Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » Hakikat Bahasa

Hakikat Bahasa

Posted by Jendela Dunia on Friday, 14 August 2015



A.  Hakikat Bahasa
Bahasa merupakan suatu wujud yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, “sehingga dapat pula dikatakan bahwa bahasa adalah milik manusia yang telah menyatu dengan pemiliknya’’ (Chaer, 2009:5). Bahasa juga merupakan alat untuk berkomunikasi, menyampaikan pikiran, gagasan, ekspresi, dan menjalin interaksi (hubungan timbal balik) satu sama lain dalam kehidupan manusia.
Manusia sangat membutuhkan bahasa untuk
membangun interaksi antara satu dengan yang lain. Sebagai manusia yang aktif, dalam  kehidupan bermasyarakat, orang sangat bergantung pada penggunaan bahasa. Hal ini sesuai dengan pernyataan dimana ada masyarakat, disitu ada penggunaan bahasa.
Penyelidik bahasa yang ingin memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, perlu mengetahui ilmu bunyi dan pemakaiannya, karena bahasa pertama-tama bersifat bunyi. Begitu pula bagi orang yang ingin mempelajari bahasa kedua, tentu harus dapat mengenali dan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa yang dipelajarinya (Samsuri, 1991:91).

B.  Pengertian Bahasa Ibu dan Bahasa Asing
Bahasa ibu yaitu bahasa yang sehari-hari disebut Bahasa Daerah (bahasa pertama). Bahasa ibu atau bahasa pertama adalah bahasa yang diajarkan dan dipakai dilingkungan keluarga dan pada umumnya juga, di daerah anak itu tinggal (Samsuri, 1991:7). 
Jadi bahasa ibu adalah bahasa yang dimana seorang anak memperoleh bekal bahasa komunikatif dan penggunaannya, sebelum ia masuk sekolah. Adapun setelah masuk sekolah ia belajar membaca dan menulis secara praktis dan khusus. Dan bahasa ibu biasanya disebut bahasa pertama, yang mana bahasa pertama adalah bahasa pada anak ketika mulai berkomunikasi dengan lingkungannya secara verbal, dan semua itu terjadi secara alami.
Bahasa kedua adalah bahasa yang dipelajari setelah seseorang memperoleh bahasa pertamanya. Dalam kamus besar, bahasa kedua adalah bahasa yg dikuasai oleh bahasawan bersama bahasa ibu pada masa awal hidupnya dan secara sosiokultural dianggap sebagai bahasa sendiri. Sering pula bahasa kedua (selanjutnya disingkat B2) disebut sebagai target language (TL), meskipun bahasa yang dipelajari tersebut menjadi bahasa yang ketiga, keempat, dan seterusnya.
Contoh di Indonesia, Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, yaitu bahasa yang di ajarkan disekolah dan dipakai dalam komunikasi resmi, tetapi pada dasarnya tidak dipakai dilingkungan keluarga, memerlukan pula studi secara praktis, yaitu analisis untuk mengetahui struktur bahasa itu dan pemilihan bahan serta metode mengajarkannya. Hal ini sama hal nya juga berlaku bagi pengajaran bahasa asing, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, dan pembelajaran bahasa asing sebagai bahasa ketiga. Atau lebih umumnya lagi bahasa nasional sebagai bahasa kedua, dan bahasa internasional sebagai bahasa ketiga, keempat dan seterusnya.
Pemerolehan bahasa pertama berbeda dengan pembelajaran bahasa kedua. Syafriandi (2009) menyatakan “pemerolehan (akuisisi) bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya”. Jadi, pemerolehan bahasa berhubungan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berhubungan dengan bahasa kedua.

