Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » Bias Budaya Dan Konselor Peka Budaya

Bias Budaya Dan Konselor Peka Budaya

Posted by Jendela Dunia on Thursday, 6 August 2015



PENDAHULUAN
Untuk memiliki kepekaan budaya, konselor dituntut untuk mempunyai pemahaman yang kaya tentang berbagai budaya diluar buadayanya sendiri, khususnya berkenaan dengan latar belakang budaya kliennya.
Usaha untuk menumbuhkan kesadaran budaya pada konselor bukanlah sesuatu yang muudah. Konselor hendakanya paham dan mengerti akan bias-bias budaya yang dibawa oleh kliennya.
Oleh karena itu dalam makalah ini penulis akan memaparkan mengenai bias budaya dan konselor peka budaya.

PEMBAHASAN

         Bias Budaya dalam Teori-teori Konseling
Dalam proses konseling, konselor maupun klien membawa karakteristik-karakteristik psikologinya. Seperti kecerdasan, bakat, minat, sikap, motivasi, kehendak dan tendensi-tendensi kepribadian lainnya. sejauh ini,
di Indonesia banyak perhatian diberikan terhadap aspek-aspek psikologis tersebut (terutama pada pihak klien), dan masih kurang perhatian diberikan terhadap latar belakang budaya konselor maupun klien yang ikut membentuk perilakunya dan menentukan efektivitas proses konseling (Bolton-Brownlee, 1987). Misalnya, etnik, afiliasi kelompok, keyakinan, nilai-nilai, norma-norma, kebiasaan, bahasa verbal maupun non verbal, dan termasuk bias-bias yang dibawa dari budayanya.
Variable-variabel yang terlibat dalam proses konseling
Kecerdasan
Minat
Bakat
Sikap
Motivasi
Kehendak
Kepribadian
Etnik/ras
Keyakinan
Nilai-nilai
Norma-norma
 Kebiasaan
Bias-bias
Status sosial, dll

Kecerdasan
Minat
Bakat
Sikap
Motivasi
Kehendak
Kepribadian
Etnik/ras
Keyakinan
Nilai-nilai
Norma-norma
 Kebiasaan
Bias-bias
Status sosial, dll

