Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » pengertian Kalam Ijaz

pengertian Kalam Ijaz

Posted by Jendela Dunia on Monday, 10 August 2015



BAB II
PEMBAHASAN
Tentang Kalam ijaz, ithnab dan musawah
تأدية المعنى بلفظ قدره # هي مساواة كسر بذكره
وبأقلّ منه إيجاز علم # وهو الى قصر وحذف ينقسم
كعن مجا لس الفسوق بعد # ولا تصاحب فاسقا فتردى
Artinya :

      “Adapun mendatangkan makna dengan ucapan yang sekedarnya (tidak bertele – tele dan singkat ) ialah musawah namanya, seperti : berjalanlah kamu serta ingat kepada allah. Dan dengan ucapan yang lebih singkat dari ukurannya, namanya ijaz. Dan ijaz itu terbagi kepada ijaz qoshor dan ijaz hadhaf, seperti : dari tempat duduk kefasikan, jauhilah ! jangan kamu menemani orang fasik,nanti rusaklah kamu “
Maksudnya susunan kalam itu terbagi tiga macam, ialah :
1.      Kalam MUSAWAH, ialah mendatangkan makna yang di kehendaki dengan menurut tujuannya, seperti : سر بذكره ولا يحيق المكر السيّءالاّ بأمله
2.      Kalam IJAZ,ialah mendatangkan makna yang di kehendaki dengan singkat, tetapi tidak mengurangi kepada maksudnya
Kalam ijaz itu terbagi menjadi 2 macam, yaitu :
a.       Ijaz qoshor, seperti :ولكم فى القصاص حيوة ياالى الآلباب
Artinya :
      “Bagi kamu itu sekalian pada qishos itu jadi kehidupan,wahai orang-orang yang berakal “
b.      Ijaz hadhaf ialah dengan membuang sebagian kalimat, seperti :واسألقرية اى اهلها
انضرب بعصاكالحجر فنفجرت, اى فضرب فنفجرت
وعكسه يعرف بلاناب # كالزم رعاكالله فرعالباب
يجىء بلايضاح بعد البس # لشوق او تمكّن فى النفس


Artinya :
“adapun sebaliknya ijaz, yaitu ithnab, seperti : tetaplah kamu, semoga allah memeliharamu, akan mengetuk pintu kehadirat allah. Datanglah ithnab itu dengan penjelasan sesudah keliru, karena rindu atau mantap di dalam jiwa.
Maksudnya :
3.      Kalam ITHNAB,yaitu mendatangkan makna dengan ucapan yang lebih banyak dari maknanya, karena ada faedahnya.
Contohnya : الزم رعا ك الله قرع الباب
Faedah atau guna ithnab ialah untuk menjelaskan samar, seperti :
هل اتك حديث الغاشية وجوه يوم مئذ خشعة
وجاء بلانعال وتّذييل # تكرير اعتراض او تكميل
يدعى بلاحتراسوتّتميم # وقفوذى التحضيض ذاتّعميم
Artinya :
Dan dating ithnab itu dengan ighol, tadsyil, takrir,i’tirodh,tahmil yang sering di sebut ihtiros,tatmim dan mengikut yang khusus kepada yang umum.
Selain tersebut di atas, ada faedah ithnab, yaitu :
1.      Ighol, ialah mengakhiri pembicaraan dengan ucapan yang berfaedah, meskipun kalam itu cukup tanpa ucapan tersebut. Seperti :
قال يقومتّبعوا المرسلين. اتّبعوا من لا يسألكم أجر وهم مهتدون

Sudah maklum bahwa المرسلون  itu مهتدون jadi dawuh مهتدون  kalam yang sudah sempurna, akan tetapi di tambah و هم مهتدون  karena supaya tambah kuat
2.      Tadsyil, ialah mengikutkan jumlah kepada jumlah lainnya, padahal jumlah yang mengikuti itu mencakup pada makna yang terkandung dalam jumlah yang di ikutinya, seperti :
وقل جاءالحق وزهق الباطل انّ الباطل كا ن زهوقا الحق هو الاسلام والباطل هوالكفر

