Pengertian Istifham



.      Pengertian Istifham
Secara Etimologi الإستفهام /al- istifhāmu/ berasal dari bahasa arab yaitu
kata فهم /fahima/ yang artinya ia telah paham, ia telah tahu yang mendapat
tambahan huruf ا /alif/, س /sin/, dan ت / ta/ menjadi إستفهام / istifhāmun/ , yang
memiliki arti “minta untuk diberitahukan”. (Ali dan Muhdlor, 2003:1409)
Adapun defenisi الإستفها  /al- istifhāmu/ menurut Al-Jarim dan Amin dalam
Nurkholis dkk (2005:273) ialah mencari pengetahuan tentang
sesuatu yang
sebelumnya tidak diketahui.
Menurut pendapat Al-Hasyimi (1960:85)
الإستفهام هو طلب العلم بشئ لم يكن معلوما من قبل
             Al-̓ istifhāmu huwa alabu al-̒ ilmi bisyai’in lam yakun ma̒ lūman min qablu
Istifham adalah mengharapkan untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui
sebelumnya”. menurut Dayyab dkk (2004 : 430)
الإستفهام هو طلب العلم بشئ
Al-̓ istifhāmu huwa alabu al-̒ ilmi bisyai’in/Istifham adalah mengharapkan
untuk mengetahui sesuatu”.
Dari defenisi-defenisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang
dimaksud dengan Istifham adalah suatu ucapan yang dipergunakan untuk
menanyakan sesuatu agar si penanya mengetahuinya.
Adawat istifham itu terdiri dari sebelas kata yaitu الهمزة /al-hamzatu/
’apakah’, هل /hal/ ’apakah’, ما /mā/ ’apa’, من /man/ ’siapakah’, متى /matā/
kapankah’, كيف /kaifa/ ’bagaimanakah’, أين /a̓ina/ ’dimanakah’, أيّان /a̓̓yyāna/
kapankah’, أنىّ /’annā/ ’bagaimanakah, darimanakah’, كم /kam/’berapakah’, dan
أيّ / a̓yyun/ ’manakah, apakah’. Sedangkan klasifikasi adawat istifham itu terbagi
dua, yaitu huruf istifham dan isim istifham. (Hasyimi, 1960:85) Dan أنىّ /’annā/
termasuk salah satu dari isim istifham. Isim istifham menurut Al-Gulayayni
(2007:91)
اسم الإستفهام هو اسم مبهم يستعلم به عن شيء
Ismu al-’istifhāmu huwa ismun mubhamun yusta̒ lamu bihi ̒an syay’inIsim
istifham adalah kata yang samar maksudnya dipakai untuk mengetahui atau
mencari kejelasan tentang sesuatu”.
Istifham berfungsi sebagai kata tanya, baik menanyakan tentang sesuatu
yang berakal, atau tidak, yang lalu maupun akan datang. Istifham itu ada yang
khusus dipergunakan untuk menanyakan tempat, waktu, keadaan, bilangan, hal
yang meragukan dan yang pasti. (Nurkholis dkk, 2005:276)
Terkadang kata-kata tanya itu keluar dari makna aslinya kepada makna
lain yang dapat diketahui melalui susunan kalimat, jadi fungsi istifham disini
bukan sebagai kata tanya lagi, hal ini terjadi karena سياق الكلام /siyāqu alkalāmi/
rasa bahasa” pada kalimat yang dimasuki adawat istifham. (Al-jarim dan
Amin, 1999:218) Oleh karena itu, kalimatnya tidak memungkinkan untuk
diartikan sebagai kalimat tanya. Diantaranya yaitu menunjukkan makna النّفي /annafyu/
“meniadakan”, الإنكار /al- inkāru/ ”ingkar”, التقرير /at-taqrīru/
“penegasan”, التوبيخ /at-taubīkhu/ “celaan”, التّعظيم /at-ta̒żīmu/
”mengagungkan/membesar-besarkan”, التحقير /at-taqīru/”menghinakan”, dan lain
sebagainya. (Dayyab dkk, 2004 : 437-439)
Salah satu contoh isim istifham أنىّ /’annā/ yang keluar dari makna aslinya:
Wajī̓ a yauma̓ iżin bi jahannama yauma̓ iżin yatażakkaru al-̓ insānu wa ̓annā
lahu aż-żikrā/ “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahannam; dan pada hari itu
ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya”. (Qs.
