Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » , » Pengertian Qadhiyah

Pengertian Qadhiyah

Posted by Jendela Dunia on Friday, 14 August 2015

A.    Pengertian Qadhiyah
Qadhiyah adalah:
قَوْلٌ مُفيْدٌ يَحْثَمِلُ الصِّدْقَ وَالكِذْبَ لَذَاتِهِ
Pernyataan yang sempurna, yang isinya mengandung klemungkinan benar atau salah.
Qodliyah adalah kata mufrod dari jama’ Qodloya, dalam ilmu logika istilah Qodliyah diartikan sama dengan istilah “kalam”, yaitu sejumlah kata yang berfaidah (dalam istilah ilmu nahwu) dan diartikan “kalimat” (dalam istilah bahasa Indonesia) karena itulah,
Qodliyyah merupakan serangkaian kata-kata yang mengandung suatu pengertian atau hukum. [1]
jumlah khobariyah yang mengandung kebenaran dan kesalahan dan bisa diketahui benar tidaknya dengan penelitian atau eksperimen. Misalnya, Tahun depan saya akan dapat menamatkan sekolah saya/pelajaran saya atau besok syawal saya akan pindah ke Surabaya. Perkataan ini disebut qadhiyah karena penamatan atau kepindahan itu mungkin bisa terjadi dan mungkin  tidak terjadi.[2]
oleh sebab itu, tiap-tiap Qodliyyah, selalu mengandung dua kemungkinan, yaitu benar atau salah. 3 jika Qodliyyah itu benar maka kebetulan isinya sesuai dengan kenyataan. Jika ternyata qodliyyah itu salah, berarti qodliyyah tidak sesuai dengan realitas.
Akan tetapi, jika dalam kenyataan ditemukan adanya qodliyyah yang isinya menentukan pasti benar atau tidak mungkin salah, maka kepastian kebenarannya tidak disebabkan oleh qodliyyah itu sendiri, melainkan oleh kemauan orang yang mengatakannya, misalnya:
-          Kalamullah (Al-Qur’an) pasti benarnya.
B.     Klasikfikasi Qodliyyah
Dari definisi qodliyyah (khabar) dan contoh aplikatifnya seperti diatas, maka para ahli ilmu logika menyatakan bahwa qodliyyah itu, dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu:
1.      qodliyyah syartiyyah
Yaitu qadhiyah yang menerangkan ketergantungannya suatu hukum, dimana ketetapan suatu hukum tersebut digantungkan oleh adanya suiatu hukum yang lain.[3]maksudnya adalah dua qodliyyah yang dirangkai dengan menggunakan seperangkat syarat, sehingga kedua qodliyyah muncul menjadi satu qodliyyah (khabar)[4]
Contoh:
ü  Kalau matahari terbit, terjadilah siang.
ü  Jika daging di rebus maka daging itu menjadi rapuh
Dari penjelasan tentang arti dan contoh aplikasinya seperti itu, maka dapat diambil pemahaman bahwa qodliyyah syartiyyah itu dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
a.      Qodliyyah syartiyyah Muttashilah5
Qodliyyah yang keadaan penghubung diantara keduanya memiliki pengertian bahwa sattu bagian seiring dan bersamaan dengan yang lain, artinya, jika yang satu ada maka bagian keduapun ada. Oleh sebab itu, penghubung diantara keduanya, berupa penggabungan dan keseiringan. [5]
Beberapa unsur yang harus ada dalam Qodliyyah syartiyyah Muttashilah, adalah sebagai berikut:
a)      Muqoddam (kondisi)
b)      Taali (konsekuensi)
c)      Tashahub (saling mengisi)
Seperti contohnya: jika aku mempunyai uang, aku jadi pergi ke Surabaya
b.      Qodliyyah syartiyyah munfashilah
Yaitu dua qodliyyah yang keadaan penghubung diantara keduanya memiliki pengertian bahwa diantara keduanya ada sejenis ketidakcocokan[6], artinya jika bagian yang satu terpenuhi, maka bagian yang lain tidak akan ada, dan begitu sebaliknya.
Contoh:
- qodliyah 1, yaitu: Amir di dalam kelas
- qodliyah 2, yaitu: Amir di luar kelas
Dua qodliyyah ini, bisa digambarkan dengan menggunakan seperangkat syarat adakalanya, seperti:
-        Adakalanya Amir di dalam kelas, dan adakalanya Amir di dalam kelas.
Atau dengan menggunakan dua rangkaian kalimat yang diantara keduanya mengandung pengertian yang saling berlawanan, seperti:
-        Angka bilangan genap, maka ganjil.
Berpijak pada kenyataan bahwa kedua qodliyyah yang dirangkai itu ternyata berlawanan (yaitu di luar dan di dalam) maka hubungan keduanya dalam ilmu logika dikenal dengan sebutan tabayun dan ‘inad (yaitu berlawanan dan bertentangan dan berpisah). Kondisi seperti inilah, dalam ilmu logika dikenal dengan sebutan munfashilah.
Qadhiyah ini dibagi menjadi tiga macam:
1)      Mani’ul jami’, ditolak kumpulnya artinya tidak boleh berkumpul dan tidak ditolak sepinya artinya tidak boleh terjadi kedua-duanya. Umpama: Umar adakalanya berdiri, adakalanya duduk; ini mani’ul jami’ karena berdiri dan duduk tidak bisa dilakukan secara bersamaan. Tetapi kalau sekaligus tidak berdiri dan tidak duduk itu mungkin terjadi, ini yang dimaksud ditolak sepinya (boleh tidak terjadi kedua-duanya).
2)      Mani’ul huluwwi, ditolak sepinya (tidak boleh tidak terjadi kedua-duanya), tidak ditolak berkumpulnya (boleh berkumpul kedua-duanya sekaligus), misalnya: Aisyah ada kalanya berada dilautan, adakalanya tidak tenggelam, ini boleh jadi (karena berperahu misalnya).[7]
3)      Mani’ul jami’ wal huluw, yaitu yang dinamakan qadhiyyah syarthiyyah munfashilah haqiqqiyah, artinya kedua-duanya berkumpulnya dan sepinya (tidak terjadi) itu ditolak, keduanya terjadi sekaligus tidak mungkin. Contohnya, Muhammad adakalanya mati dan adakalanya hidup, andaikata Muhammad sekjaligus mati dan hidup itu tidak mungkin terjadi, sebaliknya ia tidak mati dan tidak hidup juga tidak mungkin.