Perbedaan antara ighol dan tadsyil ialah :
a.       Kalau ighol,tidak berarti taukid dan harus di akhir kalam
b.      Kalau tadsyil berarti taukid dan tidak harus di akhir kalam
Membuat kalam menggunakan tadsyil itu ada dua macam, yaitu :
Ø  Berlaku seperti kalam matsal ( peribasan ), yaitu apabila jumlah yang kedua dapat menghasilkan makna yang di kehendaki dengan sendirinya,tidak berhenti pada jumlah sebelumnya,seperti contoh di atas.
Ø  Tidak berlaku seperti kalam masal, yaitu apabila jumlah yang kedua berhenti pada jumlah yang pertama, di dalam olehnya memberi faedah makna yang di kehendaki, seperti :
ذالك جزيناهم بما كفرو. و هل نجازى الاّالكفور
Ø  Takrir, ialah mengu;lang ulang kalimat, seperti : كلاّ سوف تعلمون. ثمّ كلاّ سوف تعلمون

Maksudnya untuk menguatkan, menakut – nakuti atau pencegahan.

Ø  I’tirodh, ialah berpaling dari suatu kalimat jumlah ke jumlah lainnya yang ada hubungannya. Seperti : فعّال لمايريد. وعلم رعاكالله انّه لايضيع من قصده
Ø  Taknil, ialah penyempurnaan pengertian dan dis ebut ihtiros, seperti :

 أذلّة على المؤمنين أعزّة على الكافرين

Ø  Tatmim, ialah menyempurnakan kalam agar tidak menimbulkan salah tujuan, seperti :
ويطعمو ن الطّعام على حبّه مسكينا
Ø  Mengathafkan yang khusus kepada yang umum, seperti :

حافظوا على الصلواة والصّلوة الوسط

Teknik penyampaian ithnab banyak sekali, diantaranya adalah :
a. Dzikrul khash ba’dal ‘am Menyebutkan lafaz yang khusus setelah lafaz yang umum. Hal ini berfaedah untuk mengingatkan kelebihan sesuatu yang khas itu
b. Dzkrul ‘am ba’dal khas
         Menyebutkan lafaz yang umum setelah lafaz yang khusus. Hal ini berfaedah untuk   menunjukkan   keumuman    hukum  kalimat   yang  bersangkutan  dengan memberi perhatian tersendiri terhadap sesuatu yang khas itu.
c. Al-Idhah ba’dal Ibham
Menyebutkan lafaz yang jelas maknanya setelah menyebutkan lafaz yang maknanya  tidak  jelas. Hal  ini  berfaedah  mempertegas  makna  dalam perhatian pendengar.
d. Tikrar
Mengulangi penyebutan suatu lafaz. Hal ini berfaedah, seperti untuk mengetuk jiwa    pendengarnya      terhadap     makna     yang     dimaksud,  untuk    tahassur (menampakkan kesedihan), dan    untuk    menghindari    kesalahpahaman   karena banyaknya    anak   kalimat    yang   memisahkan   unsur   pokok    kalimat    yang bersangkutan.  
e. I’tiradh
Memasukkan anak kalimat ke tengah-tengah suatu kalimat atau antara dua kata yang berkaitan, dan anak kalimat tersebut tidak memiliki kedudukan dalam i’rab.

f. Tadzyiil
 (mengiringi   suatu    kalimat   dengan   kalimat   lain  yang mencakup maknanya). Hal ini berfaedah sebagai taukid. Tadzyiil itu ada dua macam :
  1. Jaarin   majral    mitsl      (berlaku    sebagai     contoh)  bila  kalimat   yang ditambahkan    itu    maknanya  mandiri, tidak membutuhkan kalimat yang pertama.
  2. Ghairu   jaarin   majral   mitsl (bila kalimat kedua itu tidak dapat lepas dari kalimat pertama).
g. Ihtiras (penjagaan) yaitu bila si pembicara menyampaikan suatu kalimat yang memungkinkan timbulnya kesalahpahaman, maka hendaklah ia tambahkan lafaz atau kalimat untuk menghindarkan kesalahpahaman tersebut.
1.Contoh
a. Allah Swt. Berfirman :
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril. (QS. Al Qadar :4)
b. Allah Swt. Berfirman :
5
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ                     
"Wahai Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku, hapuskan dosa ibu bapakku,orang yang masuk kerumahku dengan beriman dan demikian pula dosa-dosa orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan.(QS.Nuh :28)
c. Allah swt.berfirman:

وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ                                
Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.(QS.Al-Hijr :66).
d. ‘Antarah bin Syaddad berkata dalam sebagian riwayatnya yang pernah digantungkan pada ka’bah :
يَدْعُوْنَ عَنْتَرَةَ وَالرِّمَاحُ كَأَنَّهَا # أَشْطَا نُ بِئْرٍ فِي لَبَا نِ الأَدْهَمِ
يَدْعُوْنَ عَنْتَرَةَ وَالسُّيُوْفُ كَأَنَّهَا # لَمْعُ الْبَوَارِقِ فِى سَحَابٍ مُظْلِمِ
Mereka mengundang ‘Antarah, sedangkan panah-panah itu seakan-akan tambang sumur di dada kuda.
Mereka mengundang ‘Antarah, sedangkan pedang-pedang itu seakan-akan cahaya kilat di awan yang gelap.
e. An-Nabighah Al-Ja’di]berkata :
أَلاَزَعَمْتَ بَنُوْسَعْدٍ بِأَنِّى # - أَلاَكَذَ بُوْا – كَبِيْرُالسِّنِّ فَانِى
Apakah anak-anak Sa’ad tidak beranggapan bahwa saya-sebenarnya mereka bohong-adalah orang yang sudah tua dan akan musnah ?
f. Al-Huthai-ah berkata :
تَزُوْرُفَتًى يُعْطِى عَلَى الْحَمْدِ مَالَهُ # وَمَنْ يُعْطِ أَثْمَانَ الْمَحَامِدِ يُحْمَدِ
Engkau menengok seorang pemuda yang memberikan hartanya berkata pujian. Siapa orangnya yang member karena dipuji adalah orang yang terpuji.
g. Ibnu Nubatah berkata
لَمْ يُبْقِ جُوْدُكَ لِى شَيْئًا أُؤَمِّلُهُ # تَرَكْتَنِى أَصْحَبُ الدُّنْيَا بِلاَ أَمَلِ
Kemurahanmu tidak lagi menyisakan bagiku sesuatu yang dapat aku harapkan. Engkau meninggalkan aku menempuh kehidupan dunia tanpa harapan.
h. Ibnul-Mu’taz menyifati kuda :
صَبَبْنَا عَلَيْهَا – ظَالِمِيْنَ سِيَاطَنَا # فَطَارَتْ بِهَا أَيْدٍ سِرَاعٌ وَأَرْجُلُ
Kami cambukkan kepadanya cambuk-cambuk kami dengan zalim, maka melayanglah tangan dan kakinya dengan cepat.
2. Pembahasan
            Bila kita perhatikan contoh pertama, kita dapatkan bahwa lafaz “ar-Ruuh”adalah lafaz tambahan karena maknanya telah tercakup oleh lafaz sebelumnya, yaitu lafaz “al-Malaa-ikatu”.Bila kita perhatikan contoh yang kedua, juga kita dapatkan bahwa lafaz “Lii wa liwaalidayya”adalah tambahan juga karena maknanya telah tercakup pada keumuman lafaz “Al-Mu-miniin wal Mu-minaat”. Begitu juga semua lafaz contoh di atas, mencakup kata-kata tambahan, sebagaimana akan dibahas lebih lanjut, dan akan dijelaskan pula bahwa kata-kata tambahan itu tidaklah sia-sia, melainkan didatangkan dari aspek yang halus dari balaghah untuk menambah bobot kalimat yang meninggikan maknanya.Pengungkapan kalimat dengan cara demikian disebut ithnab.
            Bila kita perhatikan lagi, bahwa teknik ithnab itu bermacam-macam. Cara yang pertama pada contoh pertama adalah penyebutan lafaz yang khusus setelah lafaz yang umum (dzikrul-khash ba’dal-‘am).Dalam ayat tersebut, Allah secara khusus menyebut Ar-Ruuh,yakni Jibril, padahal ia telah tercakup dalam keumuman malaikat. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan dan penghargaan bagi Jibril, seakan-akan ia dari jenis lain. Jadi, faedah penambahan dalam ayat ini adalah untuk menghormat sesuatu yang khas.
