Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » konseling karir

konseling karir

Posted by Jendela Dunia on Thursday, 6 August 2015




BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Prinsip-prinsip perkembangan manusia pada umumnya sejalan dengan perkembangan karier yang merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hayat manusia, dinamis dan berubah-ubah menuju kearah tingkat kematangan karier. Perkembangan karier yang bercirikan suatu perubahan ini berlangsung dari dalam diri individu akibat pertambahan umur dan pengalaman, yang mengaami pergeseran dalam harapan, kesukaan, kemampuan, dan minat. Perubahan yang terjadi di luar individu berupa perubahan dalam kesempatan konkritnya dalam hal ini sebagai akibat dari gelobang pergeseran kondisi ekonomi dan sejumlah jabatan.[1]
 
Teori-teori perkembangan relevan dengan perencanaan karier yang memandang pengembangan karier sebagai satu aspek dari perkembangan total seseorang. Lebih jauh lagi, teoritisi perkembangan mengasumsika kalau perkembangan karier adalah sebuah proses yang terus berlangsung di seluruh rentang usia individu. Akiatnya, kebanyakan teori cenderung berfokus kepada tahap-tahap perkembangan yan sesuai dengan usia. [2] Maka dalam pembahasan kali ini kita akan membahas tentang teori perkembangan dan pemilihan karier.









BAB II
TEORI PERKEMBANGAN DAN PEMILIHAN KARIR
A.  Tahapan perkembangan Psikososial Erik H Erikson
1.    Biografi Singkat Erik H. Erikson
Nama lengkap Erikson adalah Erik Homburger Erikson, lahir di Frankfurt, Jerman. Kedua orang tuanya berasal dari Denmark, tetapi mereka tidak pernah menikah secara resmi. Bapaknya meninggal ketika Erikson baru lahir, dan ibunya tidak pernah memberi tahu siapa nama bapaknya. Kemudian, ibunya menikah lagi dengan Dr. Theodore Homburger yang kemudian nama Homburger tersebut disandang Erikson.
Pada usia 25 tahun, Erikson menerima tawaran untuk menjadi guru sebuah sekolah kecil di Wina (Austria). Dia kemudian menjadi pasien sekaligus teman Freud. Erikson mengakui bahwa Freud merupakan bagian dari pencariannya terhadap figur ayah. Erikson memulai karier profesionalnya dalam bidang psikoterapi setelah merasa menemukan identitasnya.
Pada tahun 1929, dia menikahi Joan Serson, seorang artis dan penari kelahiran Kanada. Joan meninggalkan kariernya sebagai penari dan menjadi mitra intelektual dan editopr bagi Erikson. Dia memberikan pondasi bagi stabilitas emosional dan sosial kehidupan Erikson dan menolongnya untuk mengembangkan pendekatan kepribadian.[3]
2.    Tahap Perkembangan Psikososial Erik H. Erikson
Erik H. Erikson menyusun teori perkembangan yang ditinjau dari perspektif perkembangan psikologis dan sosial, sehingga menyebutnya dengan perkembangan psikososial. Erikson membagi tahap perkembangan menjadi delapan tahapan. Empat tahap pertama sama dengan teori Freud, yaitu oral, anal, phallic, dan latensi.
Erikson menyatakan bahwa proses perkembangan diatur oleh prinsip epigenetik dari kematangan (epigenetic principle of maturation). Dalam hal ini, kekuatan bawaan ditentukan oleh karakteristik tahap perkembangan. [4]
Teori klasik dikembangkan oleh Erik H.Ericson yang mengidentifikasi 8 tahap psikososial dari lahir hingga meninggal. Setiap tahap perkembangan mengandung krisis perkembangan yang harus diselesaikan. Tergantung reaksi individunya, konflik yang terlibat di setiap krisis akan diselesaikan dengan cara-cara yang positif atau negatif. Pencapaian yang sukses di tahap-tahap awal akan memberikan kontribusi besar bagi kemampuan individu untuk memecahkan krisis masa depan sehingga menciptakan saling-ketergantungan di antara tahapan-tahapan. Namun demikian, sebuah resolusi yang tidak sehat atau tidak diinginkan terhadap krisis psikososial akan menghasilkan sejumlah kesulitan di seluruh kehidupan individu tersebut berikutnya. Jika memungkinkan, resolusi yang tidak memuaskan itu bisa diperbaiki kemudian untuk menghasilkan sesuatu yang memuaskan ketika kondisi yang tepat muncul dengan sendirinya. Pentingnya memenuhi kebutuhan pribadi, budaya, kognitif dan sosial-emosi individu saat mereka berkembang memiliki implikasi yang jelas bagi pengembangan karier individu dan penyesuaiannya di kemudian hari.
Menurut Erikson, ketika individu bertumbuh ia menghadapi serangkaian krisis psikososial yang membentuk kepribadiannya. Setiap krisis berfokus kepada aspek tertentu kepribadiannya dan masing-masing melibatkan hubungan individu dengan orang lain.[5]
NO
Rentang Usia
Krisis Psikososial
Hubungan Signifikan
Penekanan Psikososial
I