89:23)
Istifham pada ayat di atas mempergunakan isim istifham أنىّ /’annā/. Makna
ayat di atas adalah النّفي /an-nafyu/”meniadakan, menginkari, menyangkal”
artinya, penyesalan pada saat itu tidak ada gunanya lagi. (Al-Mahalli dan As-Suyuthi, (Jilid IV) 005:2721)





B.       Adat Istifham Dan Maknanya Yang Hakiki
وأمَّا الاستفهامُ، فهوَ طَلَبُ العلْمِ بشيءٍ، وأدواتُه الهمزةُ، و(هلْ)، و(ما)، و(مَنْ)، و(متى)، و(أيَّانَ)، و(كيفَ)، و(أينَ)، و(أنَّى)، و(كمْ)، و(أيُّ).
Adapun yg dikatakan istifham (dlm ilmu ma’ani) adalah, menuntut pengetahuan tentang sesuatu Adat istifham (alat kata Tanya) berupa
1. Hamzah
2. Hal
3. Maa
4. Man
5. Mataa
6. Ayyaana
7. Kaifa
8. Aina
9. Annaa
10. Kam dan
11. Ayyu.
Adapaun adat istifham beserta maknanya yang hakiki diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Hamzah (أ)
فالهمزةُ، لطَلَبِ التصوُّرِ أو التصديقِ.
a)      Tassawur (penggambaran/konsepsi)
       yaitu gambaran tentang mufrad atau jawaban yang bersifat mufrad . Dalam hal ini hamzah langsung didiringi dengan hal yang ditanyakan dan umumnya hal yang ditanyakan ini mempunyai bandingan yang disebutkan setelah lafadz “AM”.
والتصوُّرُ: هوَ إدراكُ المفرَدِ، كقولِكَ: (أعليٌّ مسافرٌ أَمْ خالدٌ؟)، تَعتقِدُ أنَّ السفَرَ حَصَلَ منْ
 أحدِهما، ولكنْ تَطْلُبُ تعيينَه؛ ولذا يُجابُ بالتعيينِ، فيُقالُ: (عليٌّ)، مَثلًا.
       Tashowwur (penggambaran) adalah : hal mengetahui mufrad (salah-satu dari dua bagian penisbatan (musnad ataupun musnad ilaih)).
Contohnya:
أعلى مسافرام خالد؟
       Dalam contoh tersebut diyakini bahwa kepergian itu dilakukan oleh salah seorang dari mereka berdua. Namun diharapkan ketentuan dari salah satunya. Oleh karena itu, harus dikhusukan jawabannya. Lalu dikatakan “Ali “ misalnya .
b)      Tashdiq (pembenaran nisbat/konfirmasi)
      
والتصديقُ: هوَ إدراكُ النِّسبةِ، نحوُ: (أسافَرَ عليٌّ)؟ تَستفْهِمُ عنْ حصولِ السفَرِ وعدَمِه. ولذا يُجابُ بـ (نعم) أوْ (لا).
          Tashdiq (pembenaran) adalah : hal mengetahui nisbat. contoh: “A SAAFARO ALIY?” “Apakah ALI PERGI?” (menanyakan nisbat/hukum perginya Ali). Menuntut pengetahuan tentang terjadinya pergi atau tidak, oleh karena itu dijawab “NA’AM=iya” atau “LAA= tidak”
والمسؤولُ عنه في التصوُّرِ ما يَلِي الهمزةَ، ويكونُ لهُ معادِلٌ يُذْكَرُ بعدَ (أمْ)، وتُسَمَّى متَّصِلَةً.
Suatu yang dipertanyakan (dg adat istifham hamzah) dalam hal tashowwur yaitu lafazh yang mengiringi hamzah, kemudian ada lafazh Mu’adil (pertimbangan) yang disebut setelah أم (AM=ataukah) dan dinamakan AM MUTTASHILAH.
فتقولُ في الاستفهامِ عن المسْنَدِ إليه: (أَأَنْتَ فعلْتَ هذا أَمْ يُوسفُ؟(
Contoh dalam istifham tentang musnad ilaih:
أَأَنْتَ فعلْتَ هذا أَمْ يُوسفُ؟
“apakah KAMU yg mengerjakan ini ataukah YUSUF?