C.  Pembelajaran Bahasa Asing
Pembelajaran bahasa asing berkembang mengacu pada pendapat yang berbeda-beda.(Horma, 1978:49-57) diantaranya sebagai berikut:
Ø  Sejak sebelum pertengahan abad 30-an, telah nampak perhatian besar terhadap pembelajaran bahasa asing baik dari sisi metode pembelajaran, materi, sarana pembelajaran dan dasar-dasar bahasa. Sampai pada permulaan di abad ini, perhatian besar tercurahkan pada bahasa tulis. Nampak sekali kemampuan berbahasa yang ditekankan oleh berbagai lembaga pendidikan dalam proses pengajaran bahasa asing, yakni kemampuan membaca. Sebagaimana pembelajaran bahasa latin yang berkutat pada pengajaran kaidah-kaidah bahasa, kemudian siswa berlatih untuk membaca teks dengan bahasa tersebut, dan selanjutnya menerjemahkan bahasa tersebut kedalam bahasa ibu. Metode ini yang lazimnya disebut Grammar Translation Method (طريقة القواعد والترجمة).
Ø  Pada permulaan abad ini pula, muncul gerakan khusus yaitu Direct Method (طريقة المباشرة) yang penemunya berhipotesis – dengan metode yang salah - bahwa siswa mempelajari bahasa asing dengan metode yang sama dengan pemerolehan bahasa ibu. Yaitu dengan memberikan kalimat dan ucapan dalam jumlah yang banyak dan terus-menerus tanpa adanya aturan, batasan, ketentuan atau sistem bahasa yang ia gunakan.
Ø  Setelah itu, baru pada abad 30-an muncul metode yang mempelajari kalimat-kalimat yang lebih banyak beredar pada bahasa asing. Seperti dalam pembelajaran bahasa Inggris yang menggunakan buku-buku Micael Wesht “1000 kata”. Buku ini dijadikan patokan untuk menciptakan buku-buku bahasa Inggris di dunia, khususnya di Negara Comnulis yang dalam buku ini kemampuan membaca merupakan pondasi atau dasar yang harus dipelajari dan ditekuni oleh siswa.
Ø  Sejak perang dunia kedua khususnya di USA, mulai memperhatikan bahasa modern dan lebih berkonsentrasi pada susunan bahasa dari pada penggunaan kosa kata. Untuk memenuhi hal itu didirikanlah sekolah Deskriptif-Formalis. Sebagai hasilnya adalah para ahli bahasa menerapkan teorinya tanpa perlu bantuan dari ahli pendidikan. Selain itu, juga mengenyampingkan faktor-faktor selain bahasa yang terdapat dalam dunia pendidikan. Fenomena itu nampak jelas khususnya pada abad 50 dan 60-an, yang senantiasa disertai perlawanan terhadap penggunaan dialog (hiwar) sebagai materi utama dalam pembelajaran bahasa asing.
Berkonsentrasi penuh terhadap bahasa komunikasi dan dialog dengan memperhatikan fenomena phonetik yang tak pernah disentuh oleh bahasa tulisan, serta penggunaan teknologi untuk membantu para guru dalam mengajar, salah satunya adalah penggunaan tape recorder.
Ø  Dilakukannya studi perbandingan yang komprehensif antara bahasa ibu dan bahasa asing untuk menemukan letak perbedaanya yang paling mendasar. Setelah itu perlu ciptakan laboratorium bahasa yang merupakan media pembelajaran efektif sampai masa sekarang ini.
Ø  Sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran bahasa, hendaknya menggabungkan antara spesialis pendidikan dan spesialis bahasa agar mencurahkan bidangnya masing-masing. Ahli pendidikan berkonsentrasi pada bidang praktis sementara ahli bahasa berkonsentrasi pada bidang teori dan konsep.
Dari sudut pandang psikologi perilaku bahasa merupakan entitas dari kumpulan kebiasaan yang mendorong adanya pemerolehan bahasa melalui Respon-Stimulus. Oleh karena itu para ilmuwan berpendapat bahwa penyampaian bahasa mulai dari bagian terkecilnya yang dituangkan kedalam contoh yang serupa dengan tujuan melatih pelajar untuk mendalami setiap bagian sampai batas tertentu. Kemudian latihan-latihan secara menyeluruh hingga siswa berhasil mempelajari semua materi.
Ø  Penggunaan metode Audio Lingual Approach (الطريقة السمعية الشفوية) yang merupakan fenomena bahasa lisan dan pembelajaran bahasa asing yang berasal dari dasar-dasar dan hipotesis-hipotesis yang diterjemahkan kedalam langkah kerja yang diperhatikan, sebagaimana yang di hasilkan oleh buku diktat dan alat-alat atau media belajar. Realitasnya, bahwa studi-studi terdahulu dari konteks psilogis telah menjadi dasar teori psikologi. Hal itu karena bahasa bukanlah kumpulan adat-kebiasaan saja tetapi lebih merupakan sarana yang dikukuhkan oleh kaidah-kaidah tertentu yang perlu dibedah.
Meskipun Metode Audio Lingual ini berkembang pesat selama dua-tiga dasawarsa di penjuru dunia yang berbeda-beda, namun nampak adanya banyak kekurangan. Walaupun metode yang digunakan setelah itu, juga tak mencapai formatnya yang sempurna sampai sekarang.
Adapun menurut Muljanto Sumardi dalam bukunya Pengajaran Bahasa Asing (1974:32-40), mengemukakan bahwa macam-macam metode dalam pembelajaran bahasa asing, adalah sebagai berikut:
a.    Direct Method.
b.    Natural Method.
c.    Psyological method.
d.   Phonethic Method.
e.    Reading Method.
f.     Grammar Method.
g.    Translatoin Method.
h.    Grammar Translatoin Method.
i.      Eklektic Method.
j.      Unit Method.
k.    Language Control Method.
l.      Min-Men Method.
m.  Practice Theory Method.
n.    Cognate Method.
o.    Dual-Language Method.