            Pada contoh kedua adalah dengan menyebutkan lafaz yang umum setelah lafaz yang khusus (dzikrul-‘am ba’dal-khash).Dalam ayat ini Allah menyebutkan lafaz “al-mu-miniin wal mu-minaat”,yang keduanya adalah lafaz yang umum, mencakup orang-orang yang disebut pada lafaz-lafaz sebelumnya. Tujuan penambahan lafaz-lafaz tersebut adalah untuk menunjukkan ketercakupan lafaz yang khas ke dalam lafaz yang umum dengan member perhatian khusus kepada sesuatu yang khas karena disebut dua kali.
            Pada contoh ketiga adalah dengan al-idhah ba’dal ibhan (menyebutkan lafaz yang maknanya jelas setelah menyebutkan lafaz yang maknanya tidak jelas)karena firman Allah itu merupakan penjelasan dari bagi lafaz “al-amr”yang disebut sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk menambah ketegasan makna di hati pendengar dengan disebutkan dua kali, pertama secara umum, dan kedua dengan tegas.
            Cara kelima adalah dengan cara I’tiradh,yaitu dengan memasukkan satu kalimat atau lebih ke tengah-tengah suatu kalimat atau ke antara dua kata yang berhubungan. Kalimat yang ditambahkan tersebut tidak mempunyai kedudukan dalam I’rab.Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan ke-baligh-an suatu kalimat.Dalam syair An-Nabighah terletak di antara isim inna dan khabarnya, dengan maksud untuk menegaskan peringatan kepada orang yang menuduhkan telah tua.
            Cara keenam pada contoh keenam dan ketujuh adalah dengan tadzyill,yaitu mengiringi suatu kalimat dengan kalimat lain yang mengandung makna yang sama. Hal ini dimaksudkan untuk mempertegas maknanya. Sesungguhnya pada makna kedua bait syair tersebut telah selesai pada syathar pertama, namun diulas kembali pada syathar kedua. Bila kita perhatikan tadzyill pada kedua contoh tersebut, adanya perbedaan di antara keduanya. Tadzyill pada contoh pertama adalah kalimat yang maknanya mandiri, tidak terikat dengan pemahaman terhadap kalimat sebelumnya.itu dinamakan jaarin majral mitsl(berlaku sebagai contoh).Pada contoh kedua dinamakan ghairu jaarin majral mitsl(tidak dapat berlaku sebagai contoh.Pada contoh terakhir bahwa seandainya kita hilangkan lafaz zhaalimin,niscaya pendengar akan beranggapan bahwa kuda Ibnul-Mu’taz itu dungu dan berhak dipukul. Makna yang demikian tidak sesuai dengan maksud pembicara. Tambahan itu dinamakan ihtiraas






BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Adapun mendatangkan makna dengan ucapan yang sekedarnya (tidak bertele – tele dan singkat ) ialah musawah namanya, seperti : berjalanlah kamu serta ingat kepada allah. Dan dengan ucapan yang lebih singkat dari ukurannya, namanya ijaz. Dan ijaz itu terbagi kepada ijaz qoshor dan ijaz hadhaf, seperti : dari tempat duduk kefasikan, jauhilah ! jangan kamu menemani orang fasik,nanti rusaklah kamu susunan kalam itu terbagi tiga macam : Kalam MUSAWAH.Kalam Ijaz ,Kalam ITHNAB






















DAFTAR PUSTAKA

Terjemah Jauharul Maknun, Abdurrahman Al-ahdori, 2009. Mutiara ilmu. Surabaya


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}