وعن المسْنَدِ: (أَرَاغِبٌ أنتَ عن الأمْرِ أَمْ راغبٌ فيه؟(
Contoh istifham tentang musnad:
أَرَاغِبٌ أنتَ عن الأمْرِ أَمْ راغبٌ فيه؟
“apakah KAMU MEMBENCI perkara itu, ataukah KAMU MENYUKAI-nya?”
وعن المفعولِ: (أَإِيَّايَ تَقْصِدُ أَمْ خالدًا؟(
Contoh istifham tentang maf’ul:
أَإِيَّايَ تَقْصِدُ أَمْ خالدًا؟
“Apakah KEPADAKU kamu bermaksud, ataukah KEPADA KHOLID?”
وعن الحالِ: (أراكبًا جئتَ أَمْ ماشيًا؟)                                                  
Contoh istifham tentang haal
أراكبًا جئتَ أَمْ ماشيًا؟))
     “apakah BERKENDARAAN kamu datang, ataukah JALAN KAKI?”
وعن الظرْفِ: (أيومَ الخميسِ قَدِمْتَ أَمْ يومَ الجمُعَةِ(
Contoh istifham untuk zhorof (waktu/tempat)
A YAUMUL-KHOMIISI QADIMTA AM YAUMAL-JUM’ATI? = apakah HARI KAMIS kamu datang, ataukah HARI JUM’AT? Demikian juga untuk ta’alluq2 istifham yg lain. (misal jar-majrur, maf’ul mutlaq, liajlih dan sebaginya disebut dalam kitab yg lebih detil).
.وقدْ لا يُذْكَرُ المعادِلُ، نحوُ: (أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا؟)، (أَرَاغِبٌ أنتَ عن الأمْرِ؟)، (أإيَّايَ تَقْصِدُ؟)، (أراكبًا جئتَ؟)، (أيومَ الخميسِ قَدِمْتَ؟(
Terkadang tidak menyebut Mu’adil (tapi tetap disebut IDROK TASHOWUR bukan IDROK TASHDIQ dengan mengira-ngira ada mu’adil sebagaimana contoh tersebut diatas).
Contoh :
A ANTA FA’ALTA HADZA? = apakah KAMU yg mengerjakan ini?
A ROOGHIBUN ANTA ‘ANIL-AMRI? = apakah kamu MEMBENCI perkara itu?
A IYYAAYA TAQSHIDU? = apakah KEPADAKU maksudmu?
A ROOKIBAN ANTA? = apakah BERKENDARA kamu datang?
A YAUMAL-KHOMIISI QODIMTA? = apakah DI HARI KAMIS kamu datang?
والمسؤولُ عنه في التصديقِ النِّسبةُ. ولا يكونُ لها معادِلٌ، فإنْ جاءتْ (أمْ) بعدَها قُدِّرتْ منْقَطِعَةً، وتكونُ بمعنى (بلْ).
       Hal yg ditanyakan di dalam tashdiq yaitu nisbat, dan tidak ada Mu’aadil. Apabila terdapat أم (am) setelahnya, maka diakdir sebagai AM MUNQOTI’ (Am Munfashilah) dan mempunyai arit BAL = Bahkan
2. Hal ((هل؟ 
و (هلْ) لطلَبِ التصديقِ فقطْ، نحوُ: (هلْ جاءَ صديقُكَ)؟ والجوابُ: (نعم) أوْ (لا) ولذا يَمتَنِعُ معها ذِكْرُ المعادِلِ، فلا يُقالُ: (هلْ جاءَ صديقُك أمْ عدوُّك؟(
Berfungsi untuk menuntut TASHDIQ saja.
Contoh:
HAL JAA-A SHODIIQUKA? = apakah temanmu telah datang? dan sebagai jawabannya adalah : NA’AM atau LAA.
Oleh karenanya dilarang menyebut Mu’aadil, maka jangan mengatakan :
HAL JAA-A AHODIIQUKA AM ‘ADUWWUKA?