KLIEN
KONSELOR

Di antara implikasi dari gambar tersebut ialah, pertama-tama konselor harus memahami dirinya sendiri, termasuk bias-bias budaya yang ada pada dirinya. Kemampuan konselor untuk memahami dirinya adalah untuk titik awal kemampuannya untuk memahami dan membantu klien. Pemahaman konselor terhadap klien mestilah menyeluruh, meliputi atribut-atribut yang disebutkan di atas. Dalam konselor  berasal dari lingkungan sosial-budaya yang berbeda dengan kondisi klien, maka konselor harus secara sadar dan cepat melakukan penyesuaian agar respons-respons lebih efektif.
Dalam hal ini, teori-teori konseling yang telah dianggap mapan dan diterima luas sekalipun tetap mengandung bias budaya. Nathan Deen (1985) memberikan contoh bahwa model Rogerian (dari Carl Rogers) yang dikenal dengan konseling yang berpusat pada klien (Client Centered Counseling)- mengandung bias budaya apabila diterapkan kepada semua orang tanpa kecuali. Konseling ini mengandalkan kemampuan klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara verbal dan artikulatif yang dengan itu hubungan konseling dibangun.
Menurut penelitian, di negera-negara Barat sekalipun, kemampuan itu tidak dimiliki oleh semua orang dari semua strata sosial. Kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan secara artikulatif hanya dimiliki oleh kelompok masyarakat dari kelas menengah ke atas, dan tidak berlaku untuk kelompok bawah. Sikap pasif klien yang bersumber dari kendala-kendala budayanya berbeda sekali dengan klien yang diam karena enggan mengungkapkan diri, dikenal dengan the reluctant client (Dyer & Vriend, 1977) sebagai ekspresi penolakannya terhadap konselor.
Relevansi teori-teori utama dalam konseling dan psikoterapi yang lahir dalam masyarakat Barat untuk diterapkan di semua konteks sosial budaya di dunia dipertanyakan, bahkan oleh para ahli di Negara Barat sendiri. Wohl (1986) misalnya menunjukkan resiko yang timbul apabila teori-teori utama dalam konseling (Rogerian, Freudian, Adlerian, Traits And Factor Theory. Eksistensialisme) diterapkan begitu saja di tempat lain, mengingat konteks budaya tempat teori-teori itu lahir sangat berbeda. Secara jujur ia mengatakan bahwa “verbal psychotherapy, especially of the psychodynamic and psychoanalytic orientations, has not traveled well beyond international and cultural frontiers”. Bias budaya dalam teori konseling dan psikoterapi secara tegas dilukiskan pula oleh Pande (Wohl, 1986: 139) dengan kata-kata : “that psychotherapy was a Western reaction to pecualiarly Western problems of living rooted in Western styke of life”.
Dari penelitian Harrison (Atkinson, 1985: 193) diketahui misalnya bahwa klien cenderung lebih menyukai konselor dari ras yang sama. Hal ini sesuai dengan apa yang dalam komunikasi disebut heterophily dan homophily (Rogers: 1983: 18-19). Menurutnya, komunikasi yang efektif terjadi apabila dua individu memiliki banyak kesamaan (homophilous). Dan begitu pun sebaliknya. Ras dan etnik merupakan identitas dasar yang secara tidak disadari mengikat individu-individu dalam etnik/ras yang bersangkutan, yang menurut arl Gustav Jung disebut ketidak sadaran kolektif yang bersifat primordial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Efektivitas proses konseling juga dipegaruhi oleh sifat-sifat psikologis yang terkait dengan latar belakang etnik/budaya konselor. Draguns (1986: 8) memberikan contoh bahwa konselor kulit putih lebih banyak menggunakan ilustrasi dengan didominasi perilaku individual, sedangkan konselor kulit hitam menggunakan ungkapan individual maupun sosial.
Triandis (1986) yang dianggap sebagai pelopor psikologi Lintas Budaya mendekati isu konseling lintas budaya dari segi perbedaan budaya individualistic dan kolektif. Budaya individualistic adalah cirri masyarakat Barat, sedangkan budaya Timur dan Amerika Latin adalah kolektif. Dalam budaya kolektif, perilaku sangat ditentukan oleh keanggotaan kelompok dan kebersamaan dan harmoni. Sedangkan budaya individualistik oleh “pilihan pribadi” dan kebebasan.
Budaya kolektif lebih banyak memiliki power distance, yaitu orang yang mempunyai kedudukan tinggi dan berbeda dalam masyarakat, sedangkan dalam budaya individualistic power distance lebih rendah dan hubungan pun lebih egaliter.  Dikaitkan dengan konseling, dalam konteks di mana power distance tinggi, hubungan konselor dan klien menjadi lebih berjarak dank lien tergantung pada konselor. Usaha konselor untuk mengurangi jarak bisa dianggap sebagai sesuatu yang dapat mengganggu persepsi klien terhadap konselor.
Stereotip, Prasangka, Rasisme
Dalam masyarakat multikultural, konseling dihadapkan pada berbagai kendala dan sangat potensial untuk terjadinya bias. Hal ini merentang dari perbedaan yang sifatnya “halus” dan kadang-kadang tidak disadari seperti yang bersumber dari variable-variabel perbedaan status sosial-ekonomi, asal daerah dan gender, hingga yang “nyata” seperti perbedaan bahasa, stereotip, prasangka dan rasisme.
Untuk bias yang pertama (stereotip), konselor misalnya memperlakukan klien dari keluarga kaya lebih baik daripada klien yang berasal dari keluarga miskin, lebih memihak gaya hidup kota ketika melayani klien yang berasal dari desa, lebih siap menerima klien dari suku atau agama yang sama daripada klien yang berbeda. Stereotip mengandung segi negative karena: (a) dapat memberikan stigma kepada seseorang seakan-akan sesuatu itu benar padahal itu benar. (b) seakan-akan sifat tertentu berlaku untuk setiap individu dalam kelompok yang bersangkutan. (c) dapat menjadi “self-fulfilling prophecy” bagi seseorang yang terkena stereotip- ia melakukan sesuatu karena telah dicap demikian.
Prasangka  adalah kebencian, kecurigaan, dan rasa tidak suka yang sifatnya irrasional terhadap kelompok etnik, ras, agama, atau komunitas tertentu. Seseorang dilihat bukan berdasarkan apa yang dilakukannya, melainkan berdasarkan karakteristik yang superficial bahwa dia itu anggota suatu kelompok. Orang yang memiliki kecenderungan kuat berprasangka akan sulit berubah sikapnya, meskipun kepadanya telah diberikan informasi yang sebaliknya. Dalam hubungan antar etnik, ras, agama, dan kleompok masyarakat di dunia, prasangka masih sangat tebal.
Rasisme adalah setiap kebijakan, praktik, kepercayaan, dan sikap yang diterapkan kepada kelompok individu berdasarkan rasnya (Jandt, 1998: 79). Rasisme lebih berbahaya daripada prasangka karena disertai penggunaan kekuatan untuk menekan kelompok lain yang biasanya minoritas. Sikap seperti ini dapat ditemukan di dunia di bagian manapun sepanjang sejarah. Misalnya, kekejaman yang dialami bangsa-bangsa Eropa Utara berambut Pirang oleh Tentara Romawi pada dua ribu tahun yang lalu yang diabadikan dalam Collosium di Roma, dan lain sebagainya.
Sama halnya dengan stereotip dan prasangka, konselor lintas budaya juga harus mampu melepaskan diri dari sikap-sikap yang cenderung rasis berdasarkan prinsip yang telah dikenal, yaitu “menerima klien apa adanya dan tanpa syarat.
Perlunya Konselor Peka-Budaya
Dipandang dari persepektif lintas-budaya, situasi konseling adalah sebuah “perjumpaan kultural” (cultural encounter) antara konselor dengan konseli. Sunberg (1981: 305) melukiskan konseling sebagai “a cultural solution to personal problem solving”. Dalam proses konseling, terjadi proses belajar, transferensi dan kounter transferensi, dan saling menilai. Pada keduanya juga terjadi saling menarik inferensi.
Pesan pokok yang terkandung di atas adalah perlunya konselor yang memiliki kepekaan budaya (culturally sensitive counselor) untuk dapat memahami dan membantu klien. Konselor yang demikian adalah yang menyadari benar bahwa secara kultural, individu memiliki karakteristik yang unik dan kedalam proses konsleing ia membawa-serta karakteristik tersebut. Hal yang sama sesungguhnya berlaku kepada konselor sebagaimana dilukiskan terdahulu. Dengan kesadaran budaya ini, maka konselor akan terhindar dari kecenderungan untuk memukul rata semua individu yang ditanganinya yang notabene berasal dari lingkungan sosial budaya yang berbeda-beda.
Untuk memiliki kepekaan budaya, konselor dituntut untuk mempunyai pemahaman yang kaya tentang berbagai budaya di luar budayanya sendiri, khususnya berkenaan dengan latar belakang budaya kliennya.
Usaha untuk menumbuhkan kesadaran budaya pada konselor bukanlah sesuatu yang mudah. Disamping bias-bias yang diuraikan terdahulu adalah masih kuatnya apa yang oleh Triandis, Malvas dan Davidson (Drugens, 1986) disebut dengan “pseudoetic orientation” pada konselor, yaitu: “ the assumption that the observer’s own culturally bound experience is a adequate guide to what is humanly universal” – asumsi atau kepercayaan bahwa pengalaman yang secara kultural berakar pada budaya pengamat (observer) dianggap sebagai pegangan dalam memahami apa yang berlaku secara universal.
Penafsiran perilaku klien dengan menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku di luar konteks budayanya juga menjadi pangkal kesulitan dalam membangun relasi konseling yang efektif. Contohnya yang paling nyata adalah ada perilaku yang dianggap malasuai atau bahkan patalogis bila dilihat dari perspektif “budaya luar”, sedangkan “budaya dalam” klien hal itu dianggap biasa. Hal ini dikenal dengan “enkapsulasi konselor” (counselor encapsulation) (Wrenn, 1985) yang terjadi karena beberapa sebab:
a.       Konselor mendefinisikan berdasarkan suatu perangkat asumsi monokultural dan stereotipe yang kemudian dianggap lebih penting dari pada apa yang sebenarnya ada dalam kenyataan.
b.      Adana ketidakpekaan terhadap keragaman budaya individu dan secara tidak disadari konselor berasumsi bahwa pandangan terhadap realitas mencerminkan realitas sebenarnya (padahal tidak selalu).
c.       Konselor dan siapapun yang bergerak dalam profesi bantuan diliputi asumsi untuk menerima pandangan terhadap realitas tanpa pengujian terlebih dahulu.