Sedangkan dari berbagai bentuk jenis methode yang telah disebutkan diatas, terdapat beberapa methode yang terkenal dan diketahui oleh berbagai kalangan pada umumnya, yaitu diantaranya:
a.    Grammar Translatoin Method.
b.     Direct Method.
c.    Reading Method.
d.   Audio Lingual Approach.
e.    Eklektic Method.

D.  Karakteristik dalam mempelajari bahasa asing
Tabiat manusia dipengaruhi oleh faktor psikologi (terutama pengaruh saraf) dan biologi. Factor ini sangat berpengaruh dalam proses belajar bahasa asing. Selain itu, manusia juga dipengaruhi oleh faktor intelejensia dan pendidikannya. Sebagai contoh motifasi dasar dalam belajar, baik belajar bahasa atau belajar berbagai ilmu pengetahuan yang lain sesuai jenjang pendidikan yang berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan pada bagian karakterstik dalam  mempelajari bahasa asing, berikut ini:
a.    Karakteristik neuro spikologis dalam belajar bahasa asing.
Banyak sekali para pendidik di dunia modern ini yang mengajukan pertanyaan, terutama masalah umur yang cocok untuk memulai belajar bahasa asing. Akhir-akhir ini mayoritas pendapat cenderung untuk memulai belajar bahasa asing sejak umur dini, minimal sebelum baligh(pubertas), sesuai studi Anderson (1960:298-306), Kirsch (hal.399-400), Larew 1961:203-206).
Pendapat-pendapat ini didasari oleh bahwa anak ketika belajar lebih dari satu bahasa pada masa dini, kemampuannya dalam meyerap bahasa lebih baik dari pada diusia dewasa. Pendapat ini juga menjelaskan memungkinkannya seorang anak mempelajari tiga atau empat bahasa asing dengan mudah baik ucapan maupun kemampuannya sebagaimana ia mempelajari bahasa ibu.
Pendapat-pendapat ini dikuatkan oleh para pemerhati-pemerhati bahasa dalam studi mereka. Al-Kindi (penfield, 1959:201-214,) salah seorang ahli bedah sarap menyatakan bahwa otak manusia setelah baligh (dewasa) akan kehilangan plasticitinya. Oleh karena itu belajar bahasa setelah masa ini akan mengalami kesulitan.
Sisi lain, ada pendapat yang meragukan keberhasilan belajar bahasa asing sejak usia dini. Dengan dalih bahwa waktu yang dicurahkan untuk belajar bahasa asing diusia itu akan berpengaruh negative pada pembelajaran bahasa Ibu, sebagaimana juga akan berpengaruh pada pendidikan dan perkembangan otak anak. Inilah yang dalam teorinya mereka sebut Balance of effect, yang menjelaskan bahwa waktu yang digunakan dalam mempelajari bahasa asing akan sangat berpengaruh tehadap pembelajaran bahasa ibu (native language), sebagaimana pengaruh pendidikan secara umum terhadap perkembangan otak anak pada tahun pertama.
Dari sisi neuro physiology, ada studi tentang perberkembangan kemampuan otak secara aplikatif, disebutkan bahwa pada tahun ke sembilan sampai tahun ke dua belas seorang anak mampu memfokuskan dalam belajar berbicara A Specialist in learning to speack , oleh karena itu ketika seorang anak telah mencapai umur sekian akan mampu belajar dua atau tiga bahasa sekaligus secara baik.
Selain itu, ketika seorang anak semakin dewasa ia akan protek dalam belajar bahasa, karenanya seorang guru harus menyediakan kurikulum bahasa yang sesuai dengan kemampuan otak mereka baik laki-laki atau perempuan. Pendapat lain dari Dr. Blompeld, bahwa akan lebih bermanfaat jika menerapkan rencana kurikulum bahasa yang bertujuan mempercepat pembelajaran bahasa asing di tahun kedua, agar mereka dapat memahami bahwa mereka masih pada tahap pemula dalam mempelajari bahasa asing. Hal itu didasarkan bahwa mereka belum cukup umur, yang sesuai dengan perkembangan otak mereka. ada saatnya kematangan biologis pada akal sehingga dapat bekerja secara sempurna sebagaaimana cara kerja anggota tubuh mereka. (Blompeld, 1953: 201-214).
Rumah mempunyai peran efektif dalam pembelajaran bahasa, karena di dalamnya ada aturan yang akan membangun perkembangan akal anak. Seorang ibu akan mudah untuk mendorong anaknya dalam mempelajari bahasa, namun demikian motivasi terbesar tetap ada pada diri anak itu sendiri.
Otak anak kecil masih adaptif atau fleksibel dalam menerima bahasa, sementara otak anak dewasa sudah terkontaminasi oleh visi-misi mereka, oleh karena itu kemampuan anak dewasa dalam mempelajari bahasa lebih rendah dari pada kemampuan seorang anak kecil. Hal itu dapat dikukuhkan dengan sebuah analisa, ketika seorang anak -baik kecil atau dewasa- kembali belajar setelah proses operasi atau sakit yang dapat mempengaruhi organ untuk berbicara (otak bagian kiri), dalam batas tertentu mereka sama, tidak mampu untuk berbicara dengan baik. Namun anak kecil akan lebih mudah berbicara kembali setelah beberapa bulan, sementara anak dewasa hampir tak dapat berbicara dan stagnan kemampuan berbicaranya.
b.    Karakteristik biologis dalam mempelajari bahasa asing.
Jelaslah, bahwa pemerolehan bahasa ibu bergantung pada mekanisme biologis anak Biological Mechanism. Mekanisme otak berkembang dalam jangka waktu yang singkat. Anak yang hingga beranjak pubertas (balig) belum dapat berbicara, maka akan mengalami gangguan berbicara dan menggunakan bahasa seperti manusia pada umumnya. Hal ini ditegaskan oleh pendapat Lennberg (Lennberg, 1966:216-252) dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Biologis Dalam Bahasa” bahwa bahasa ibu tak dapat diperoleh dengan baik selama anak dalam masa pertumbuhan hingga masa tua. Dan rentang waktu tersebut merupakan dimensi paling signifikan dalam psikologi bahasa.
Pendapatnya pula, bahwa batas pemerolehan bahasa pertama adalah saat usia mendekati pubertas (baligh). Hal ini dapat diketahui pada anak-anak yang lemah intelejensianya. Ia nampak lemah dalam memperoleh bahasa hingga mereka sampai pada fase awal pubertas, oleh karena itu akibatnya ketika ia pada masa sulit (bicara) dalam permerolehan bahasa ia mempelajari bahwa ia dalam masa permulaan yang sangat terbatas oleh kekurangan dan kematangan. Hal ini akibat dari rendahnya adaptasi seorang anak sebagai pengaruh dari saraf psikologis anak.
Lennberg menegaskan akan penting dan saratnya lingkup sarap psikologis dalam pemerolehan bahasa asing melalui tabel yang memperjelas perkembangan bahasa, pemerolehan dan pengajaran bahasa ibu, dan bahasa asing. Sebagai berikut:
Bahasa
Umur
Perkembangan bahasa
Bahasa ibu
·       0 – 3 bulan
·       4 – 20 bulan
·       21 – 36 bulan
·       3 – 10 tahun
ü Mengingau dan merengek
ü Merengek dan menyusun kalimat
ü Memperoleh bahasa
ü Belajar beberapa struktur kalimat sederhana dan pengembangannya bergantung seberapa jauh pelafalan kata yang digunakannya
Bahasa asing
·       11 – 14 tahun
·       Pertengahan pubertas hingga fase-fase berikutnya
ü Adanya kemampuan menggunakan bahasa asing
ü Merasa sulit dalam memperoleh dan mempelajari bahasa kedua, dan semakin bertambah umur akan semakin sulit

Dalam studinya Yeni-Komshian, Zubin dan Afendras (hal.288-305, 1968), menjelaskan bahwasanya seorang anak lebih memungkinkan kemampuannya untuk mengucapkan suara-suara bahasa asing dari pada anak besar. Studi ini telah sempurna memuat dua golongan individu mulai umur lima sampai duapuluh satu tahun. Serta eksperimen ini telah dilakukan selama tujuh jam yang memuat tentang dua tema perbedaan pembelajaran serta pelatihan bahasa asing. Namun demikian belum menunjukkan bukti yang konkrit.
Dari analisanya, bahwa anak-anak kecil yang hijrah bersama ayahnya ke Negara baru sebelum menginjak usia dewasa, akan mampu mempelajari bahasa dimana ia bertempat, serta menggunakannnya dengan baik melalui bahasa ucap masyarakat setempat, lebih-lebih dari kedua orang tuanya.

E.  Pengaruh Bahasa Ibu terhadap Bahasa Asing
Pengaruh bahasa ibu terhadap bahasa Asing adalah:
a.         Untuk pembelajaran suatu bahasa asing diperlukan pengadaan studi perbandingan antara bahasa ibu dan bahasa sasaran, sehingga hasil perbandingan itu akan menyingkap hasil persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan struktur kedua bahasa tersebut. Hasil perbandingan itulah yang akan dijadikan pelajaran-pelajaran yang dikaji dan disusun, ujian-ujian yang dibuat, bahkan penelitian-penelitian yang diadakan.
b.        Untuk menemukan kesulitan-kesulitan dalam mempelajari bahasa Asing dengan melakukan perbandingan tersebut (Anis Ibrahim, 1979:262).
c.         Untuk menemukan perbedaan kaidah yang dikenakan dalam subjek bunyi bahasa antara bahasa ibu dan bahasa asing (Anis Ibrahim, 1979:264).
d.        Untuk menemukan perbedaan dalam pembentukan lahjah bahasa asing dengan bahasa ibu  (Anis Ibrahim, 1979:266).
e.         Untuk menemukan unsur-unsur serapan bahasa Asing dan proses penyerapannya dalam bahasa Ibu dengan membandingkan bahasa sumbernya.
f.         Untuk mampu mengaplikasikan ketepatan dalam huruf abjadnya.
g.        Untuk membandingkan antara sistem bunyi bahasa Asig dengan sistem bunyi bahasa Ibu.
h.        Untuk menemukan makna dari arti serapan tersebut.
i.          Untuk mengetahui bunyi yang sama yang terdapat dalam sistem bunyi bahasa Asing dan bahasa Ibu.
j.          Untuk mengetahui bunyi yang hanya terdapat dalam bahasa Asing dan tidak ada dalam sistem bunyi bahasa Ibu.
k.        Untuk mengetahui bunyi yang hanya terdapat dalam bahasa Ibu dan tidak ada dalam sistem bunyi bahasa Asing.
l.          Untuk memahami perbadaan esensial antara bunyi-bunyi yang mirip.
Adapun dalam buku Strategi pembelajaran bahasa arab karya Muhammad Ali Al-Khuli, menjelaskan bahwa pengaruh bahasa ibu terhadap bahasa Asing, paling tidak memiliki dua pengaruh (2010:49-50).
Pertama, ada kalanya kebiasaan dan pengalaman bahasa pertama membantu siswa untuk mempelajari bahasa kedua. Hal ini terjadi jika antara bahasa pertama bahasa ibu dan bahasa baru yang dipelajarinya terdapat kesamaan. Jika dalam bahasa pertama, misalnya ada bunyi-bunyi yang juga ada pada bahasa kedua yang dipelajarinya tentu akan membantunya dalam belajar bahasa kedua.
Kedua, pada waktu yang sama adakalanya kebiasaan dan pengalaman bahasa pertama justru pada tataran tertentu mempersulit siswa dalam mempelajari bahasa kedua. Hal ini terjadi jika cara pelafalan antara bahasa pertama bahasa ibu dengan bahasa baru yang dipelajarinya terdapat perbedaan yang sangat tajam. Sehingga beberapa siswa merasa kesulitan mengucapkan bunyi huruf bahasa Arab tertentu yang memang tidak pernah dikenal dalam bahasa pertamanya sehingga menghasilkan siswa membunyikan huruf Arab dengan dialek, cara, dan kebiasaan yang biasa dilakukan pada bahasa pertama yang karakternya sangat jauh berbeda. Dalam hal ini pengaruh bahasa pertam bersifat negatif dan mempersulit siswa dalam mempelajari bahasa baru.

F.   Dasar-Dasar Yang Harus Diperhatikan Dalam Pembelajaran Bahasa Asing
Dasar-dasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa asing, antara lain:
1.    Tak ada satupun tujuan yang paling cocok untuk diterapkan secara logis dalam pengajaran bahasa asing. Tak ada bukti konkrit bahwa dalam memulai pembelajaran bahasa asing harus sampai pada bahasa komunikasi atau membaca atau bahkan sebaliknya. Sebabnya adalah bervariatifnya kecenderungan dan kebutuhan siswa, serta kesiapannya dalam pembelajaran bahasa asing.
2.    Hendaknya memperjelas tujuan kurikulum pengajaran bahasa asing yang spesifik dengan mempertimbangkan maharah (kemampuan berbahasa) tertentu, yang memungkinkan dapat terealisasi.
3.    Dalam pengajaran bahasa asing bukan berarti merealisasikan tujuan tertentu saja melainkan juga mewujudkan kemampuan dan kesiapan dalam mempelajarinya.
4.    Khusus mengenai pertanyaan “umur berapa yang cocok untuk memulai belajar bahasa asing?”, adalah permasalahan pelik yang membutuhkan strategi politik, social budaya, filsafat dan psikologis. Dalam konteks psikologis hendaknya tidak hanya berkutat pada faktor neuro psikologis saja tetapi juga harus memperhatikan faktor-faktor lain yang telah disebutkan.
5.    Dalam pembelajaran bahasa asing hendaknya kita selalu menekankan perhatian pada sisi sosio-psikologis.
6.    Adanya perbedaan metode pengajaran dalam pembelajaran bahasa asing, karena dipengaruhi oleh bervariatifnya kreatifitas guru dan sejauhmana responsibelitas murid dalam menyikapi pembelajaran tersebut.





















BAB II
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hakikat dari bahasa adalah merupakan alat untuk berkomunikasi, menyampaikan pikiran, gagasan, ekspresi, dan menjalin interaksi (hubungan timbal balik) satu sama lain dalam kehidupan manusia.
Bahasa ibu adalah bahasa yang dimana seorang anak memperoleh bekal bahasa komunikatif dan penggunaannya, sebelum ia masuk sekolah. Bahasa kedua adalah bahasa yang dipelajari setelah seseorang memperoleh bahasa pertamanya.
Karakteristik dalam mempelajari bahasa asing:
a.    Karakteristik neuro spikologis dalam belajar bahasa asing.
b.    Karakteristik biologis dalam mempelajari bahasa asing.

Adapun pengaruh dari bahasa ibu terhadap bahasa Asing sendiri adalah:
1.    Untuk pembelajaran suatu bahasa asing diperlukan pengadaan studi perbandingan antara bahasa ibu dan bahasa sasaran, sehingga hasil perbandingan itu akan menyingkap hasil persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan struktur kedua bahasa tersebut. Hasil perbandingan itulah yang akan dijadikan pelajaran-pelajaran yang dikaji dan disusun, ujian-ujian yang dibuat, bahkan penelitian-penelitian yang diadakan.
2.    Untuk menemukan kesulitan-kesulitan dalam mempelajari bahasa Asing dengan melakukan perbandingan tersebut.
3.    Untuk menemukan perbedaan kaidah yang dikenakan dalam subjek bunyi bahasa antara bahasa ibu dan bahasa asing.
4.    Untuk menemukan perbedaan dalam pembentukan lahjah bahasa asing dengan bahasa ibu.
5.    Untuk menemukan unsur-unsur serapan bahasa Asing dan proses penyerapannya dalam bahasa Ibu dengan membandingkan bahasa sumbernya.

DAFTAR PUSTAKA

أنيس إبراهيم، 1979، الأصوات اللغوية، مكتبة الأنجلوالمصربة.
Samsuri. 1975.  Analisis Bahasa. Malang: PENERBIT ERLANGGA.
Sumardi Muljanto. 1974. Pengajaran Bahasa Asing. Jakarta: PENERBIT BULAN BINTANG.
Chaer, A. 2009. Psikolinguistik: kajian teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Safriandi. 2009. Bahasa Pertama Vs Bahasa Kedua, (http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/11/09/bahasa-pertama-vs-bahasa-kedua/), diakses 8 Juni 2013
http://masaly.wordpress.com/2009/01/10/mempelajari-bahasa-ibu-dan-bahasa-asing/
Al-Khuli Muhammad Ali. 2010. Strategi pembelajaran bahasa Arab. Yogyakarta.: Basan Publishing







0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}