Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » JAS MERAH DI 10 NOVEMBER

JAS MERAH DI 10 NOVEMBER

Posted by Jendela Dunia on Tuesday, 10 November 2015


 

Pernah mendengar kata”Jas Merah”? Jas Merah merupakan akronim/singkatan yang diambil dari judul pidato teraKHir Bung Karno pada HUT RI tanggal 17 agustus 1966, yang kepanjangannya adalah “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Jadi sesuai judul kali ini kita akan sedikit mengupas peristiwa di balik 10 November.

Apa yang kamu ingat di 10 November? Yaaa hari pahlawan. Selamat hari pahlawan bunga bangsa, selamat menjadi pahlawan para pelurus bangsa

10 November 1945 merupakan tanggal dimana peristiwa besar terjadi di Surabaya, yakni pertempuran antara tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Pertempuran ini menjadi symbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme/penjajahan yang terjadi setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa itu dimulai setelah adanya maklumat pemerintah Indonesia pada 31 agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke pelosok kota Surabaya. Klimaksnya gerakan pengibaran bendera terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru/Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya pada 18 September 1945. Apa yang terjadi saat itu? Cek!
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan mr. W.V.CH. Ploegman pada pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (merah-putih-biru) di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara, tanpa persetujuan pemerintah ri daerah Surabaya. Esoknya, para pemuda Surabaya melihat dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera merah putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Setelah berkumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman yang datang melewati kerumunan massa masuk ke Hotel Yamato dikawal sidik dan Hariyono. Residen Soedirman yang merupakan pejuang dan diplomat yang menjabat sebagai wakil residen (fuku syuco gunseikan) yang masih diakui pemerintah dai nippon Surabaya syu, sekaligus sebagai residen daerah Surabaya pemerintah RI. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar hotel yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera merah putih.
27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris. Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris. AKHirnya Jenderal  D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Soekarno untuk meredakan situasi.
29 Oktober 1945, gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani sehingga keadaan berangsur-angsur mereda meski masih terjadi bentrokan bersenjata. Esoknya, 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30,  mobil buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal  Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia. Ketika akan melewati jembatan merah, kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak. Brigadir Jenderal  Mallaby tewas oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby.
Mayor Jenderal  Robert mansergh adalah pengganti Brigadir Jenderal  Mallaby. Mayor Jenderal  robert mansergh mengeluarkan ultimatum bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut ditolak pihak Indonesia karena dianggap penghinaan bagi para pejuang dan rakyat. Saat itu Republik Indonesia sudah berdiri, dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat.
10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar. Diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.
Sekitar 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India sekitar 600-2000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya rupanya telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai hari pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.
Tahukah kamu dalam pertempuran ini Inggris memprediksi Surabaya dapat ditaklukan dalam tempo 3 hari? Namun berkat pergerakan semangat bung Tomo dan para tokoh masyarakat seperti KH. Hasyim asy’ari, KH. Wahab Hasbullah dan lain-lain perlawan terus berlanjut. Dasyatnya semangat! Perlawanan ini tidak terlepas dari peran para santri sebagai milisi perlawanan. Terima kasih santri.
Sebuah fans page facebook yang pernah saya baca (lupa alamatnya), ketika rakyat Surabaya tidak berkutik dan banyak yang mulai mengungsi, perlawanan baru akan dimulai ketika datang seorang kiai dari cirebon yang bernama Kiai Abbas (silakan cari lebih lanjut tentang siapa Kiai Abbas jika penasaran). Jadi menurut pemahaman saya penentuan hari perlawan yang berujung pada kemenangan Indonesia itu berkat perhitungan/perkiraan yang ditentukan oleh kiai abbas. Wong cerbon kudu bangga hhha.
Bung Tomo icon 10 November. Siapa Bung Tomo?
Bung Tomo (Sutomo) merupakan nama yang identic dengan hari pahlawan. Beliau adalah salah tokoh yang berperan dalam pertempuran ini. Bung Tomo menjadi pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Bung Tomo menggelorakan semangat perlawanan rakyat melalui pidato-pidatonya di radio. Salah satu kalimat dalam pidato yang membuat rakyat merasa “Bhineka Tungga Ika” adalah "sesungguhnya Surabaya adalah Indonesia dan Indonesia adalah Surabaya. Kehormatan Republik Indonesia dipertaruhkan di Surabaya," sehingga komplaklah para pemuda mengusir kolonialisme dari bumi pertiwi.
Mari kita refleksi diri! Bagaimana cara mempertahankan bangsa Indonesia yang secara de facto dan de jure telah merdeka dari kolonialisme? Bagaimana cara membebaskan bangsa Indonesia yang justru di 70 tahun kemerdekaannya terjajah oleh fashion, food, game, film, economy, dan technology?
Selamat berusaha menjadi pahlawan para pelurus bangsa. Masa depan bangsa Indonesia ada digenggaman kita. 

SELAMAT HARI PAHLAWAN

By Nurlaela Ayu SPd.I


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}