Lahir - 18 bulan

Percaya vs. Tidak percaya


Ibu



Mendapat sesuatu
Memberikan kembali
II
18 bulan - 3 tahun

Otonomi vs. Keraguan

Orang tua
Memegang,
Melepaskan
III
3 – 6 tahun

Inisiatif vs. Rasa bersalah

Keluarga

Membuat,
Bermain
IV
6 – 12 tahun

Kegigihan/industri vs. Inferioritas


Tetangga dan teman sekolah


Menciptakan sesuatu
Mencipta bersama-sama

V
12 – 18 tahun

Identitas vs. Kebingungan peran


Rekan sebaya dan model kepemimpinan
Menjadi diri sendiri (atau tidak)
Berbagi diri

VI
Dewasa Muda

Keintiman vs. Isolasi


Sahabat, saingan, pasangam seksual, rekan-rekan kerja

Kehilangan diri dan menemukan diri pada orang lain

VII
Dewasa madya

Generativitas vs. Penyerapan diri

Rekan pekerja, atasan/bawahan dan rumah tangga

Memerhatikan, merawat dan menumbuhkan

VIII
Dewasa akhir
Integritas vs. Putus asa
‘Kemanusiaan’

‘Keluarga atau turunan saya’
Menjadi kembali atau mengalami kembali
Menghadapi kehampaan

