Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » Pengertian Majaz Aqli

Pengertian Majaz Aqli

Posted by Jendela Dunia on Monday, 10 August 2015




Majaz AQLI

Menyandarkan fi’il atau kata yang serupa kepada apa yang bukan perbuatannya. Karinahnya seperti majaz lughawi, yakni menghalangi peletakkan/penyandaran makna sebenarnya. Penyandaran dari majaz aqli adalah penyandaran pada sabab fi’il, waktu fi’il atau mashdarnya, atau penyandaran fa’il pada maf’ulnya, atau sebaliknya maf’ul pada fa’ilnya.
نَهَارُ الزَّاهِدِ صَائِمٌ وَلَيلُهُ قَائِمٌ
“Siangnya Zahid berpuasa dan malamnya berdiri (shalat)”

Dalam syair ini, puasa disandarkan kepada siang, bukan kepada Zahid
di mana ia adalah pelaku. Padahal siang itu tidak berpuasa yang berpuasa adalah orang yang hidup pada siang itu. Dan berdiri shalat disandarkan kepada malam. Padahal malam itu berdiri, tap yang berdiri adalah orang yang shalat pada malam itu. Jadi, pada syair ini fi’il/kata yang serupa dengannya disandarkan pada kata yang bukan tempat sandaran sebenarnya. Penyandaran majaz aqli dalam syair ini adalah waktu fi’il.
Jika kita perhatikan contoh-contoh majaz mursal dan majaz aqli di atas, kebanyakan majaz itu mengemukakan makna singkat. Seperti contoh berikut :
هَزَمَ القائِدُ الجَيشَ (komandan itu menyisihkan pasukan musuh)
Keringkasan ungkapan tersebut adalah salah satu jenis balaghoh.
Di samping itu, dalam majaz mursal ada kemahiran memilih titik singgung antara makna asli dan majazi, seperti menyebut intelijen dengan mata, menyebut telinga dengan orang yang mudah tersinggung, dan contoh lainnya. Atau dalam majaz aqli ada penyandaran sesuatu kepada sebabnya, tempat dan waktunya karena balaghoh memang mengharuskan pemilihan sebab yang kuat, tempat dan waktu yang khusus juga.
Dan jika kita perhatikan lagi, kebanyakan majaz mursal dan aqli menggunakan ungkapan yang mubalaghoh (berlebih-lebihan) dan berpengaruh, menjadikan majaz itu menarik hati. Seperti contoh berikut :
لَستُ أدرِي أهُوَ فى أنفِهِ أم أنفُهُ فِيهِ
“saya tidak tahu apakah ia yang berada di hidungnya, ataukah hidungnya yang ada pada dia”

Majas itu disebabkan oleh dua hal:
1.      Halaqah
Hubungan kesamaan antara makna asli dan makna majazi
2.      Karinah
Lafadz yang menghalangi arti dan kata asli


Dalam buku referensi penulis, disebutkan bahwa majaz mursal masuk bagian dalam majaz lughawi.
Bagian lain dari majaz lughawi adalah isti’aroh. Berikut penjelasan mengenai isti’aroh.
Penyandaran majazi adalah penyandaran kepada sebab fi’il , waktu fi’il, tempat fi’il, atau mashdarnya , atau isim mabni fa’il kepada maf’ulnya atau isim mabni maf’ul kepada fa’ilnya. 
                              Penyandaran fi’il atau yang semakna dengannya dilakukan kepada :
a.             Sebab
b.            Penisbatan kepada waktu
c.             Penisbatan kepada tempat
d.            Penisbatan kepada mashdar
e.             Mabni maf’ul disandarkan kepada isim fa’il
f.             Mabni fa’il disandarkan kepada isim maf’ul
                              Contoh : 
ü  Penisbatan kepada waktu
نهار الزاهد صائم و ليله قائم
(seorang zahid itu siangnya berpuasa, sedangkan malamnya shalat)
 Pada contoh di atas "صوم"dinisbatkan kepada siang dan shalat malam dinisbatkan pada malam. Ini juga sebenarnya penisbatan yang tidak tepat. Namun demikian, antara hal-hal tersebut terdapat ‘alaqah yaitu penisbatan kepada waktu. C. Penisbatan kepada tempat Contoh: ازدحمت شوارع القاهرة (Jalan-jalan di Kairo padat)
ü  Penyandaran fi’il kepada sebab
بنى عمروابن العاص مدينة فصطاط 
(Amr bin ‘Ash membangun kota fusthat)
Terjadi penisbatan kata kerja "بنى" kepada"عمروا بن العاص" yang bukan sebenarnya. Yang membangun kota Fusthat yang sebenarnya adalah para insinyur dan para pekerja. Namun demikian Amr Bin ‘Ash adalah orang yang memerintahkan pembangunan kota tersebut. ‘Alaqah antara musnad dan musnad ilaihnya adalah sababiyah


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}