai anjing tidak bisa ditukar dengan “ aku melihat jenazah anjing”.(Taufiqurrohman, 2008 : hal 67).
Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya kata-kata yang bersinonim, seperti:
1.      Pengaruh kosakata serapan
Dari bahasa asing misalnya dalam bahasa arab konteporer di kenal kata (telepon) yang aslinya dari bahasa eropa dan kata الهانف yang merupakan terjemah ke arab sehingga kedua kata itu dianggap sinonim.
2.      Perbedaan dialek sosial
Misalnya kata isteri bersinonim dengan kata bini tetapi kata istri digunakan dalam kalangan atasan sedaangkan bini dalam kalangan bawahan.
3.      Perbedaan dialek regional
Dalam bahasa arab سيارة نقل (truk) hanya kenal dimesir, sementara dinegara-negara arab bagian teluk dan maroko lebih mengenal kata شاحنة .
4.      Perbedaan dialek temporal
Misalnya, kata الكتاب  bersinonim dengan المدرسة الإيتدائية sama-sama berarti sekolah dasar. Akan tetapi istilah الكتاب hanya di pakai pada ,asa lampau.
     F.     Antonimi
Antonimi adalah dua buah kata atau lebih yang maknanya dianggap berlawanan. Disebut di anggap karena sifat berlawanan dari dua kata yang berantonim ini sangat relatif. Seperti kata mati dengan hidup, kata siang dengan malam. Ada juga yang tidak mutlak, seperti jauh dengan dekat.
 Menurut Salim Sulaiman Al-khamas dalam buku Leksikologi Bahasa Arab mengklasifikasikan antonim menjadi 3 macam, yaitu:
1.      Antonim Mutlak
Yaitu diantara medan makna pada dua kata yang berlawanan tidak terdapat tingkatan. Artinya kedua kata yang maknanya berlawanan itu enar-benar mutlak.
Contoh:    
     a.       Betina/ perempuan – jantan/ laki-laki
     b.      Menikah – Bujangga
     c.       Mati – Hidup
     d.      Salah – Benar
     e.       Wanita – Pria
2.      Antonim Bertingkat
Yaitu di antara medan makna pada dua kata yang berlawanan masih terdapat tingkatan. Artinya ,makna dari kata-kata yang saling berlawanan masih relatif.
Contoh:
     a.       Mudahlawan kata sulit, namun antara mudah dan sulit masih tingkat kemudahan/ kesulitan tertentu.
      b.      Dingin lawan kata panas, diantara dingin dan panas masih ada level tertentu.
3.      Antonimi Berlawanan
Yaitu diantara medan makna pada dua kata yang berlawanan bersifat lazim/ lumrah.
Contoh:
      a.       Ayah = Ibu
      b.      Menjaul = Membeli
      c.       Mengajar = Belajar
      d.      Pemimpin = yang dipimpin
      e.       Suami = Istri
      f.       Memberi = Mengambil
      g.      Menang = Kalah
          G.    Hipernim dan Hiponim
Hipernim adalah kata-kata yang maknanya melingkupi makna kata-kata yang lain. Misalnya, kata binatang maknanya melingkupi makna kata-kata seperti singa, kuda, sapi, kambing. Dengan kata lain yang disebut binatang bukan hanya singa saja, tetapi termasuk juga  kuda, sapi, kambing.
Hipernim adalah kata atau ungkapan yang maknanya melengkapi makna kata ayau ungkapan lain, maka hiponimi adalah adalah kata yang m,aknanya termasuk di dalam makna kata atau ungkapan lain. Misalnya, kata singa termasuk di dalam makna binatang, makna merah termasuk di dalam makna kata warna.
          H.    Disharmoni (Tanafur)
Yaitu apabila beberapa kalimat berbeda di dalam satu bidang makna, namun tiap-tiap kata tidak menjadi lawan kata dengan kata yang lain. Disharmoni dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
1.      Disharmoni persial
Yaitu hubungan antara dua buah kata, salah satunya menjadi bagian dari rumpun kata yang lain. Contoh:
      a.       Sampul, Buku
      b.      Ranting, Pohon
      c.       Kaki, Tubuh
      d.      Jendela, Kamar
      e.       Jari, Tangan
2.      Disharmoni Sirkulasi
Yaitu hubungan yang ada diantara beberapa kata terdapat rentang waktu yang berbeda dan setiap kata bisa menjadi permulaan atau bagian penghabisan. Contoh:
       a.       Nama-nama hari: senin, selasa, rabu, kamis, jum’at, sabtu, minggu
       b.      Nama-nama bulan: januari, februari, maret, april, mei, dsb.
3.      Disharmoni Organisasi
Yaitu hubunagn yang terjadi antar kata menunjukan makna-makna yang sifatnya bertingkat dari level atas hingga level bawah, atau sebaliknya. Contoh:
Umur : anak-anak, pemuda, laki-laki, orang tua.
4.      Disharmoni Asosiasi
Yaitu sekelompok kata yang terhimpun dibawah makna sifatnya umum. Contoh:
Buah: pisang, jeruk, apel.
       I.       Konotasi
Konotasi atau nilai rasa kata adalah pandangan baik-buruk atau positif-negatif yang diberikan oleh sekelompok masyarakat bahasa terhadap sebuah kata. Nilai rasa kata ini sangat ditentukan oleh pengalaman, kebiasaan dan pandangan hidup yang dianut masyarakat pemakai bahasa itu.
Misalnya, kata خنزير atau babi yang makna sebenarnya ‘sebangsa binatang ternak berkaki empat’, di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam memiliki nilai rasa jijik, kotor dan haram. Tetapi di daerah yang penduduknya tidak beragama Islam tentu tidak bernilai demikian.











































0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}