a.    Kepercayaan Dasar vs Kecurigaan Dasar
Terjadi pada tahun pertama kehidupan, saat manusia sangat tidak berdaya. Anak sangat bergantung pada ibu atau orang yang dianggap ibunya. Ibu menjadi sumber kasih sayang dan memenuhi kebutuhan anak. Ibu selalu terharapkan keberadaannya pada saat dibutuhkan. Ibu menjadi figur dipercaya dan diandalkan. Apabila fase ini berhasil dilalui dengan baik, anak akan mengembangkan kepercayaan pada dirinya dan orang lain, dia akan belajar menerima dan memberi. Erikson mengatakan bahwa harapan yang terpenuhi pada awal identitas ego akan terus diingat dan membentuk semacam pertalian kepercayaan dengan ibu.
b.    Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu-Ragu
Pada fase ini, anak mengalami perkembangan fisik dan mental yang cepat, mereka sudah mampu melakukan berbagai kegiatan untuk keperluan sendiri (otonomi). Mereka mulai belajar untuk berkomunikasi dengan lebih efektif, belajar berjalan, memanjat, mendorong, menarik dan memegang barang tertentu.
Hal penting pada fase ini adalah ketika pertama kalinya anak dapat berlatih membuat pilihan, sehingga memiliki pengalaman atas kekuasaan dan otonominya. Walaupun masih bergantung pada orang tua, mereka mulai melihat dirinya sebagai seorang pribadi yang terpisah atau melihat kekuatan atas hak-haknya.
c.    Inisiatif vs Rasa Bersalah
Kemampuan mental dan motorik terus berkembang, mereka menunjukkan hasrat yang kuat untuk otonomi melalui berbagai kegiatan. Inilah fase yang mengantarkan mereka mampu melakukan eksplorasi lingkungan (menjelajah), memahami informasi melalui bahasa, mengembangkan imajinasi dan mengembangkan pemahaman peran sesuai identitas seksual (identifikasi terhadap orang tua).
d.   Ketekunan vs Rendah Diri
Di usia ini, anak-anak mulai sekolah, mulai terlihat adanya pengaruh lingkungan sosial yang baru. Idealnya, di rumah ataupun di sekolah, anak mendapatkan pengalaman belajar dan bekerja yang baik. Pada fase ini, anak akan mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, berusaha pengakuan dari lingkungan sosialnya, mengembangkan upaya mencapai prestasi. Peran orang tua dan guru sangat menentukan keberhasilan mereka dalam mengembangkan dan menggunakan kemampuan barunya.
e.    Ikatan Identitas vs Kebimbangan Peran: Krisis Identitas
Setiap orang akan mengalami masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada fase ini terjadi perubahan fisik dan psikologis yang cepat, anak harus menghadapi dan menyelesaikan krisis identitas egonya sehingga mereka memerlukan dukungan. Selain itu, anak membentuk citra diri, integritas antara pemikiran mengenai diri sendiri dan pemikiran orang lain mengenai diri anak.
f.     Keakraban vs Keterasingan
Selama fase ini berlangsung, individu membangun hubungan yang lebih mandiri dengan orang tua dan institusi quasi-parental, seperti kampus, namun mereka mulai berfungsi sebagai orang matang dan bertanggung jawab. Individu mulai melakukan beberapa bentuk kegiatan yang produktif dan membangun hubungan yang akrab, munculnya pembentukan hubungan yang afektif (penuh perasaan) yang tetap dan mendalam dengan lawan jenisnya.
g.    Generativitas vs Stagnasi
Fase ini merupakan tahap kematangan, ada keinginan individu untuk membuka diri pada dunia luas (masyarakat), bukan hanya terfokus pada keluarga, ada upaya mengembangkan karya, memelihara, membina, dan mendidik generasi muda dengan mengembangkan hobi dan spiritual, keberhasilan melalui fase ini akan membuat individu mengembangkan kepuasan hidup, melihat kehidupan sebagai langkah maju yang berharga. Dia akan produktif dan kreatif dan akan memberi rasa bangga, serta bahagia pada masa tuanya.
h.    Integritas Ego vs keputusasaan
Fase ini merupakan fase terakhir dari perkembangan psikososial, kemmatangan, dan usia tua. Setiap orang memiliki keterbatasan eksistensi usia lanjut dan menghadapi kematian. Sikap yang muncul dikuasai oleh cara kita mengevaluasi seluruh perjalanan hidup. Pada usia ini, ada upaya keras untuk melengkapi. Kita akan memeriksa dan merefleksi seluruh kehidupan dan melakukan evaluasi akhir.[6]                      
B.  Tahap-tahap perkembangan kerja Havigurst
1.    Tahap-tahap perkembangan manusia menurut Havigurst
Havigurst menyusun fase-fase perkembangan kebutuhan secara hipotesis yang harus dipenuhi atau dikuasai individu agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Tugas-tugas perkembangan itu tersusu sebagai berikut:
a)    Masa Bayi dan Masa Kanak-kanak awal (0-6 tahun)
Ø Belajar berjalan
Ø Belajar mengambil benda-benda padat
Ø Belajar berbicara
Ø Belajar menguasai benda
Ø Mempelajari perbedaan jenis dan perilakunya
Ø Mencapai stabilitas fisiologis
Ø Pembentukan konsep (pengertian) sederhanaa tentang realitas fisik dan sosial
Ø Belajar menciptakan hbungan dirinya secara emosional kepada orang tuanya, saudara-saudaranya, dan orang lain.
Ø Belajar membedakan salah-benar dan pengembangan kata hati
b)   Masa Kanak-kanak akhir dan anak sekolaah (6-12 tahun)
Ø Belajar ketrampilan fisik untuk pertandingan biasa sehari-hari
Ø Membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sebagai organisme yang sedang tumbuh-kembang
Ø Belajar bergaul dengan teman-teman sebayanya
Ø Belajar peranan sosial yang sesuai dengan pria atau wanita
Ø Mengembangan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung
Ø Mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari
Ø Mengembangkan kata hati, moralitas, dan suatu skala nilai-nilai
Ø Mencapai kebebasan pribadi
Ø Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan institusi-institusi sosial.
c)    Masa Remaja (12-21 tahun)
Ø Mencapai hubungan-hubungan yang baru dan lebih matang dengan teman-teman sebaya dari kedua jenis
Ø Mencapai suatu peranan sosial sebagai pria atau wanita
Ø Menerima dan menggunakan fisiknya secara efektif
Ø Mencapai kebebasan emosional dari orang tua dan orang lainnya
Ø Mencapai kebebasan keterjaminan ekonomis
Ø Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan/ jabatan
Ø Mempersiapkan diri bagi persiapan perkawinan dan berkeluarga
Ø Mengembangkan konsep-konsep dan ketrampilan intelektual yang diperlukan sebagai wadah negara yang kompeten
Ø Secara sosial menghendaki dan mencapai kemampuan bertindak secara bertanggung jawab
Ø Mempelajari dan mengembangkan seperangkat sistem nilai-nilai dan etika sebagai pegangan untuk bertindak
d)   Masa Dewasa Awal (21-40 tahun)
Ø Memilih pasangan
Ø Belajar hidup dengan pasangan
Ø Memulai suatu kehidupan berkeluarga
Ø Memelihara anak
Ø Mengelola rumah tangga
Ø Memulai bekerja
Ø Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara
Ø Menemukan suatu kelompok yang serasi
e)    Masa Setengah Baya (40-60 tahun)
Ø Mencapai tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan secara lebih dewasa
Ø Membantu anak-anak yang berusia belasan tahun agar berkembang menjadi orang-orang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab
Ø Mengembangkan aktivitas dan memanfaatkan waktu luang sebaikbaiknya bersama orang-orang dewasa lainnya
Ø Menghubungkan diri sedemikian rupa dengan pasangannya sebagai pribadi yang utuh
Ø Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan psikologis yang lazim terjadi pada masa setengah baya
Ø Mencapai dan melaksanakan penampilan yang memuaskan dalam karier
Ø Menyesuaikan diri dengan perikehidupan (khususnya dalam hal cara bersikap dan bertindak) orang-orang yang berusia lanjut
f)    Masa Usia Tua (60 tahun-meninggal)
Ø Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan dan kesehatan jasmaniahnya
Ø Menyesuaikan diri dengan keadaan pensiun dan berkurangnya penghasilan
Ø Menyesuaikan diri dengan keadaan kematian pasangan
Ø Membina hubungan yang lugas dengan para anggota kelompok seusianya
Ø Membina pengaturan jasmani sedemikian rupa agar memuaskan dan sesuai dengan kebutuhannya
Ø Menyesuaikan diri terhadap peranan-peranan sosial dengan cara yang luwes[7]
2.    Tahap-tahap perkembangan kerja
Teori populer yang lain bahkan sering disebut klasik karena validitasnya adalah teori tugas perkembangan Havighurst. Havighurst membahas perkembangan pekerjaan sebagai proses seumur hidup yang terdiri atas enam tahapan dari masa kanak-kanak hingga usia senja. Setiap periode usia memiliki tugas khusus yang dapat sukses dicapai jika seseorang telah menyelesaikan dengan sukses dan bahagia tugas-tugas yang tepat bagi tahap kariernya.[8]
Perkembangan Kerja: Sebuah Proses Seumur Hidup
Tahap-tahap Perkembangan Kerja
Usia

I.          Pengidentifikasian dengan seorang Perkerja.
Biasanya ayah, ibu atau pribadi signifikan lain. Konsep bekerja menjadi bahian sesensial pembentukan ego-ideal.

II.       Mencapai kebiasaan dasar bekerja keras dan gigih berjuang.
Belajar mengornasasikan waktu dan energi seseorang untuk memastikan suatu pekerjaan selesai. Biasanya fokus pada tugas rumah, ujian, makalah, dll. Belajar untuk mengedepankan pekerjaan lebih daripada bermain, namun bisa tetap bermain jika pekerjaan sudah selesai.

III.    Mencapai identitas sebagai pekerja atau profesi dalam struktur pekerjaan/profesi tertentu.
Memilih dan mempersiapkan diri untuk sebuah pekerjaan. Mendapatkan pengalaman bekerja merupakan basis bagi pemilih kerja selanjutnya dan bagi pemastian kemandirian ekonomi di masa depan.

IV.    Menjadi Pribadi yang Produktif.
Berusaha menguasai diri untuk sebuah pekerjaan. Mendapatkan pengalaman bekerja merupakan basis bagi pilihan kerja selanjutnya dan bagi pemastian kemandiriran ekonomi di masa depan.

V.       Mempertahankan status sebagai anggota masyarakat yang produktif.
Menekankan pergeseran menuju masyarakat dan mulai mengurangi fokus kepada spek-aspek individual peran pekerja. Individu jadi tampak seperti anggota masyarakat yang produktif. Ia memberi perhatian bagi tanggung jawab sipil yang dilekatkan pada pekerjaan/kariernya. Idnidvidu berada di puncak karier dan memiliki energi dan waktu untuk terlibat daam aktifitas sosial-kemasyarakatan yang lebih luas. Minimal, di bidang kerjanya bisa memeberi perhatian dan mendidik para pekerja di tahap III dan IV.

VI.    Mengkontemp;asikan hidup yang produktif dan bertanggung jawab.
Individu sudah pensiun dari pekerjaannya atau sedang dalan proses menarik diri dari peran sebagai pekerja. Ia mulai merenungkan dan mengkaji semua pengalaman kerja dan hidup kariernya, melihat kalai kontribusi sosial sudah dilakukannya, dan sangat senang dengan semua hal ini. Meskipun mungkin tidak berhasil mencapai ambisinya, ia bsa menerima hidupnya dan yakin dirinya seorang individu yang produktif.

5 – 10





10 – 15









15 – 25







25 – 40





40 – 70













70 +





C.  Teori karir Donald Super
1.    Biografi Donald Super
Donald E. Super lahir pada 10 Juli 1910 di Honolulu, Hawai. Ayahnya adalah personil spesialis, ibunya seorang penulis. Ketika ayahnya dipindahkan dari Hawai ke kantor nasional YMCA di New York, Super dan kakaknya bersekolah di sekolah dasar di Upper Montclair, New Jersey. Ketika ia berusia 12 tahun, keluarganya pindah ke Warsawa, Polandia. Selama musim dingin pertama di Polandia, Super kehilangan kakaknya karena penyakit fatal. Semenjak itu, Super mengembangkan a rational intellect dan an iron will yang menjadi mekanisme penanganan utamanya. Ia mengandalkan sifat-sifat ini sambil bersekolah di asrama di Jenewa. Setelah lulus, ia kuliah di Oxford University dan menerima gelar BA dalam sejarah ekonomi.
Pengalamannya di Oxford dan observasinya terhadap karier ayahnya membuat Super lebih peka terhadap pentingnya kerja di kehidupan masyarakat. Super memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk membantu orang menemukan penyesuaian pekerjaan. Kerja pertama Super adalah sebagai spesialis penempatan kerja di Cleveland YMCA dan secara bersamaan mengajar di Fenn College, yang sekarang disebut Cleveland State University. Setelah dua tahun bekerja, Super menerima bantuan untuk untuk mengembangkan instansi konseling berbasis masyarakat “the Cleveland Guidance Service”. Pada saat itu, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri di program doktor dalam bimbingan kejuruan dan psikologi yang diterapkan pada Teachers College, Columbia University. Setelah ia menyelesaikan pengumpulan data disertasinya, Super menjadi asisten profesor psikologi di Clark University. Ia menyelesaikan disertasinya pada tahun 1940. Dua tahun kemudian, ia menerbitkan Dynamics of Vocational Adjustment.[9]
2.    Teori karir Donald Super
Mungkin penelitian dan penulis karir berbasis teori perkembangan yang paling berpengaruh adalah donald. E. Super. Dalam perkembangan teorinya, Super(1957) menekankan peran penting yang dimainkan kedewasaan bekerja. Konsep utama di dalam teori Super adalah : (a) tahap-tahap karir, (b) tugas-tugas perkembanganyang dicapai ketika berhasil melewati tahap tertentu, (c) pengimplementasian konsep diri bagi pengembangan identitas karir, (d) perkembangan kedewasaan karir, (e) pola karir.[10]
Tolbert mengatakan bahwa penggunaan istilah “perkembangan” dalam karir mempunyai makna khusus karena mengimplikasikan bahwa individu terlibat dalam suatu proses jangka panjang untuk membuat keputusan-keputusan karir dari banyak pilihan, yang masing-masing pilihan itu dipengaruhi oleh banyak orang dan factor, berbagai kondisi, serta kebutuhan-kebutuhan dsari sifat-sifat pribadi individu itu sendiri. Analog dengan pendapat tersebut, Herr & Cramer mendefinisikan perkembangan karir sebagai “…the constellation of psychological,sociological, educational, physical, economic, and change factors that combine to shape the career of any given individual”.[11]
Yang lebih baru, Super menyajikan sebuah teori perkembangan untuk seumur hidup berdasarkan 14 proposisi berikut :
1.    Individu berbeda-beda dalam kemampuannya, dan kepribadiannya, kebutuhannya, nilainya, minatnya, sifat/wataknya, dan konsep dirinya.
2.    Individu memiliki yang cocok dengan suatu pekerjaan berdasarkan karakteristik yang dimilikinya.
3.    Setiap pekerjaan mambutuhkan pola karakteristik kemampuan dan sifat kepribadian tertentu, namun dengan toleransi cukup besar karena seorang individu dapat dimasuki sejumlah pekerjaan yang berbeda, dan sebuah pekerjaan dapat dimasuki beberapa jenis individu yang berbeda.
4.    Preferensi dan kompetensi kerja, situasi yang di dalamny individu tinggal dan bekerja, dan dari situ konsep diri mereka, berubah seiring waktu dan pengalaman, meskipun konsep diri,sebagai produk pembelajaran sosial, semakin stabil dari usia 0 sampai remaja hingga usia dewasa akhir menyediakan sejumlah  rangkain berkelanjutan dalam pemilihan dan penyesuaian karir.
5.    Proses perubahan ini bisa dijumlahkan dalam serangkaian tahap kehidupan yang dicirkan sebagai urutan pertumbuhan,eksplorasi,penetapan, pemeliharaan dan penurunan, dan tahap-tahap ini pada gilirannya dapat dibagi menjadi : (a) tahap eksplorasi fantasi, tentatif dan fase realistik, (b) tahap coba-coba dan fase penstabilan. Sebuah siklus mini berlangsung dalam transisi dari satu tahap ke tahap berikutnya, atau setiap kali individu mengalami destabilisasi lantaran pereduksian dalam kekuatan, perubahan jenis kebutuhan personil,. Ketidakstabilan karir atau percobaan berulang kali semacam ini melibatkan pertumbuhan baru, pengeksplorasian ulang dan penetapan ulang.
6.    Hakikat pola karir, yaitu tingkat pekerjaan yang dicapai dan urutan, frekuensi dan durasi kerja coba-coba dan kerja, stabil ditentukan oleh potensi tingkat sosial-ekonomi, kemampuan mental, pendidikan, keahlian, karakteristik kepribadian (kebutuhan, nilai, minat, sifat dan konsep diri), dan kematangan karier dan peluang yang datang padanya.
7.    Keberhasilan dalam mengatasi tuntutan lingkungan dan di dalam konteks tersebut ditahap karir kehidupan apapun bergantung pada kesiapan individu untuk mengatasi tuntutan-tuntutan ini.
8.    Kematangan karir adalah sebuah kontruks hipotesis. Definisi operasionalnya mungkin sulit dirumuskan seperti kecerdasan, namun sejarahnya jauh lebih singkat dan pencapaiannya tidak harus definitif.
9.    Perkembangan lewat tahap-tahap kehidupan dapat dibimbing sebagian dengan memfasilitasi pematangan realitas dan minat, sebagian dengan bantuan pengetesan realitas dan di dalam pengembangan konsep diri.
10.    Proses pengembangan karir  pada esensinya mengembangkan dan mengimplementasikan konsep diri dalam pekerjaan.
11.    Proese sintesis atau kompromi antara individu dan faktor-faktor sosial antara konsep diri dan realitas.
12.    Kepuasan kerja dan kepuasan hidup bergantung pada taraf  dimana individu menemukan  wadah yang tepat bagi kemampuan , kebutuhan, nilai, minat, sifat kepribadian dan konsep diri.
13.    Taraf kepuasan yang diperoleh dari kerja sesuai dengan taraf yang padanya mereka sudah mampu mengimplementasikan konsep diri.
14.    Pekerjaan dan karir menyediakan sebuah fokus bagi pengorganisasian kepribadian untuk pria dan wanita meskipun untuk beberapa orang, fokus ini tidak begitu penting.[12]
Berdasarkan proporsi tersebut, Super membagi tahap perkembangan karir menjadi lima tahapan berikut.
1)  Tahap perkembangan (grouth) dari lahir sampai ± 15 tahun , yakni anak mengembangkan berbagai potensi, sikap-sikap, minat-minat, dan kebutuhan-kebutuhan yang dipadukan dalam struktur konserp diri (self concept structure). Konsep diri tersebut berkembang melalui proses identifikasi terhadap sosok kunci (key figures) dilingkungan keluarga dan sekolah. Tahap pertumbuhan terdiri dari 3 sub tahap, yaitu:
a.  Fantasi (4-10 tahun) yang ditandai dengan dominannya aspek kebutuhan akan rasa keingintahuan (curiousity).
b.  Minat (11-12 tahun) yang ditrandai dengan tumbuhnya rasa senang sebagai determinan utama dari aspirasi dan aktifitas.
c.  Kapasitas (13-14 tahun) yang ditandai dengan pertimbangan bertambahnya bobot kemampuan, persyaratan, dan latihan karir.
2)  Tahap Eksplorasi (Eksploration) dari usia 15-24 tahun, yakni ketika individu memikirkan berbagai alternative karir, tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat. Pada tahap ini mulai melakukan penelaahan diri (self examination, mencoba berbagai peranan, serta melakukan penjelajahan pekerjaan atau jabatan baik di sekolah, pada waktu senggang, ataupun melalui system magang.  Tahap ini meliputi 3 subtahap berikut.
a.  Tentative (15-17 tahun) yang ditandai dengan mulai dipertimbangkannya aspek-aspek kebutuhan, minat, kapasitas, nilai-nilai dan kesempatan secara menyeluruh. Pilihan pada masa tentative ini mulai diusahakan untuk keluar dari fantasi, baik melalui diskusi, bekerja, maupun aktifitas lainnya.
b.  Transisi (18-21 tahun) yang ditandai dengan menonjolnya pertimbangan yang lebih realistis untuk memasuki dunia kerja atau latihan professional serta berusaha mengimplementasikan konsep diri.
c.  Mencoba (trial) dengan sedikit komitmen (22-24 tahun) ditandai dengan mulai ditemukannya lahan atau lapangan pekerjaan yang sangat potensial.
3)  Tahap pemantapan atau pendirian (establishment) dari usia 25-44 tahun yang bercirikan usaha-usaha memantapkan diri melalui pengalaman-pengalaman ;selama menjalani karir tertentu. Pada tahap ini individu sudah memiliki bidang yang cocok, serta berusaha memantapkan kedudukan secara permanen dalam suatu bidang. Pada awalnya mungkin sedikit mencoba-coba (trial) dengan konsekuensi adanya pergantian bidang garapan, namun tahap ini (establishment) biasanya dimulai tanpa adanya istilah coba-coba terutama pada suatu profesi. Tahap pemantapan terdiri atas 2 subtahap berikut ini.
a.  Mencoba dengan komitmen yang bersifat stabil (25-30 tahun) yang ditandai dengan berbagai dugaan tentang kurang memuaskannya lapangan pekerjaan tertentu. Pada tahap ini kemungkinan perubahan terjadi 1 atau 2 bidang pekerjaan dan biasanya diakhiri dengan ditemukannya 1 bidang pekerjaan yang mantap.
b.  Lanjut (advancement), ( 31-44 tahun) yang ditandai dengan semakin jelasnya pola karir serta usaha-usaha yang mengarah pada pemantapan dan pengamanan ;posisi dalam bidang tersebut. Bagi kebanyakan orang tahap ini merupakan tahap-tahap kreatif.
4)  Tahap mempertahankan (44-64 tahun), mempunyai tugas utama berupa mempertahankan apa yang telah dicapai.[13] Dimana orang yang sudah dewasa menyesuaikan diri, menikmati dan memaknai karir yang sedang dijalani.
5)  Tahap kemunduran (decline) dari usia 65 tahun ke atas yakni ketiga individu memasuki masa pension dan harus menemukan pola hidup baru sesudah melepaskan jabatannya. Peranan baru segera dikembangkan terutama memilih penerus. Tahap kemunduran terdiri atas 2 subtahap berikut.
a.  Perlambatan (65-70 tahun) yang ditandai dengan kelelahan sebagai pekerja, langkah kerja yang berkurang, pelaksanaan tugas kerja yang tidak penuh, serta mulai berkurangnya kapasitas kerja. Hamper kebanyakan individu menemukan pekerjaan paru waktu untuk menggantikan pekerjaan utamanya.
b.  Kemunduran diri (retirement) (71 tahun ke atas) yang ditandai dengan menyerahkan atau mewariskan “kekuasaan” kepada generasi penerus. Secara umum yang terjadi pada masa ini berakhir dengan ,beberapa kemungkinan, beberapa orang mampu menerimanya dengan hidup menyenangkan; beberapa yang lainnya berakhir dengan kekecewaan dan kesulitan, kemudian sisanya berakhir dengan kematian.
Kelima tahap ini di pandang sebagai acuan bagi munculnya sikap-sikap dan prilaku yang menyangkut keterlibatan dalam suwatu jabatan, yang tampak dalam tugas-tugas perkembangan karir.
Dalam teori rentang hidup dari super terdapat suatu konsep yang disebut dengan kematangan karir (career maturity). Kematangan karir (career maturity) merupakan tema sentral dalam teori perkembangan karir masa hidup (life span career development) yang dicetuskan oleh super.  Super memperkenalkan dan mempopulerkan konsep tentang kematangan karir setelah penelitiannya tentang pola karir di tahu 1950-an.
Kematangan karir didevinisikan sebagai kesesuaian antara perilaku karir individu dengan perilaku karir yang diharapkan pada usia tertentu di setiap tahap. Ceriter berpendapat bahwa “…the maturity of an individual’s vocational behavior as indicated by the similarity between his behavior and that of the oldest individual’s in his vocational stages”…rediness to make (a) good chace (s) atau kesiapan individu untuk membuat pilihan karir yang tepat. Definisi kedua ini lebih menekankan pada kesiapan untuk membuat pilihan dan keputusan karir secara tepat.
Berdasarkan pada uraian tersebut, dapat dimaknai bahwa kematangan karir remaja dapat diukur dari dimilikinya indikator-indikator kematangan sebagai berikut.
Pertama, aspek perencanaan karir (career planning). Aspek ini meliputi indikator-indikator : 1) mempelajari informasi karir, 2) membicarakan karir dengan orang dewasa, 3) mengikuti pendidikan tambahan (kursus) untuk menambah pengetahuan tentang keputusan karir, 4) berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakulikuler, 5) mengikuti pelatihan-pelatihan berkaitan dengan pekerjaan yang diinginkan, 6) mengetahui kndisi pekerjaan yang diinginkan, 7) memahami persyaratan pendidikan untuk pekerjaan yang diinginkan, 8) dapat merencanakan apa yang harus dilakukan setelah tamat sekolah, 9) mengetahui cara kesempatan memasuki dunia kerja yang diinginkan, 10) mampu mengatur waktu luang secara efektif.
Kedua, aspek eksplorasi karir (career exploration). Eksplorasi karir didefinisikan sebagai keinginan individu untuk mengeksplorasi atau melakukan pencarian informasi terhadap sumber-sumber informasi karir. Eksplorasi karir merupakan waktu ketika individu mengupayakan agar dirinya memiliki pemahaman yang lebih terutama informasi pekerjaan, alternative-alternatif karir, pilihan karir dan mulai bekerja. Aspek ini mencakup indikator-indikator sebagai berikut : 1) berusaha menggali dan mencari informasi karir dalam berbagai sumber (guru bk, orang tua, orang yang sukses, dsb) 2) memiliki pengetahuan tentang potensi diri, diantaranya bakat, minat, intelegensi,dsb. 3) memiliki banyak informasi karir.
Ketiga, pengetahuan tentang membuat keputusan karir (decision making). Aspek ini terdiri dari indikator-indikator berikut ; 1) mengetahui cara-cara membuat keputusan karir; 2)mengetahui langkah-langkah dalam membuat keputusan karir, terutama penyusunan rencana karir, 3) mempelajari cara orang lain membuat keputusan, 4)menggunakan pengetahuan dan pemikiran dalam membuat keputusan karir.
Keempat, pengetahuan (informasi) tentang dunia kerja (word of work information). Menurut Super (Sharf, 1993:158) konsep ini memiliki 2 komponen dasar yaitu: pertama,   berhubungan dengan tugas perkembangan ketika individu harusb mengetahui minat dan kemampuan dirinya, mengetahui cara oranglain mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya, dan mengetaahui alasan oranglain berganti pekerjaan. Kedua, konsep yang berkaitan dengan pengetahuan tentang tugas-tugas pekerjaan dalam satu vokasional dan perilaku-perilaku dalam bekerja.
Kelima, aspek pengetahuan tentang kelompok pekerjaan yang lebih disukai (knowledge of preferred occupational group). Aspek ini terdiri dari indikator-indikator berikut : 1) memmahami tugas dari pekerjaan yang diinginkan, 2) mengetahui sarana yang dibutuhkan dibutuhkan, 3) mengetahui persyaratan fisik dan psikologis dari pekerjaan yang diinginkan, 4) mengetahui minat-minat dan alasan-alasan yang tepat dalam memilih pekerjaan.
Keenam, aspek realisme keputusan karir (realism). Relisme keputusan karir adalah perbandingan antara kemampuan dengan pilihan pekerjaan secara realistis. Aspek ini terdiri dari indikator-indikator berikut : 1) memiliki pemahaman yang baik tentang kekuatan dan kelemahan diri berubungan dengan pemilihan karir yang diinginkan, 2) mampu melihat factor-faktor yang akan mendukung atau menghambat karir yang diinginkan, 3) mampu melihat kesempatan yang ada berkaitan dengan pilihan karir yang diinginkan, 4) mampu memlilih salah satu alternative pekerjaan dan berbagai pekerjaan yang beragam, 5) dapat mengembangkan kebiasaan belajar dan bekerja secara efektif.
Ketujuh, orientasi karir (carrer orientation). Didefinisikan sebagai skortotal dari 1) sikap terhadap karir, 2) ketrampilan membuat keputusan karir, 3) informasi dunia kerja (super dalam sharf, 1992-159).
Sikap terhadap karir terdiri dari perencanaan dan eksplorasi karir. ketrampilan membuat keputusan karir terdiri dari kemampuan menggunakan pengetahuan dan pemikiran dalam membuat keputusan karir. Informasi dunia kerja terdiri atas memiliki informasi tentang pekerjaan tertentu dan memiliki informasi tentang dunia kerjanya.[14]
3.    Kelebihan dan kekurangan teori karier Donalt Super
a.    Kelebihan
Kelebihan teori ini terletak pada kemampuan individu untuk mewujudkan konsep diri dalam suatu bidang jabatan yang paling diinginkan untuk mengekspresikan diri sendiri dan juga berkaitan dengan pilihan terhadap peran yang dimiliki. Tersedianya kesempatan untuk mengambil keputusan sepanjang hidup.[15]
Pandangan Super oleh banyak Pakar Psikologi Vaokasioanal dinilai sebagai teori yang paling komprehensif dan mendapat banyak dukungan dari hasil penelitian. Pandangan Super mengandung beberapa implikasi bagi pendidikan karier dan konseling karier yang sangat relevan. Konsepsi Super tentang gambaran diri dan kematangan vokasional menjadi pegangan bagi seorang tenaga kependidikan bila merancang program pendidikan karier dan bimbingan karier yang membawa orang muda ke pemahaman diri dan pengolahan informasi tentang dunia kerja, selaras dengan tahap perkembangan karier tertentu.[16]
b.    Kekurangan
Kelemahannya, adalah seseorang yang tidak mempunyai konsep diri yang positif akan sulit untuk mewujudkan dirinya pada suatu bidang pekerjaan dan bila perkembangan melalui tahap kehidupan tidak mendapat bimbingan dan arahan akan mendapat kesulitan bagi individu mengembangkan konsep diri dan potensi yang dimiliki.[17]





























BAB III
PENUTUP
A.  Simpulan
Tahap perkembangan menurut Erik H. Erikson mengidentifikasi 8 tahap psikososial dari lahir hingga meninggal. Setiap tahap perkembangan mengandung krisis perkembangan yang harus diselesaikan. Tergantung reaksi individunya, konflik yang terlibat di setiap krisis akan diselesaikan dengan cara-cara yang positif atau negatif. Pencapaian yang sukses di tahap-tahap awal akan memberikan kontribusi besar bagi kemampuan individu untuk memecahkan krisis masa depan sehingga menciptakan saling-ketergantungan di antara tahapan-tahapan.
Tahap perkembangan menurut Havigurst perkembangan pekerjaan sebagai proses seumur hidup yang terdiri atas enam tahapan dari masa kanak-kanak hingga usia senja. Setiap periode usia memiliki tugas khusus yang dapat sukses dicapai jika seseorang telah menyelesaikan dengan sukses dan bahagia tugas-tugas yang tepat bagi tahap kariernya.
Teori karir yang dikemukakan oleh Donalt Super membagi tahap perkembangan karir menjadi lima tahapan yaitu:
1.    Tahap perkembangan (grouth) dari lahir sampai ± 15 tahun , yakni anak mengembangkan berbagai potensi, sikap-sikap, minat-minat, dan kebutuhan-kebutuhan yang dipadukan dalam struktur konserp diri
2.    Tahap Ekspolasi dari usia 15-24 tahun, yakni ketika individu memikirkan berbagai alternative karir, tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat.
3.    Tahap pemantapan atau pendirian (establishment) dari usia 25-44 tahun yang bercirikan usaha-usaha memantapkan diri melalui pengalaman-pengalaman ;selama menjalani karir tertentu. Pada tahap ini individu sudah memiliki bidang yang cocok, serta berusaha memantapkan kedudukan secara permanen dalam suatu bidang.
4.    Tahap mempertahankan (44-64 tahun), mempunyai tugas utama berupa mempertahankan apa yang telah dicapai.
5.    Tahap kemunduran (decline) dari usia 65 tahun ke atas yakni ketiga individu memasuki masa pension dan harus menemukan pola hidup baru sesudah melepaskan jabatannya.