و (هل) تُسمَّى بسيطةً إن استُفْهِمَ بها عنْ وجودِ شيءٍ في نفسِه، نحوُ: (هَلِ العَنْقَاءُ موجودةٌ؟). ومركَّبةً إن استُفْهِمَ بها عنْ وجودِ شيءٍ لشيءٍ، نحوُ: (هلْ تَبِيضُ العَنْقَاءُ وتُفْرِخُ؟)
          HAL dinamakan Basithah jika dipakai untuk mempertanyakan adanya sesuatu dalam zatnya. Contoh HAL AL-’UNQO-U MAUJUUDUN? = apakah BURUNG UNQA’ itu ada? (burung mitos berkepala dan bersayap seperti garuda dan berbadan spt singa). Dan dinamakan Murokkab jika dipakai untuk mempertanyakan adanya sesuatu didalam sesuatu. Contoh. HA TABYADHDHU AL-UNQO’ WA TUFRIKHU? = apakah BURUNG UNQA’ itu BERTELUR DAN MENETAS? (disebut murokkab sbb mempertanyakan keberadaan burung unqa’ tentang bertelur dan menetas).
       Hal hanya digunakan untuk menghendaki tashdiq saja artinya untuk mengetahui terjadi atau tidaknya nisbat atau tidak boleh menyebut bandingan perkara yang ditanyakan dengan hal .
Contoh: هل جاء الامير؟ (apakah raja telah datang?)
       Untuk menjawab istifham tersebut adalah dengan perkataan “ YA” atau “TIDAK” ( نعم او لا). Istifham itu ada 2 macam yaitu: Bashitah, bila untuk menanyakan wujud atau tidaknya sesuatu.
Contohnya: هل الانسان الكامل موجود؟ (apakah manusia sempurna itu ada?)
       Murakkabah, bila untuk menanyakan keberadaaan sesuatu pada sesuatu.
Contohnya:
 هل النبات حشاس؟ (apakah tumbuh-tumbuhan itu memiliki kepekaan?)
       Sedangkan Istifham hal itu tidak boleh masuk pada :

a.       lafadz yang didahului naïf, jadi tidak boleh diucapkan.
هل لم يفهم علي؟ (Apakah ali tidak faham?)
b. Fi’il mudhari’ yang menunjukkan zaman yang sedang berjalan, jadi tidak boleh diucapkan.
هل تحتقرعليا وهو شجاع؟ (Apakah engkau meremehkan ali, padahal dia pemberani? )
c. Lafadz inna, jadi tidak boleh diucapkan.
هل ان الامير مسافر؟ (Apakah raja itu benar-benar pergi?)
d. Perabot syarat, jadi tidak boleh diucapkan.
هل اذازرتك تكرمنى؟ (Apakah bila aku mengunjungimu, maka engkau memuliakan aku?)
e. Huruf athaf, jadi tidak boleh diucapkan:
هل فيتقدم او هل ثم يتقد م؟ (Apakah kemudian ia didahulukan, atau apakah selanjutnya ia didahulukan?)
f. Isim yang sesudahnya terdapat fi’il, jadi tidak boleh diucapkan:
 هل بشرامنا واحدا انتبعه؟ (Apakah pada manusia dari kita yang hanya seorang kita mengikutinya?)
3.      Man (من)
yaitu Untuk menanyakan makhluk yang berakal .
و (مَن) يُطلَبُ بها تَعيينُ العُقلاءِ، كقولِك: (مَنْ فَتَحَ مِصْرَ؟)
       Menuntut menentukan suatu yang berakal, contoh: MAN FATAHA MISHRO? Siapa yg menaklukkan Mesir? (jawab: Amr bin ‘Ash)
Contohnya: siapa ini ?                             من هذا؟
4. Maa (ما ) yaitu untuk menanyakan sesuatu yang tidak berakal.
Contohnya:  Berlebihan itu?
 مالاسراف؟
و(ما) يُطْلَبُ بها شرحُ الاسمِ، نحوَ: ما العَسْجَدُ أو اللُّجَيْنُ؟ أوْ حقيقةُ الْمُسمَّى، نحوُ: (ما الإنسانُ؟) أوْ حالُ المذكورِ معها، كقولِك لقادِمٍ عليك: (ما أنتَ؟)
       Digunakan untuk mempertanyakan keterangan/penjelasan suatu nama. Contoh:
MAA AL’ASJAD AW LAJAIN? = apa itu asjad? atau lajain? (asjad=emas, lajain=perak). Atau mempertanyakan hakikat sesuatu yg diberi nama. Contoh: MAA AL-INSAN? Apa itu manusia? Atau mempertanyakan hal-ihwal lafal yg disebut bersama MAA. Contoh kamu berkata pada orang yg datang padamu: MAA ANTA? = siapa kamu? (jawab: Tamu, atau Utusan Raja).
