Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » , » Mabahits Ilmu Mantiq

Mabahits Ilmu Mantiq

Posted by Jendela Dunia on Friday, 14 August 2015



A.    MABAHITS ILMU AL-MANTIQ
1.      Pengertian Mabahits Ilmu Al-Mantiq
Pengertian Mabahits Ilmu Al-Mantiq adalah beberapa materi yang dibahas dalam ilmu mantiq. Pada dasarnya, pembahasan Ilmu Mantiq jika dilihat dari arti mantiq itu sendiri tidak mempunyai patokan pembahasan kecuali retorika-retorika makna dalam memahami makna sebuah ungkapan. Diantaranya, qoul syarih,
hujjah dan tatacara peletakan hujjah. Padahal,untuk memahami ungkapan tidak harus dengan sebuah lafadz, akan tetapi makna itu sendiri. Namun, karena segala percakapan itu mayoritas dengan ungkapan tatabahasa maka ahli mantiqpun ahirnya membagi pembahasan mantiq ini dengan sub bab tertentu supaya mudah untuk memahami ilmu mantiq.
2.      Pembagian Pembahasan Ilmu Mantiq
Oleh karena pembahasan ilmu mantiq adalah beberapa pemahaman dan pemahaman itu sangat erat kaitanya dengan lafadz, maka pembahasan Ilmu Mantiq bisa diklarifikasi pada Qoul Syarih, Hujjah dan tatacara peletakan hujjah
a.       Qoul Syarih          
Qoul Syarih adalah kata atau ungkapan yang jelas. Berangkat dari konsep tasawur, Ilmu Mantiq membuat istilah qoul syareh untuk segala sesuatu yang mendatangkan pada tasawur. Artinya sebuah ungkapan yang tidak menisbahkan dengan sifat atau sesuatu lain. Seperti ketika kita mendengar orang bilang "gunung". Secara otomatis ada persepsi dalam otak perihal pengertian gunung.
b.       Hujjah
Hujjah adalah ungkapan yang mendatangkan pada tasdiiq, atau lebih dekenal dengan argumentasi atau konsep pemikiran ketika mendengar sebuah perkataan. Jadi, ketika kita mendengar ungkapan "Bahrudin buruk", maka akan secara otomatis terkonsep dalam benak kita akan keburukan-keburukan Bahrudin dari segi ahlaq atau dari segi fisik.



c.       Cara mendatangkan makna
cara mendatangkan makna yang berurutan agar mudah difahami adalah cara kita untuk mendatangkan makna, agar sesuai dengan yang kita kehendaki guna memahamkan pendengar atau mukhotob

B.     MABAHITS AL-ALFADZ
Mabahits (مباحث) adalah bentuk jamak dari kata mufror mabhastun (مبحث) yang berupa isim makan (lafadz yang menunjukkan arti tempat) dengan arti tempat pembahasan. Mabahitsul alfaadz (مباحث الألفاظ) ilmu mantiq adalah beberapa tempat penelitian lafad-lafadz yang dibahas dalam ilmu mantiq, dari segi lafadz itu sendiri, baik berupa lafadz yang bersusun, lafad yang berdiri sendiri atau lafadzd yang menunjukkan makna ganda.
Adapun lafadz (kata/suar yang mengndung sebagian abjad) itu sendiri, dibagi menjadi dua yaitu :
1.      Lafadz muhmal artinya lafadz, kata-kata yang tidak menunjukan arti, seperti takarja, Daiz, cocot dan lain-lain.
2.      Lafadz musta’mal yaitu lafadz, kata-kata yang menunjukkan arti, seperti jakarta, Zaid, nonton dan lain-lain.  (Cholil Bisyri Mustofa, 2000:19 )
Kemudian Lafadz musta’mal dibagi lagi menjadi dua :
a.      Lafadz Mufrod
Pengertian lafadz mufrod
هوما ليس له جزء يدلّ دلالة مقصود ة على جزء العنى المراد منه
kata yang tidak mempunyai bagian yang tidak menunjukkan kepada penunjukan yang dimaksud oleh bagian makna yang tidak dikehendakinya” (syukriadi sambas, 2009 :46)
Lafadz mufrod adalah lawan dari murokab. Artinya, sebagian dari kata itu tidak menunjukkan bagian dari makna itu sendiri. Jadi, walaupun kata itu berupa susunan atau rangkaian beberapa kata, bila bagian katanya tidak menunujukkan makna rangkaian tersebut disebut kata mufrod. Misalnya kata "motor", maknanya adalah alat transportasi. Kata "mo" tidak mempunyai makna sendiri, dan kata "tor" juga tidak menunjukkan arti sendiri.


Lafadz mufrod dibagi menjadi dua. Yakni, lafad mufrod juz'i (جُزْئِيٌّ) dan lafad mufrod kully (كُلِّيٌّ).