DAFTAR PUSTAKA

Gibson, Robert L. dan Marianne H. Mitchell. 2011. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gladding, Samuel T. 2009.  Konseling, Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: Indeks
Hidayat, Dede Rahmat. 2011. Psikologi Kepribadian dalam konseling. Bogor: Ghalia Indonesia
https://konselorwahyu.wordpress.com/2014/04/12/developmental-theories-supers-life-span-donald-e-super/ diakses tgl 6 maret 2015 jam 12.37
Nurihsan, A. Juntika dan Mubiar Agustin. 2011. Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja, Tinjauan Psikologis, Pendidikan, dan Bimbingan. Bandung: PT Refika Aditama
Rahma, Ulifa. 2010. Bimbingan Karier Siswa. Malang: UIN MALIKI PRESS
Suherman, Usman. Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan. Bandung: Pasca Sarjana UPI
Winkel, W.S. 1997. Bimbingan dan Konseling di Institusi pendidikan. Jakarta: Grasindo








[1]  Ulifa Rahma, Bimbingan Karier Siswa, (Malang: UIN MALIKI PRESS, 2010), hlm. 34-35
[2]  Robert L. Gibson dan Marianne H. Mitchell, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 454-455
[3]  Dede Rahmat Hidayat, Psikologi Kepribadian dalam konseling, ( Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hlm. 87-88
[4]  Ibid., hlm. 91
[5]  Robert L. Gibson dan Marianne H. Mitchell, Op. Cit., hlm. 458-460
[6]  Dede Rahmat Hidayat, Op. Cit., hlm. 92-98
[7]  A. Juntika Nurihsan dan Mubiar Agustin, Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja, Tinjauan Psikologis, Pendidikan, dan Bimbingan, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), hlm. 18-20
[8]  Robert L. Gibson dan Marianne H. Mitchell, Op.Cit., hlm. 458-459
[9]  https://konselorwahyu.wordpress.com/2014/04/12/developmental-theories-supers-life-span-donald-e-super/ diakses tgl 6 maret 2015 jam 12.37
[10] Robert L. Gibson dan Marianne H. Mitchell, Op.Cit., hlm. 455-456
[11] Usman Suherman, Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan, (Bandung: Pasca Sarjana UPI), hlm. 47
[12] Robert L. Gibson dan Marianne H. Mitchell, Op.Cit., hlm. 456-457
[13]  Samuel T. Gladding, Konseling, Profesi yang Menyeluruh, (Jakarta: Indeks, 2009), hlm. 411
[14] Usman Suherman, Op.Cit. , hlm. 49-54
[15]  https://konselorwahyu.wordpress.com/2014/04/12/developmental-theories-supers-life-span-donald-e-super/ diakses tgl 6 maret 2015 jam 12.37
[16]  W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi pendidikan, (Jakarta: Grasindo 1997), hlm. 580.
[17] https://konselorwahyu.wordpress.com/2014/04/12/developmental-theories-supers-life-span-donald-e-super/ diakses tgl 6 maret 2015 jam 12.37


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}