5. Mata (متى) yaitu untuk menanyakan keterangan waktu, baik yang lalu maupun yang akan datang. Contohnya:
متى يعود المسافرون؟ (Kapankah para musafir itu kembali?)                               
و(متى) يُطْلَبُ بها تَعيينُ الزمانِ، ماضيًا كانَ أوْ مستَقْبلًا، نحوُ: (متى جِئْتَ؟) و(متى تَذْهَبُ؟)
       Menuntut menentukan zaman baik madhi (telah lewat) atau istiqbal (akan datang). Contoh: MATAA JI’TA? Kapan kamu datang? MATAA TADZHABU? Kapan kamu akan pergi?
6. Ayyaana (ايان) yaitu untuk menanyakan keterangan waktu yang akan dating secara khusus, tetapi merupakan masa yang mengejutkan dan dikategorikan bersejarah, bukan masa yang lain. Contohnya:
يسأل أيان يوم القيامة (Ia bertanya, kapankah hari kiamat itu terjadi?)
و(أيَّانَ) يُطْلَبُ بها تَعيينُ الزمانِ المستَقْبَلِ خاصَّةً، وتكونُ في موضِعِ التهويلِ، كقولِه تعالى: {يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ}؟
       Menuntut menentukan zaman istiqbal secara khusus, dan digunakan suatu yg luar biasa. Contoh Firman Allah: YAS’ALU AYYAANA YAUMUL QIYAAMATI? = ia bertanya bilakah hari kiamat?
      7. Kaifa (كيف) yaitu untuk menanyakan keterangan keadaan .
و(كيفَ) يُطْلَبُ بها تعيينُ الحاِل، نحوُ: (كيفَ أنتَ)
       Menuntut menentukan hal keadaan. Contoh: KAIFA ANTA? Bagaimana keadaan kamu?
 Contohnya:
 فكيف اذاجئنا من كل امة بشهيد (Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti, apabila kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat.
8. Aina (أين ) yaitu Untuk menayakan keterangan tempat.
Contohnya;
 أين الطبيب؟ (dimanakah dokter itu?)
و(أينَ) يُطْلَبُ بها تعيينُ المكانِ، نحوُ: (أينَ تَذْهَبُ؟(
       Menuntut menentukan tempat. Contoh: AINA TADZHABU? = kemana kamu pergi?
      9. Anna ( انى) mempunyai 3 makna, bagaimana, darimana, dan kapan.
Contohnya:
 يا مريم, انى لك هذا
 (Hai maryam, bagaimankah kamu memperoleh makanan ini?)
 
زرنى انى شئت (Kunjungilah saya, kapan saja anda menginginkan? )
انى يحيى هذه الله بعد موتها (Bagaimana Allah menghidupkan ini setelah mati?)
و(أنَّى) تكونُ بمعنى (كيفَ)، نحوُ: {أَنَّى يُحْيِـي هَـذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا}؟ وبمعنى (مِنْ أينَ)، نحوَ: {يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا}؟ وبمعنى (متى)، نحوُ: (زِدْ أنَّى شئتَ؟(
1. Sama dengan ma’na KAIFA. Contoh : ANNAA YUHYII HADZIHI ALLAAHU BA’DA    MAUTIHAA? Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?
2. sama dengan ma’na MIN AINA. Contoh: YAA MARYAMU ANNAA LAKI HADZAA? Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini? 3. Sama dengan ma’na MATAA. Contoh: ZID ANNAA SYI’TA? Tambahkan kapankah kamu suka?.
10. Kam ( كم) untuk menanyakan keterangan jumlah.
Contoh: كم لبثتم؟ (sudah berapa lamakah kamu berada disini?)