2.      qodliyyah Hamliyyah
yaitu suatu rangkaian kata-kata yang didalamnya mengandung suatu pengertian tentang terjadinya ketetapan hukum, tetapi keadaannya tidak tergantung pada sesuatu yang lain.
Contoh: Muhammad itu belajar
Dalam contoh ini ditemukan adanya dua hal yang saling berhubungan, yaitu:
Ø  kata Muhammad sebagai subyek (maudlu’)
Ø  kata berdiri sebagai predikat (mahmul)
Ø  kata itu sebagai nisbat (robithoh)
dari penjelasan tentang arti qodliyyah hamliyyah dan contoh aplikatifnya seperti itu, maka qodliyyah hamliyyah diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu:
1)      qodliyyah hamliyyah syakhshiyyah
adalah suatu rangkaian kata yang maudlu’ (subyek)nya berupa orang atau manusia tertentu atau salah satu dari isim ma’rifat.
Contoh: - Adnan gagah
-       Abdurrahman Wahid presiden RI ke 4
-       Bandung adalah ibukota jawa barat
Penjelasan:
Hukum ‘gagah’, presiden, dan ibukota semua hanyalah merupakan sebagian dari hakikat ‘Adnan’, ‘Abdurrahman Wahid’, dan Bandung.
2)      qodliyyah hamliyyah kulliyyah
adalah suatu rangkaian kata yang maudlu’ (subyek)nya berupa lafal kulliy dan mahmul (predikat)nya ada dan melekat pada seluruh satuan subyek.
Contoh: semua makhluk yang hidup, butuh akan makanan.
Penjelasan:
Kata semua makhluk yang hidup, merupakan maudlu’ yang berupa lafal kulliy (universal)
Butuh akan makanan adalah predikat yang memang ada dan melekat pada seluruh maudlu.
Dari penjelasan diatas, maka Qadhiyah kulliyah dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
a)      Kulliyah musyawwaroh atau mahshurah; yaitu qadhiyah yang dimulai dengan “Suwar”, misalnya semua siswa pada tidur, kata “semua” itu dinamakan “soer” yang bahasa Arabnya “Kullu”. Semua, setiap, seluruh adalah “suwar”.
Contoh: setiap manusia itu hewan, semua murid berolah raga, seluruh penghuni asrama tidur.
b)      Kulliyah Muhmalah; yaitu qadhiyah yang tidak dimulai dengan “suwar”.
contoh: manusia itu hewan, murid berolah raga, penghuni asrama tidur.
C.    Sur (batasan) dalam qodliyyah dan bentuk lafalnya

