Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » generasi santri salaf

generasi santri salaf

Posted by Jendela Dunia on Friday, 7 August 2015



Selayang pandang pondok pesantren salaf
Sebelum kita lebih dalam lagi membahas tentang pondok pesantren salaf, sebaiknya kita mempelajari dulu apa itu salaf, karena di zaman sekarang lagi trend kata salaf di pakai oleh beberapa pihak, salah satunya aliran salaf, tapi disini saya tidak akan membahas aliran salaf, insya allah bila ada waktu
luang saya akan menuangkan ide pokok madzhab salaf. Oke. Langsung saja.. minum dulu kopinya gan.. :D


Kata salaf merupakan serapan dari bahasa arab salafa yang artinya terdahulu, yang mana berarti pondok pesantren salaf adalah pondok pesantren yang sistem pembelejarannya masih menggunakan metode zaman dulu, zaman dimana belum ada pondok formal atau pondok – pondok pesantren modern yang di dalam terdapat juga sekolah sekolah formal (SD,SMP,SMA).
#gedung pondok pesantren al-faddlu kaliwungu - kendal

Tetapi dalam pondok pesantren salaf tidak di berlakukan sekolah formal, itu berarti bukan tidak boleh, tapi adat kebiasaan di pesatren tersebut tidak menerapkan juga sekolah sekolah formal, walaupun ada beberapa pesantren yang menerapkan sistim ketat bahwa santri dilarang sekolah karena ada hal hal tertentu dari kyainya. Antara lain agar supaya santri tersebut lebih fokus pada pembelajaran ilmu agamanya terutama ilmu alat nahwu sharaf.
Yang akan saya tulis nanti berdasarkan pengalaman saya sendiri yang pernah bermukim atau mondok di salah satu pondok salaf di kaliwungu, tepatnya di al-faddlu wal faddlilah, pengasuh syaikhina KH.Dimyati Rais. Kaliwungu-kendal. Tapi dari berbagai pengalaman yang teman teman saya ceritakan semuanya hampir sama sistim peraturan dan kitab2nya.. hanya beberapa hala saja yang berbeda.

Pondok pesantren adalah suatu lembaga pembelajaran luar sekolah (non formal) yang mana di dalamnya di pimpin oleh kyai yang memiliki santri, jumlahnya pun bervariasi antara ratusan hingga ribuan, santri bertempat tinggal di asrama (pondok) tersebut. Satu kamar berukuran 3x4 m. Pasti anda mengira satu kamar tersebut untuk 3-4 orang bukan? Tidak !! satu kamar minimal di tempati oleh 22 orang. Yaapppss.. betul sekali, kamar berdimensi kecil di tampung oleh 22 orang apa yang anda bayangkan? Didalam kamar tersebut Cuma ada fasilitas lampu listrik dan lemari saja, tidak ada satupun saklar untuk tempat charge handphone, jangankan handphone mas bro,, kipas angin saja tidak di ijinkan, bisa di bayangkan betapa lembab dan panasnya suasana di kamar ketika tidak ada pembelajaran di kelas masing atau dalam waktu luang. TAPI? Jujur dari dalam hati, itu kenikmatan yang luar biasa bagi saya. Hati tentram,tenang,nyaman,problem yang saya rasakan hanya menghafal dan menghafal. Tidak ada itu mikirin cinta :D apalagi tugas tugas yang mahasiswa alami.

Peraturannya pun sangat ketat, antara lain, tidak boleh membawa handphone atau sejenisnya, apabila ketauan membawa maka barang tersebut langsung di hancurkan di tempat, tidak boleh keluar lingkungan pesantren dalam radius 20M. Jadi setiap hari aktifitas yang di lakukan santri selain mengaji hanya di dalam lingkungan pesantren saja, apabila tertangkap keluar pesantren maka hukumannya di cukur gundul di tengah2 lapangan dan di saksikan oleh ribua santri. Malu bukan main !!! dilarang pacaran sudah tentu, mungkin di pesantren modern pun di berlakukan peraturan seperti itu, hukumannya bukan main main kalau sudah menyangkut hal fatal. Di keluarkan dengan tidak hormat. Sangat memalukan seumur hidup bukan?

Tapi semua itu di jalankan oleh santri dengan ikhlas,sabar,tawakal agar supaya mendapat keberkahan dari sang kyai. Tidak ada yang mengeluh atau protes atas peraturan yang di tetapkan, berani masuk berarti siap menanggung semuanya.
Menurut saya pribadi, hal tersebut bukanlah bersifat keras, tapi untuk benar benar mendidik santri yang kompeten, agar menjadi penerus ulama yang mumpuni, mandiri, tawahu’. Maka tidak salah sama sekali peraturan yang di tetapkan oleh manajemen pesantren tersebut.

Dalam hal disiplin waktu, pesantren sangat jeli dalam memperhatikan waktu, seperti pepatah arab al-waqtu ka syaif “ waktu itu bagaikan pedang”
Mulai dari bangun pagi buta jam 4, sudah di oprek2,di gedor2 semua santri oleh pengurus untuk bangun, cambuk yang siap membangunkannya apabila terdapat santri yang masih tidur padahal semuanya sudah bangun, ada pengecualian untuk orang sakit.

Dari jam 04:00 – 04:30 santri di anjurkan untuk menghafal bait2 nadzom yang nanti akan di setorkan pada penguji atau wali kelas atau musytahiq. 04:30-05:00 sholat jama’ah, hal yang wajib di kerjakan oleh semua santri. 05:00-06:00 ngaji sorogan atau bandungan (sistim sorogan adalah dimana santri menghafal dulu diluar kepala makna makna dari kalimat yang nanti di bacanya kepada mutaalim / guru) 06:00 – 07-00 waktu untuk bersantai ria :D, tapi kebanyakan dari mereka di gunakan untuk menghafal nadzom, karena pada dasarnya setiap waktu yang ada di pondok tersebut sangatlah berharga, sangat sayang kalau hanya di gunakan untuk ngopi atau ngobrol di luar syariat, apalagi sampai menimbulkan obrolan ghibah.
#sorogan

Sampailah pada jam kesibukan, :D santri juga sibuk, bukan hanya pengusaha, kesibukan santri bertujuan untuk mencapai keridhoan Allah,
07:00 – 09:30 sekolah madrasah (wajib) istirahat sebentar, kemudian mulai lagi 10:00-11-00 jam kedua, 11:00-12:00 ngaji pasaran atau ngaji sistim cepat (Biasanya khatam hanya dalam sebulan, kitabnyapun bervariasi, dari kitab yang besar sampai kecil. Dalam hal ini saya contohkan ihya ‘ulumudin untuk kitab yang besar dan safinat tunnajah untuk kitab yang kecil.) jam 12:00-13:00 sholat berjama’ah dan istirahat untuk makan, makan? Iyalah.. masa gak ada makan.. :D
13:00 – 14: 30 ngaji al-qur’an, dengan metode yang sangat ketat, 14:30 – 15:30 istirahat
15:30 – 16:30 sholat ashar berjama’ah dilanjut dengan musyawarah / diskusi setiap kelas (nanti akan di jelaskan untuk masing masing kelas atau tingkatan ) dalam musyawarah, musyawir di haruskan mempunyai pertanyaan seputar pembahasan pelajaran yang baru di pelajari tadi pagi, dan musyawir yang lain siap untuk memberikan jawaban yang tepat di sertai argumen yang faktual.
16:30-17:30 ngaji pasaran lagi, tidak wajib, hanya kebnyakan rata rata dari mereka lebih senang untuk ngopi di sore hari, mungkin watak tabiat manusia berbeda beda, dan fisik serta mentalpun juga berbeda, ada yang beranggapan untuk istirahat sejenak setelah banyak aktifitas yang telah dan akan mereka jalani.
17:30 – 19: 30 sholat maghrib dan isya berjama’ah, di sela waktu antara maghrib dan isya, al-mukarom syaikhuna memberikan pengajian kitab, dan 99% santri mengikuti, dari yang paling junior hingga senior, walau kana samian basiiron,
19:30 – 21:00 belajar wajib istilah pesantrennya, menggali lebih dalam setiap pelajaran yang seharian itu di terima.
21:00- 12:00 ngaji pasaran lagi, sekali lagi di jelaskan, ngaji pasaran itu tidak wajib, hanya saja kebanyakan santri menganggap penting demi lebih banyak mendapat ilmu.
Kebayang kan seperti apa rasanya sehari saja tinggal di pesantren? Tapi semua itu terasa tidak ada artinya kalau kita mendapatkan ilmu yang manfaat barokah.


Untuk kitab kitab yang di kaji di pesantren tersebut bervariasi. Tapi lebih mengedepankan kitab alat nahwu sharaf, di susul dengan fiqih, kemudian tarikh,adab, mantiq, balaghoh.dll
Tingkat pertama yaitu tingkat madrasah persiapan, kitab alatnya awamil jawa – jurumiyah jawa
Tingkat kedua yaitu tingkat madrasah persiapan dua, kitab alatnya jurumiyah jawa
Tingkat ketiga madrasah tsanawiyah ula, kitab alatnya awamil jurjani, i’lal
Tingkat keempat madrasah tsanawiyah tsani, kitab alatnya matan jurumiyah, sharaf
Tingkat kelima madrasah tsanawiyah tsalits, kitab alatnya imrithi’, nadzom maqsud
Tingkat keenam aliyah ula, kitab alatnya nadzom Alfiyah ibnu malik. Nadzom legendaris karangan imam ibnu malik, berisi 1002 bait nahwu sharaf. Kitab fiqihnya fatkhul mu’in
Tingkat ketujuh aliyah tsani, kitab alatnya melanjutkan di aliyah ula, alfiyah ibnu malik. Dan di tingkat ini para santri di wajibkan sudah menghafal di luar kepala nadzom alfiyah yang berjumlah 1002 bait. Menurut penulis, sangat istimewa kalau sampai hafal nadom tersebut dan mengetahui seluruh maknanya. Mumtazan jayyidan
Tingkat terakhir yaitu tingkat kedelapan aliyah tsalits. Mengkaji mantiq dan balaghoh.
Delapan tahun jika ingin mendapat ijazah sah dari pondok pesantren al-faddlu, bukan waktu yang singkat, buka perjuangan yang mudah, maka tak heran jika kecerdasan para alumni santri salaf sangat mumpuni di banding dengan mahasiswa, maaf!! Kalau berbicara soal perbandingan, tanpa maksud sedikitpun untuk membandingkan, karena penulis ribadi juga mahasiswa tingkat akhir ketika menulis tulisan ini, sangat naif kalau menjelek jelekan diri sendiri.
Secara lahiriah, kecerdasan santri lahir karena didikan yang begitu luar biasa. Di tunjang dengan barokah sang kyai yang kharismatik.
Di indonesia sendiri, masih terdapat pondok pesantren salaf yang masih bertahan dengan prinsipnya. Antara lain yang di sebutkan di atas, tempat penulis bernaung menuntut ilmu,
Pondok pesantren al-faddlu wal faddlilah pengasuh abuya dimyati rois al hajj. Kaliwungu kendal
Pondok pesantren apik. Kaliwungu – kendal
Pondok pesantren al-anwar. Sarang rembang. Pengasuh syaikhuna KH.zuhrul Anam zubair.
Pondok pesantren At-taujieh Al-Islami pengasuh syaikhuna zuhrul anam hisyam,mantu dari mbah maimun, penulis pernah nyantri sebentar disini, hanya setahun, karena tuntutan zaman yang harus serba ES SATU ES DUA ES GOSROK,, terpaksa penulis meneruskan untuk kuliah di cirebon.
Pondok pesantren tebu ireng,jombang, pondok pesantren lirboyo. Dan masih banyak lagi.
Semoga akan terus bertahan ila yaumul akhir, untuk terus mengokohkan akidah ahlussunah wal jama’ah di indonesia. Amiinn..
Gimana bro? Mau mencoba salah satu di pondok pesantren tersebut?
Sedikit untuk motivasi ilmu : saya sajikan beberapa ayat alqur’an dan hadist shohih
"Allah mengangkat derajat orang yang berilmu". Sebagaimana firman Allah, (… Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan). (QS. Mujadilah 11)
Menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga, ”Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surge,” (HR Muslim)

Terimakasih, semoga bermanfaat bagi pembaca


1 comments:

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}