Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » makalah bimbingan konseling

makalah bimbingan konseling

Posted by Jendela Dunia on Thursday, 6 August 2015




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Fisik Pada Anak-Anak Awal (2-6 Tahun).

Pada masa anak-anak awal,  pertumuhan fisiknya tidak secepat masa bayi atau sebelumnya. Ada kemajuan dalam perkembangan otot, sistem saraf, dan koordinasi motoriknya sehingga anak dapat melakukan berbagai kegiatan yang lebih tinggi tingkatannya, yang selanjutnya akan meningkatkan kognitif, sosial dan emosinya.
Berikut ini dijelaskan perkembangan fisik pada masa anak awal secara lebih terperinci (Hurlock, 1980; Monks dkk., 2001; Papalia dkk., 2002; Santrock, 2007).
1.      Tinggi dan Berat Badan.
Pertambahan tinggi pada masa anak-anak rata-rata 2,5 inci setiap tahun dan berat badan bertambah 5-7 pon pertahun; dan anak perempuan sedikit lebih pendek dan ringan dari pada anak laki-laki. Tinggi badan seseorang sangat bergantung pada asal usul etnis/ras, faktor gizi dan kesehatan, jenis kelamin dan perbedaan individual.
Menurut Monks dkk. (2007), pada umur enam tahun keseimbangan badan anak relatif telah berkembang dengan baik.
Anak makin dapat menjaga keseimbangan badannya, misalnya senang berjalan,di atas dinding atau pagar. Juga penguasaan badannya lebih baik seperti membongkok, melakukan macam-macam latihan senam dan aktivitas olah raga. Demikian pula telah berkembang baik koordinasi antara mata dan tangan visio-motorik yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar dan menangkap.
2.      Proporsi Tubuh.
Selama masa ini, tubuh anak akan mengalami perubahan. Secara perlahan tubuhnya menjadi lebih langsing dan kaki serta tangannya mulai memanjang. Pada masa awal ini ukuran kepalanya maish tetap besar jika dibandingkan dengan tubuhnya, namun pada akhir masa ini ukuran kepalanya tidak lagi terlalu besar. Penampilan seperti bayi mulai hilang. Lemak ditubuhnya mulai berkurang sehingga paa akhir masa usia prasekolah ini tubuh anak akan tampil lebih ramping.
3.      Perkembangan Motorik.
Anak-anak usia 2-6 tahun mengalami kemajuan pesat dalam ketrampilan motorik, baik ketrampilan motorik kasar yang melibatkan otot-otot besar seperti; berlari, melompat, memanjat, (walking, hopping, jumping), dan ketrampilan motorik halus sebagai hasil koordinasi otot-otot kecil dengan mata dan tangan seperti; menggambar, menggunting dan menempelkan kertas.
4.      Perkembangan Otak.
Saat berusia tiga tahun, ukuran otaknya sudah tiga perempat orang dewasa, dan pada usia lima tahun sudah mencapai 9/10 ukuran otak orang dewasa. Dibandingkan bagian tubuh yang lain, otak dan kepala tumbuh lebih pesat. Bagian atas tubuh seperti kepala, mata, dan otak bertumbuh lebih pesat dari pada bagian bawah.[1]

B.     Perkembangan Fisik Anak-anak Akhir (6-12 tahun).
Pada masa ini perkembangan fisik tidak lagi sepesat masa anak awal. Dibandingkan sebelumnya pertumbuhan berjalan lebih lambat dan merupakan periode tenang sebelum memasuki pertumbuhan pesat pada masa pubertas/menjelang masa remaja. Umumnya pada masa ini anak duduk di sekolah dasar.
1.      Tinggi dan Berat Badan.
Bentuk tubuh sudah lebih menyerupai orang dewasa. Keadaan kegemukan bayi “baby fat” sudah mulai berkurang, karena kaki dan tangan bertumbuh menjadi lebih panjang, dan lebih kurus. Dada dan panggul lebih besar, berat dan kekuatan badan bertambah, serta kemampuan lari, meloncat, dan melempar bertambah baik. Sesudah usia enam tahun, pertumbuhan badan menjadi agak lebih lambat dibanding sebelumya sampai umur 10 tahun, anak laki-laki agak lebih besar sedikit dibandingkan anak perempuan, sesudah itu anak perempuan lebih unggul dalam tinggi badan, walaupun sesudah sekitar usia 15 tahun anak lkai-laki lebih unggul.
Selama tahun-tahun ini, agak bertambah tinggi rata-rata 1,2 inci pertahun, sehingga pada usia 11 tahun tinggu rata-rata anak perempuan 147 cm dan tinggi rata-rata anak laki-laki 146 cm.  Selama pertengahan dan ahir masa kanak-kanak, berat anak-anak bertambah rata-rata 2,3-3,2 kg pertahun. Berat meningkat teritama karena bertambahnya ukuran sistem rangka, sistem otot, dan ukuran beberapa organ tubuh. Masa dan kekuatan otot berangsur-angsur bertambah. Kemampuan kekuatan anak berlipat ganda selama masa ini dan anak laki-laki umurnya lebih kuat dari pada anak perempuan. ( Monks dkk., 2001).
2.      Ketrampilan Motorik
Perkembangan motoriknya menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dari pada masa anak-anak awal. Keseimbangan badannya menjadi lebih baik, demikian juga koordinasi mata dan tangan menjadi lebih baik yang dibutuhkan dalam gerakan-gerakan membidik, menyepak, melempar, dan menangkap. Sehingga anak senang melakukan kegiatan, antara lain : senam, olahraga, berlari, melompat, memanjat, berenang, dan bersepeda secara lebih baik.
Pada masa ini tahap-tahap penguasaan berbagai aktivis fisik terlihat jelas. Berkaitan dengan ketrampilan motorik kasarnya untuk pertama kalinya anak mampu bersepeda tanpa bantuan siapa pun, memanjat pohon atau bergelantungan di pohon, terutama pada anak laki-laki. Walaupun masing-masing anak akan mengembangkan kemampuan yang berbeda, tetapi proses belajar dan penguasaan aktivitas fisiknya secara umum sama, nisalnya sebelum dapat lancar naik sepeda, anak akan jatuh bangun terlebih dahulu. Menurut Santrock (1995) apabila dikuasai dengan baik, maka ketrampilan-ketrampilan fisik ini dapat menjadi sumber kenikmatan dan prestasi besar bagi anak-nak. Pada ketrampilan motorik kasar yang melibatkan otot-otot besar, umunya anak laki-laki lebih cekatan/mengungguli anak perempuan.[2]

Macam-macam Motorik yang dilakukan oleh anak:
a.       Motorik statis, gerkan tubuh sebagai upaya untuk memperoleh keseimbangan misalnya keserasian gerakan kaki dan tangan pada waktu berjalan.
b.      Motorik ketangkasan, gerakan untuk melaksanakan tindakan yang berwujud ketangkasan dan ketrampila misalnya gerakan melempar.
c.       Motorik penguasaan, gerakan untuk mengendalikan otot-otot rumam muka dan sebagainya.[3]

C.    Perkembangan Fisik Pada Remaja.
Masa remaja adalah peralihan dari anak-anak ke dewasa. Bukan hanya dalam artian  psikologis tetapi juga fisik bahkan perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja, sedangkan perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik itu.

Pada Anak Perempuan
1.      Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang.
2.      Pertumbuhan payudara.
3.      Tumbuh bulu yang halus dan lurus berwarna gelap di  kemaluan.
4.      Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimal setiap tahunnya.
5.      Bulu kemaluan menjadi kriting.
6.      Haid.
7.      Tumbuh bulu-bulu ketiak.
Pada Anak laki-laki
1.      Pertumbuhan tulang-tulang.
2.      Testis (buah pelir) membesar.
3.      Tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap.
4.      Awal perubahan suara.
5.      Ejakulasi (keluarnya mani).
6.      Bulu kemaluan menjadi keriting
7.      Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimal setiap tahunnya.
8.      Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis, jenggot)
9.      Tumbuh bulu ketiak.
10.  Akhir perubahan suara.
11.  Rambut-rambut di wajah bertambah tebal dan gelap.
12.  Tumbuh bulu di dada.
Selanjutnya dikatakan juga bahwa hormon genadotropic mulai positif (ada) dalam air seni. Hormon inilah yanng bertanggung jawab sebagian pada pertumbuhan tanda-tanda seksual dan bertanggunng jawab penuh dalam produksi sel telur dan spermatozoa (Muss, 1968).
Perubahan fisik itu, menyebabkan kecanggungan bagi remaja karena ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada dirinya itu. Pertumbuhan badan yang mencolok misalnya, atau pembesaran payudara yang cepat membuat remaja merasa tersisih dari teman-temannya. Demikian pula dalam menghadapi hsid dan ejakulasi yang pertama, anak-anak remaja itu perlu mengadakan penyesuaian-penyesuaian tingkah laku yang tidak selalu bisa dilakukannya dengan mulus terutama jika tidak ada dukungan dari orang tua.[4]
D.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik.
1.      Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu. Yaitu:
a.       Sifat jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya
Anak yang ayah dan ibunya bertubuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi tinggi dari pada anak yang berasal dari orang tua yang bertubuh pendek.
b.      Kematangan.
Secara sepintas, pertumbuhna fisik seolah-olah seperti sudah direncakan oleh faktor kematangan.
2.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal ialah faktor yang berasal dari luar yaitu :
a.       Kesehatan
Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat.
b.      Makanan
Anak yang kurang gizi pertumbuhannya akan terhambat, sebaliknya yang cukup gizi pertumbuhannya pesat.
c.       Situasi lingkungan
Individu yang tubuhnya sering dilatih untuk meningkatkan percepatan pertumbuhannya akan berbeda dengan yang tidak pernah mendapat latihan.

E.     UPAYA MEMBANTU PERTUMBUHAN FISIK DAN IMPLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN
Dalam batas-batas tertentu, percepatan pertumbuhan fisik dapat dibantu degan berbagai usaha atau stimulasi secara sistematis, antara lain sebagai berikut.
1.      Menjaga Kesehatan Badan
Kebiasaan hidup sehat, bersih, dan olahraga secara teratur akan dapat membantu menjaga kesehatan pertumbuhan tubuh. Sebab kesehatan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik.

2.      Memberi Makanan yang Baik
Baik buruknya makanan yang dimakan oleh anak akan menentukan pula kecepatan pertumbuhan fisik. Jika makanan yang dimakan cukup mengandung gizi, kebutuhan zat pembangun bisa terpenuhi sehinngga pertumbuhan menjadi lancar. Sebaliknya, jika kebutuhan zat pembangun tidak terpenuhi, pertumbuhan fisik akan menjadi terhambat dan kurang lancar.
Implikasinya bagi pendidikan adalah perlunya memperhatikan faktor-faktor berikaut ini.
a.       Sarana dan Prasarana
Faktor sarana dan prasarana ini jangan sampai menimbulkan gangguan kesehatan pada anak. Penyelenggaraan pendidikan modern menghendaki agar tempat duduk anak dan meja dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, ruang kelas yang bersih, terang dan cukup luas, serta kedisiplinan yang tidak kaku.
b.      Waktu istirahat
Untuk menghilangkan rasa lelah dan mengumpulkan tenaga baru, istirahat sangat diperlukan. Oleh karena itu, dalam belajar pun sangaat penting meperhatikan pengaruh waktu istirahat bagi anak-anak karena dalam belajar dikenal adanya istilah yang disebut dengan biorama, yang berarti kemampuan anak berkonsentrasi akan sangat dipengaruhi oleh irama stamina biologis pada anak itu sendiri. Berkaitan dengan biorama ini, ada rumus pengaturan belajar yang dikenal dengan “lima kali dua lebih baik daripada dua kali lima”. Artinya, belajar sebanyak lima kali yang masing-masing berlangsung selama dua jam, hasilnya akan lebih baik daripada belajar dua kali yng masing-masing berlangsung selama lima jam.
c.       Diadakannya jam-jam olahraga bagi para siswa
Pelajaran olahraga sangat penting bagi pertumbuhan fisik anak karena denga olahraga yang dijadwalkan secara teratur oleh sekolah berarti pertumbuhan fisik anak akan memperoleh stimulasi secara teratur pula.[5]
Namun strategi BK untuk perkembangan fiisk anak-anak bisa ditambahkan dengan permainan-permainan edukatif, yaitu dengan mengenalkan permainan edukatif bagi anak. Ada beberapa hal yang harus kita diperhatikan dalam mengenalkan permainan bagi anak yang dikategorikan sebagai permanan edukatif bagi anak, antara lain:
1.      Diperuntukkan bagi anak balita
Yakni mainan yang sengaja dibuat untuk merangsnag berbagai kemampuan dasar pada balita.
2.      Multifungsi
Dari satu mainan bisa didapat berbagai variasi mainan sehingga stimulasi yang didapat anak juga lebih beragam.
3.      Melatih problem solving
Dalam memainkannya anak diminta untuk melakukan problem solving. Dalam permainan pasel misalnya, anak diminta untuk menyusun potongan-potongannya menjadi utuh.
4.      Melatih konsep-konsep dasar
Lewat permainan ini, anak dilatih unutk mengembangkan kemampuan dasarnya seperti mengenal bentuk, warna, besaran juga melatih motorik halus.
5.      Melatih ketelitian dan ketekunan
Dalam mainan edukatif, anak tak hanya menikmati tetapi juga dituntut untuk teliti dan tekun ketika mengerjakannya.
6.      Merangsang kreativitas
Permainan ini mengajak anak untuk selalu kreatif lewat berbagai variasi mainan yang dilakukan.
Ada manfaat dari jenis permainan edukatif bagi anak tersebut antara lain:
1.      Melatih kemampuan motorik.
2.      Melatih konsentrasi.
3.      Mengenalkan konsep sebab akibat.
4.      Melatih bahasa dan wawasan.
5.      Mengenalkan warna dan bentuk.
Konseling anak akan lebih mudah dan lebih efektif dilakukan dalam ruangan yang dirancang khusus untuk tujuan tersebut. Anak-anak dapat diberi koseling dalam lingkup yang fasilitas khusus untuk konseling tidak tersedia. Merupakan sebuah keuntungan jika ruangan terapi permainan memiliki westafel dan area basah untuk permainan yang kotor. Idealnya, ruang terapi permainan dilengkapi dengan mainan, perabotan, media, peralatan dan material termasuk buku dan permainan.[6]



















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Perkembangan fisik merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan individu. Perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh seperti (pertumbuhan otak, system syaraf, organ-organ inderawi, pertumbuhan tinggi dan berat,dll)dan perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya seperti perkembangan keterampilan  motorik dan perkembangan seksual, serta perubahan dalam kemampuan fisik seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan dan sebagainya.
Bagi anak-anak dan usia remaja pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik yang optimal adalah sangat penting. Sebab secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi perilaku sehari-hari. Secara langsung, pertumbuhan fisik anak akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak. Sedangkan secara tidak langsung, pertumbuhan atau perkembangan fisik dan motorik akan mempengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dan orang lain. Ini akan terlihat dari pola penyesuaian diri anak secara umum.



DAFTAR PUSTAKA
Soetjiningsih, Christiana Hari. (2012). Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan Kanak-Kanak Akhir. Jakarta: Prenada Media Group.
Sarwono, Sarlirto Wirawan. (2013). Psikologi Remaja. Jakarrta: Raja Wali Pers.
Ali, Muhammad & Asrori, Muhammad. (2005). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Bumi Asara.
Sholehudin, M. Sugeng. (2008). Psikologi Perkembangan Dalam Perspektif Pengantar. Pekalongan: Gajah Mada.
Geldard, Kathryn & David Geldart. (2011). Konseling Anak-Anak Panduan Praktis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


[1] Christiana Hari Soetjiningsih, perkemebangan anak,( Jakarta;Prenada Media Group, 2012), hlm.183.
[2] Ibid,hlm.249
[3] M. Sugeng Sholehudin, Psikologi Perkembangan Dalam Perspektif Pengantar,(Pekalongan: Gama Media), hlm.110.
[4] Sarlito W. Sarwono, Psikologi Remaja, (Jakarta: Raja Wali Pers, 2013), hlm.61.
[5] Mohamad Ali & Muhammad Aasrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm.21.
[6] Kathryn Geldard & David Geldard, Konseling Anak-Anak Panduan Praktis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 269.


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}