اللَّفْظُ الدَّالُ عَلَي كَمِيَةِ مَاوُقِعَ عَلَيْهِ الحُكْمُ مِنْ أَفْرَادِ المَوْضُوْع
Kata  yang menunjukkan kuantitas sesuatu yang padanya ditetapkan keputusan dari individu-individu maudhu’.
Adat sur atau sur qadhiyah adalah kata yang menunjukkan penjumlahan (kuantitas). Qadhiyah yang menggunakan adat sur ini disebut masrurat atau mahshurat.[8]
Sur dalam bahasa artinya pagar yang didalamya mengandung arti batas.[9] sedang menurut istilah para ahli ilmu logika sur adalah lafal-lafal yang menunjukkan pada arti kammiyyah tertentu yang berlaku pada maudlu’. Maksudnya adalah jika ada suatu pertanyaan tentang hal-hal yang sifatnya batasan, maka jawabannya harus menggunakan Qodliyyah mussawaroh yang bentuk lafalnya ada empat. Yaitu:
§  Kullun, artinya: semua
§  Ba’dlun, artinya: sebagian
§  La syai’a: tidak ada, dan la ahada, artinya: tidak seorangpun
§  Laisa ba’dl, artinya: tidaklah sebagian atau yang berarti sama.









BAB III
KESIMPULAN
Qadhiyah adalah jumlah khobariyah yang mengandung kebenaran dan kesalahan dan bisa diketahui benar tidaknya dengan penelitian atau eksperimen. Setiap qadhiyyah terdiri dari tiga unsur: 1) mawdhu’, 2) mahmul dan 3) rabithah (hubungan antara mawdhu’ dan mahmul). Contoh, Zaid itu berdiri, maka yang pertama yaitu Zaid disebut maudhu’, berdiri dinamakan mahmul yaitu hukum yang diletakkan pada zaid dan itu disebut rabithah.
Berdasarkan rabithah-nya, qadhiyyah dibagi menjadi dua: qadiyyah hamliyyah (proposisi kategoris) dan qadiyyah syarthiyyah (proposisi hipotesis). Qadhiyah syarthiyyah dibagi menjadi dua macam yaitu Syarthiyyah muttashilah dan munfashilah. Qadhiyyah hamliyyah juga dibagi menjadi dua yakni Qadhiyah syahshiyyah dan Qadhiyyah kulliyah, kulliyah dibagi menjadi dua lagi yaitu musyawwarah dan muhmalah. Hubungan antara masing-masing empat qadhiyyah mahshurah: 1. tanaqudh, 2. tadhadd, 3. dukhul tahta tadhadd dan 4. Tadakhul yang masing-masing menghasilkan hukum dalam Qadhiyyah.











DAFTAR PUSTAKA
Al-hasyimi. 2008. Pengantar memahami nadzom sulam Al-munauroq. Jombang: Darul Hikmah Jombang
[1] Al-shubbaniy, syarkh…., Op-Cit, hal: 88

2Sukriadi Sambas, Mantiq Kaidah Berfikir Islami, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 69-70
3 Cholil Bisyri, Ilmu Manthiq, (Rembang: Al-Ma’arif offset, 1893), 32.
4 AL-Roziy, Tahrir…., Op-cit, hal atau Ibnu Sa’id, Hasyiyah al-athor…., Op-Cit
5Al-shubbaniy, syarkh…., ibid, hal: 100


[1] Al-shubbaniy, syarkh…., Op-Cit, hal: 88
[2] Sukriadi Sambas, Mantiq Kaidah Berfikir Islami, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 69-70
[3] Cholil Bisyri, Ilmu Manthiq, (Rembang: Al-Ma’arif offset, 1893), 32.
[4] AL-Roziy, Tahrir…., Op-cit, hal atau Ibnu Sa’id, Hasyiyah al-athor…., Op-Cit
[5] Al-shubbaniy, syarkh…., ibid, hal: 100
[6] Al-shubbaniy, syarkh…., ibid,
[7] Ibid.,
[8]. Ibid., 34.

[9] Sukriadi Sambas, Mantiq Kaidah Berfikir Islami, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 74-75


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}