   Perbedaan Konselor Peka Budaya dengan Konselor Bias Budaya

Adapun karakteristik konselor peka budaya sebagai berikut :
a.        Konselor lintas Budaya sadar terhadap nilai-nilai pribadi yang dimiliki dan asumsi-asumsi terbaru tentang prilaku manusia
Konselor sadar bahwa dia memiliki nilai-nilai sendiri yang dijunjung tinggi dan akan terus dipertahankan. Disisi lain, konselor juga menyadari bahwa klien memiliki nilai-nilai dan norma yang berbeda dengan dirinya. Oleh karena itu, konselor harus bisa menerima nilai-nilai yang berbeda itu sekaligus mempelajarinya.
b.      Konselor lintas budaya sadar terhadap karakteristik konseling secara umum
Konselor memiliki pemahaman yang cukup mengenai konseling secara umum sehingga akan membantunya dalam melaksanakan konseling, sebaiknya sadar terhadap pengertian dan kaidah dalam melaksanakan konseling. Hal ini sangat perlu karena pengertian terhadap kaidah konseling akan membantu konselor dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh klien.
c.       Konselor lintas budaya harus mengetahui pengaruh kesukuan dan mereka mempunyai perhatian terhadap lingkungannya
Konselor dalam melaksanakan tugasnya harus tanggap terhadap perbedaan yang berpotensi untuk menghambat proses konseling. Terutama yang berkaitan dengan nilai, norma dan keyakinan yang dimiliki oleh suku agama tertentu. Terelebih apabila konselor melakukan praktik konseling di Indonesia yang mempunyai lebih dari 357 etnis dan 5 agama besar serta penganut aliran kepercayaan.

Ciri-Ciri Pelayanan Konseling yang Bias Budaya

a.       Pelayanan konseling yang bias budaya akan dapat terjadi jika antara konselor dan klien mempunyai perbedaan.
b.      Konselor sadar bahwa latar belakang kebudayaan yang dimilikinya.
c.       Konselor mampu mengenali batas kemampuan dan keahliannya
d.      Konselor merasa nyaman dengan perbedaan yang ada antara dirinya dan klien dalam bentuk ras, etnik, kebudayaan, dan kepercayaan.











KESIMPULAN

Konseling lintas budaya melibatkan konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias budaya pada pihak konselor yang mengakibatkan konseling tidak berjalan efektif. Agar berjalan efektif, maka konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas budaya, dan memiliki keterampilan-keterampilan yang responsif secara kultural. Dengan demikian, maka konseling dipandang sebagai “perjumpaan budaya” (cultural encounter) antara konselor dan klien.


























DAFTAR PUSTAKA
Supriadi, Dedi. 2001. Konseling Lintas Budaya: Isu-Isu dan Relevansinya di Indonesia. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.




























[1] Dedi Supriadi, Konseling Lintas Budaya: Isu-Isu dan Relevansinya di Indonesia, (Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2001), hlm. 22-34.


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}