و(كمْ) يُطلَبُ بها تَعيينُ عددٍ مبْهَمٍ نحوُ:{كَمْ لَبِثْتُمْ}؟
       Menuntut untuk menentukan jumlah/hitungan yg samar. Contoh:
KAM LABITSTUM? Berapa lama kalian tinggal?
      11. Ayyun (أي ) untuk menanyakan dan menghendaki perbedaan antara salah satu dua hal yang berserikat dalam satu urusan yang meliputinya.
       Contohnya: ؟اى الفرقين خير مقاما (Manakah diantara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya?) Istifham ayyun juga untuk menanyakan tentang masa, tempat, keadaan,bilangan, jumlah, makhluk berakal, makhluk yang tidak berakal sesuai dengan lafadz yang disandarinya .
        و(أيُّ) يُطْلَبُ بها تمييزُ أحَدِ المتشاركيْنِ في أمْرٍ يَعمُّهما، نحوُ: {أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا}؟
ويُسأَلُ بها عن الزمانِ والمكانِ والحالِ والعددِ والعاقلِ وغيرِه، حسَبَ ما تُضَافُ إليه.
Menuntut untuk membedakan satu dari dua kemungkinan didalam perkara yg mengumumi pada keduanya. Contoh: AYYU-LFARIIQOINI KHOIRUN MAQOOMAN? Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya?


C.       Adat Istifham dan maknanya yang ghairu hakiki

1.      MAKNA-MAKNA BENTUK ISTIFHAM
وقدْ تَخْرُجُ ألفاظُ الاستفهامِ عنْ معناها الأصليِّ لمعانٍ أُخَرَ تُفْهَمُ منْ سياقِ الكلامِ
Terkadang lafadz-lafadz istifham itu keluar dari maknanya yang asli. Jadi, terkadang kala untuk menanyakan tentang sesuatu tetapi telah diketahui, namun karena tujuan-tujuan yang bisa dimengerti dari susunan kalimat dan segi penunjukkan maknanya, diantaranya:
      1. Amar (Perintah )
والأمْرِ، نحوُ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ، ونحوُ أَأَسْلَمْتُمْ، بمعنى: انتَهُوا، وأَسْلِمُوا.
“FA HAL ANTUM MUNTAHUUNA”, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). A ASLAMTUM Masuk Islam-lah kamu. Bermakna INTAHUU = berhentilah. Dan ASLIMUU = masuk islam-lah
Contoh :
(فهل انتم منتهنون  )
 artinya: maka berhentilah kamu ( dari mengerjakan pekerjaan itu)! ( Al maidah: 91)
      2. Nahi (Larangan )
            Contoh:
 (اتخشونهم فالله احق ان تخشوه  )
 Artinya : janganlah kamu takut kepada mereka, karena allahlah yang berhak kamu takuti ( At taubah:13)
      3. Taswiyah (untuk mempersamakan )
كالتسويةِ، نحوُ سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ
“sama saja bagi mereka kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka juga akan beriman.” ( al baqarah: 6)
      4. Nafi’( Meniadakan)
والنفيِ، نحوُ هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلاَّ الْإِحْسَانُ
tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan juga ( ar rahman: 60).”
5. Ingkar
والإنكارِ، نحوُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ، أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah?, Apakah Allah tidak cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.”
Contohnya:
 (أغير الله تدعون  ) Apakah kamu menyeru selain Allah?
      6. Tasywiiq (untuk merindukan )
والتشويقِ، نحوُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“sukakah kamu aku tunjukkan seuatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang snagat pedih?” (ash shaff: 100)
      7. Isti’nas ( Untuk menyenangkan hati)
contohnya:
(وما تلك بيمينك يا موسى  ) apakah itu yang ditangan kanan nabi musa? (Thaha: 17)
      8. Taqrir ( Menetapkan)
contohnya:                                                                                                   
  الم نشرح لك صدرك
“bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (Al insyirah: I)
9. Tahwil ( mengejutkan atau mnakjubkan)
القارعة, ماالقارعة, وماادرىك ماالقاعة.

hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apa hari kiamat itu? ( al haaqah: 1-3)
      10. Istib’ad ( menganggap jauh)
       Contoh:
انى لهماالذكرى وقدجاءهم رسول مبين.
bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi peringatan? ( ad dukhon: 13)
      11. Ta’dhim ( mengagungkan)
والتعظيمِ، نحوُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
Gerangan siapa yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya”  
      12. Tahqiir ( menghina)
والتحقيرِ، نحوُ أَهَذَا الذي مَدَحْتَهُ كثيرًا
“Cuma segini kau bilang banyak
13. Ta’ajub ( merasa kagum)
وقالومال هذاالرسول يأكل الطعا م يمشي فى الاسواق, لوالاانزلاليه ملك فيكون معه نذيرا

  Mengapa rasul ini memakan makanan dan bejalan dipasar-pasar ( al furqan: 7)”
      14. Tahakum ( mengejek atau mengolok-olok)
اعقلك يسوغ لك ان تفعل كذا؟ apakah akalmu membolehkan engkau berbuat demikian?
      15. Qa’iid ( ancaman)
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana tuhanmu berbuat kaum aad?
      16. Istibtha’
“Bilakah datangnya pertolongan Allah. (Al baqarah: 214)”
17. Tanbih ala khata’ (meningkatkan terhadap kekliruan )
maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ( al baqarah: 61)
18. Tanbih ala bathil ( meningkatkan terhadap keburukan)
افانت تسمع الصم اوتهدى العمي ومن كان في ضلل مبين
       maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang tuli dapat mendengar atau dapatkah kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta hatinya? (az zukhruf: 40)
19. Tanbih ala dalali thariq ( meningkatkan terhadap sesatnya jalan)
فاين تذهبوت maka kemanakah kamu akan pergi?  ( at takwiir: 26)
20.taksir (memperbanyak)
صاح هذه قبورنا تملاء الرحد # ب فأين القبور من عهد عاد
Hai temanku, inilah kubur-kubur kami, yang menemui tempat yang lapang, maka dimanakah kubur-kubur yang lain sejak masa kaum Aad.
ADAWAT AL-ISTIFHAM (Kata Tanya)

Di bawah ini dicantumkan sejumlah Kata Tanya dengan contohnya masing-masing dalam kalimat beserta contoh jawabannya:
Kata Tanya
Contoh Kalimat Tanya
Contoh Jawaban
هَلْ / أَ
هَلْ أََنْتَ مَرِيْضٌ ؟
لاَ، أَنَا فِيْ صِحَّةٍ
(=apakah)
(=apakah engkau sakit?)
(=tidak, saya sehat)
مَاذَا / مَا
مَاذَا تَكْتُبُ ؟
أَكْتُبُ رِسَالَةً
(=apa)
(=apa yang kau tulis?)
(=aku menulis surat)
مَنْ ذَا / مَنْ
مَنْ كَتَبَ هَذَا ؟
أَحْمَدُ كَتَبَ هَذَا
(=siapa)
(=siapa yang menulis ini?)
(=Ahmad yang menulis ini)
أَيَّةُ / أَيُّ
أَيُّ قَلَمٍ تُحِبُّ ؟
أُحِبُّ قَلَمَ اْلأَسْوَدِ
(=yang mana)
(=pena yang mana kau suka?)
(=aku suka pena yang hitam)
مَتَى
مَتَى تَذْهَبُ ؟
أَذْهَبُ غَدًا
(=kapan)
(=kapan engkau pergi?)
(=aku pergi besok)
أَيْنَ
أَيْنَ تَذْهَبُ ؟
أَذْهَبُ إِلَى الْقَرْيَةِ
(=dimana)
(=dimana engkau pergi?)
(=aku pergi ke kampung)
كَيْفَ
كَيْفَ تَذْهَبُ ؟
أَذْهَبُ بِالْحَافِلَةِ
(=bagaimana)
(=bagaimana engkau pergi?)
(=aku pergi dengan bus)
كَمْ
كَمْ يَوْمًا تَذْهَبُ ؟
أَذْهَبُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ
(=berapa)
(=berapa hari engkau pergi?)
(=aku pergi selama tiga hari)
لِمَاذَا / لِمَا
لِمَاذَا تَأَخَّرْتَ ؟
الطَّرِيْقُ مُزْدَحِمَةٌ
(=mengapa)
(=mengapa kau terlambat?)
(=jalanan macet)
لِمَ
لِمَ سَأَلْتَ ذَلِكَ ؟
حَقِيْقَةً لاَ أَفْهَمُ
(=kenapa)
(=kenapa kau bertanya itu?)