ü  Lafad Mufrod Juz'I (جُزْئِيٌّ)
Lafad mufrod juz'I adalah lafadz mufrod yang tidak mungkin mencangkup beberapa unit. Tegasnya, lafadz ini hanya mempunyai satu makna. Seperti kata "muzaki" (nama salah satu mahasiswa usuludin) ini tidaklah bisa diartikan unit lain kecuali muzaki itu sendiri. Hal ini terbukti ketika ada salah satu mahasiswa (teman muzaki) menyuruh temannya (alex) untuk memanggilkan muzaki kedalam kelas "lex, panggilkan muzaki dan ajak dia kesini". Kemudian alex masuk ke dalam kelas tidak bersama muzaki melainkan membawa HPnya muzaki. Padahal keduanya sama-sama kenal dengan muzaki. Dari sini, alex haruslah disalahkan. Sebab kata "muzaki" tidak berarti lain diri muzaki itu sendiri , serta tidak bisa diartikan bagian dari muzaki
ü  Lafad Mufrod Kully (كُلِّيٌّ)
Lafad Mufrod Kully adalah kebalikan dari lafad mufrod juz'i. Yakni lafadz mufrod yang dapat mencangkup beberapa unir arti yang menyatu. Artinya, jika lafad ini dipikirkan lebih jauh, akan muncul beberapa unit atau cabangan yang bermakna didalamnya. Seperti kata motor, padi, rokok dan lain-lain
Kata "rokok" ini bila kita fikirkan lebih dalam, pasti muncul cabangan dari rokok itu yang tidak bisa terhindarkan. Karena "rokok" ini ada berupa rokok kretek, rokok filter dan lain sebagainya. Hal ini terbukti, tatakala muzaki membeli rokok di Alfamart, "Mas, saya beli rokok". Secara otomatis, petugas Alfamart balik bertanya "Rokoknya apa mas? Rokok Filter atau  kretek". Dan pertanyaan petugas seperti ini tidaklah bisa disalahkan. Sebab kata "rokok" ini adalah lafadz mufrod yang masih banyak kemungkinan unitnya.
(Cholil Bisyri Mustofa, 2000:21)



b.      Lafazh Murakkab
Pengertian lafadz murokab
هو ما يدلّ جزؤه دلالة مقصودة على جزء المعنى المقصود
“kata yang bagiannya menunjukan arti yang dimaksud oleh bagian yang terkandung dalam bagian tersebut”
(syukardi sambas, 2009:46)
Lafadz murokab terbagi menjadi dua macam :
a.       Lafadz murokab Tam
ما افا د فائدة يحسن السّكوت عليها
“suatu kalimat yang berfaedah, sehingga pendengar diam, karena mengerti maksudnya.” (Syukardi Sambas, 2009:50)
Contohnya : (muhammad rasulullah)
b.      Lafadz murokab naqish
ما لا يفيد فائدة يحسن السّكوت عليها
“ suatu kalimat yang maknanya tidak sempurna, sehingga pendengar tidak mengerti maksudnya.” . (syukardi sambas, 2009:50)
 Selanjutnya, murokkab Tam terbagi lagi menjadi dua macam, yaitu :
1.      Murakkab Khabari, kalimat berita, atau Qadhiyah adalah setiap kalimat yang isi maknanya mengandung kemungkinan benar dan salah.  (mengandung keraguan).
Contoh : Si ali lulus ujian
2.      Murakkab Insya’i, adalah setiap kalimat yang isinya tidak mengandung kemungkinan benar dan salah.
Murokab insya’i ini seperti kata perintah (al-kalimat al-amr), kata larangan (al-kalimat al-nahy), kata tanya (al-kalimat al-istifham), dan kata seru (al-kalimat al-nida). Murokkab insya’i ini tida menjadi objek mantik. (syukardi Sambas, 2009:51)







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan                                                   

Pada dasrnya, materi yang ada di dalam pembahsan ilmu mantiq bukan lah tata bahasa, akan tetapi makna-makna yang terkandung dari sebuah ucapan. Makna dari ucapan itu akan dicerna dalam otak untuk membantu memahami hakikat yang sebenarnya. Jadi, ilmu mantiq untuk membentengi sekaligus manjaga dari pemahaman yang salah. Karena memahami sebuah ucapan, dan ucapan sangatlah bermacam-macam model.
























DAFTAR PUSTAKA


Ø  As-Syina'ani, Muhammad Bin Isma'il.  1986. Ijabatu Al-Sa'il Syarh. Bughyah,. Bairut: Mu'assisatu Ar-Risalah
Ø  Sambas, Syukriadi. 2009. Mantik kaidah berfikir islami, Bandung : Remaja Rosdakarya
Ø  Mustofa, Cholil bisyri. 2000. Ilmu Mantik, Bandung : PT Al-ma’arif
http://pondokngunut.blogspot.com/2013/10/ilmu-mantiq-lafad-kulli_3.html


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}