(=sungguh aku tidak paham)
لِمَنْ
لِمَنْ هَذَا الْقَلَمُ ؟
هَذَا قَلَمُ أَحْمَدِ
(=punya siapa)
(=kepunyaan siapa pena ini?)
(=ini pena Ahmad)


BAB III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
Istilah adalah bentuk kalimat yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang sesuatu masalah, yang belum diketahui sebelumnya.
Adawat istifham itu terdiri dari sebelas kata yaitu الهمزة /al-hamzatu/
’apakah’, هل /hal/ ’apakah’, ما /mā/ ’apa’, من /man/ ’siapakah’, متى /matā/
kapankah’, كيف /kaifa/ ’bagaimanakah’, أين /a̓ina/ ’dimanakah’, أيّان /a̓̓yyāna/
kapankah’, أنىّ /’annā/ ’bagaimanakah, darimanakah’, كم /kam/’berapakah’, dan
أيّ / a̓yyun/ ’manakah, apakah’. Sedangkan klasifikasi adawat istifham itu terbagi
dua, yaitu huruf istifham dan isim istifham. (Hasyimi, 1960:85) Dan أنىّ /’annā/
termasuk salah satu dari isim istifham. Isim istifham menurut Al-Gulayayni
(2007:91)
اسم الإستفهام هو اسم مبهم يستعلم به عن شيء
/Ismu al-’istifhāmu huwa ismun mubhamun yusta̒ lamu bihi ̒an syay’in/Isim
istifham adalah kata yang samar maksudnya dipakai untuk mengetahui atau
mencari kejelasan tentang sesuatu”.
Istifham berfungsi sebagai kata tanya, baik menanyakan tentang sesuatu
yang berakal, atau tidak, yang lalu maupun akan datang. Istifham itu ada yang
khusus dipergunakan untuk menanyakan tempat, waktu, keadaan, bilangan, hal
yang meragukan dan yang pasti.
Terkadang kata-kata tanya itu keluar dari makna aslinya kepada makna
lain yang dapat diketahui melalui susunan kalimat, jadi fungsi istifham disini
bukan sebagai kata tanya lagi, hal ini terjadi karena سياق الكلام /siyāqu alkalāmi/
rasa bahasa” pada kalimat yang dimasuki adawat istifham. (Al-jarim dan
Amin, 1999:218) Oleh karena itu, kalimatnya tidak memungkinkan untuk
diartikan sebagai kalimat tanya. Diantaranya yaitu menunjukkan makna النّفي /annafyu/
“meniadakan”, الإنكار /al- inkāru/ ”ingkar”, التقرير /at-taqrīru/
“penegasan”, التوبيخ /at-taubīkhu/ “celaan”, التّعظيم /at-ta̒żīmu/
”mengagungkan/membesar-besarkan”, التحقير /at-taqīru/”menghinakan”, dan lain
sebagainya
Akhirnya, semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang senantiasa berada di jalan Allah, sehingga kita mendapat keridhaannya. Amiin.

3.2.  SARAN
Setelah melakukan penyusunan makalah yang bertema “Istifham serta adatnya ”, maka kami mencoba mengemukakan beberapa saran, yaitu :
·           Dapat memotivasi siswa dalam belajar bahasa Arab
·           Semoga pembaca dapat mempelajari makalah yang telah dibuat dan mengerti isi serta ruang lingkupnya sehingga dapat mengambil pelajaran
·           dapat mengkaji dengan baik dan dapat melengkapi kekurangan makalah yang ini



*      Said Fuad. Pengantar Sastra Arab. Pustaka Babussalam Medan, 1984.
*      Syekh syamsuddin muhaammad arra’ini, mutammimah ajjuurumiah, Surabaya, al-hidayah. 1423h
*      Abdul khahar jurjani, matan al jurmiyah, Surabaya, al-hidayah.
*      Ibn Manzur, Lisan al-arab, Bairut: Dar ihya al-Turas al-‘Arabi, 1999.
*      Al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, Kairo: Dar al-Turasy, 1984.
*      Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’anIBeirut: Dar al- Fikr, t.th

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to " Pengertian Istifham"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel