Menggapai kemulyaan dengan ILMU

Home » » Asalib Ta’lim Al-Tarakib Al-Lughawiyah

Asalib Ta’lim Al-Tarakib Al-Lughawiyah

Posted by Jendela Dunia on Friday, 14 August 2015



Asalib Ta’lim Al-Tarakib Al-Lughawiyah
            Yang dimaksud dengan Tarakib Lughawiyyah disini adalah tarakib nahwiyyah, karena di antara unsur penting yang harus diajarkan oleh guru bahasa adalah tata bahasa, baik nahwu maupun saraf.  
A.    Teori-Teori Tata Bahasa

Dalam linguistik modern ada beberapa teori tata bahasa yang perlu dijelaskan karena memiliki keterkaitan dan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pembelajaran struktur bahasa. Diantara teori-teori tersebut adalah Tata Bahasa Tradisional Taqlidiyyah, Teori Unsur Bawahan Langsung ( Immediate Contstituent Ingg.; al-mukawwinat al-Mubasyirah ), Teori Tagmemik, dan Tata Bahasa Transformatif. Keempat teori tersebut akan diuraikan secara singkat dibawah ini:
1.      Teori Tata Bahasa Tradisional
Teori Tata Bahasa Tradisional adalah teori yang membagi kata kedalam nomina ( isim ), verba ( fi’il), dan partikel ( huruf ).
2.      Teori Unsur Bawahan Langsung
Teori modern ini melihat bahwa kalimat terdiri dari dua unsur bawahan. Setiap unsur bawahan dari kalimat ini juga tersusun dari dua unsur bawahan lagi, dan begitu seterusnya hingga sampai pada kata tunggal.
3.      Teori Tagmemik
Teori ini melihat bahwa kata bisa diklasifikasikan dengan dua cara: morfologi dan sintaksis fungsional. Selain itu, teori ini memperkenalkan jenis-jenis tata bahasa berdasarkan pola kalimat qawalib.
4.      Teori Tata Bahasa Transformatif
Teori linguistik ini relatif baru. Muncul pertama kali di Amerika sekitar tahun 1950-an. Penulis mengkaji masalah ini dalam dua buku, edisi bahasa Inggris dan edisi bahasa Arab.
Teori Tata Bahasa Transformatif sendiri memiliki beberapa landasan pemikiran. Menurut teori ini, setiap kalimat memiliki struktur luar dan struktur dalam. Struktur dalam bisa berubah menjadi struktur luar melalui aturan transformasi.
B.     Implementasi dalam Pembelajaran
Kita bisa memanfaatkan keempat teori di atas dalam pembelajaran struktur bahasa dengan cara sebagai berikut:
Klasifikasi yang diberikan teori tata bahasa tradisional sangat penting bagi guru dalam pengajaran struktur bahasa. Adanya kategori verba, nomina, dan partikel, dan fungsi sintaksis seperti fa’il (subjek), maf’ul (objek), mubtada’ ( subjek ), khabar (predikat) dan sebagainya akan membantu dan mempermudah guru dalam mengajar. Pada waktu yang sama juga membantu siswa dalam proses belajar bahasa. Yang perlu diperhatikan oleh guru adalah memilih atau mendahulukan yang penting dan mengakhirkan atau menunda yang kurang penting.
Guru bisa memanfaatkan dan menerapkan teori unsur bawahan langsung dalam menganalisa kalimat dan mengganti unsur-unsurnya. Karena mungkin sekali guru memberi model drill latihan pada siswanya dengan cara mengganti dua kata dengan satu kata pada kalimat yang sama.
Teori tagmemik memberikan jasa yang sangat luar biasa dalam latihan pola kalimat atau patern practice. Latihan bahasa sesungguhnya sangat memerlukan banyak pengulangan. Oleh karena itu, kita bisa mengulang-ulang sebuah pola kalimat dengan mengubah beberapa bagiannya.
Sedangkan teori tata bahasa transformatif memberikan landasan teoritis dalam latihan mengubah misalnya kalimat positif menjadi negatif, kalimat tanya menjadi kalimat berita atau sebaliknya, dan kalimat nominal (jumlah ismiyyah) menjadi kalimat verbal jumlah fi’liyyah atau sebaliknya.
C.     Makna Gramatikal
Makna sebuah kalimat terbentuk oleh suasana gramatikal dan kosakatanya. Oleh karena itu, kalimat mempunyai dua makna, yaitu makna gramatikal dan makna leksikal.
Makna gramatikal melibatkan empat unsur. Pertama, komposisi kata yakni urutan kata dalam sebuah kalimat memiliki makna tertentu. Kedua, kata fungsional. Ketiga, intonasi tangim. Keempat, bentuk kata sigah.
D.    Pengajaran Makna Gramatikal
Kedudukan makna gramatikal dalam sebuah kalimat sangat strategis, sama halnya dengan makna leksikal. Pembaca atau pendengar mungkin mampu memahami makna leksikal dalam sebuah kalimat, tetapi belum tentu ia mampu memahami makna kalimat secara utuh jika tidak memahami makna gramatikal kalimat tersebut. Ketidak mampuan pembaca atau pendengar untuk memahami hubungan antara kata dalam kalimat dapat menimbulkan rusaknya makna kalimat. Sebagaimana dimaklumi, secara umum tulisan Arab tidak berharakat. Ini artinya bahwa memahami hubungan gramatikal antara kata dalam suatu kalimat sangat penting bagi pembaca.
Diantara hubungan antara kata yang biasa ditemukan dalam teks bacaan adalah:
1.      Hubungan antara Fi’il (verba) dan Fa’il (subjek)
2.      Hubungan antara Fi’il (verba) dan Maf’ul bih (objek)
3.      Hubungan antara Fa’il (subjek) dan Maf’ul bih (objek)
4.      Hubungan antara Sifah (atribut) dan mausuf (benda yang diberi sifat)
5.      Hubungan antara Fi’il Syarat dan Jawabnya
6.      Hubungan antara Jar dan Majrur
7.      Hubungan antara Ma’tuf dan Ma’tuf Alaih
8.      Hubungan antara Mudaf dan Mudaf Ilaih
9.      Hubungan antara Syibul Jumlah dan Muta’allaq
10.  Hubungan antara Mubtada’ (subjek) dan Khobar (predikat)
11.  Hubungan antara Kana, Isim, dan Khabarnya
12.  Hubungan antara Inna, Isim, dan Khabarnya
13.  Hubungan antara al-Nafi dan al-Manfi
Guru seyogyanya dapat membantu siwa memahami makna gramatikal sebuah kalimat dengan cara berikut: pertama, guru harus menjelaskan bagaimana pengaruh kedudukan kata dalam kalimat terhadap makna. Ia pun harus menjelaskan hubungan antara kata dalam kalimat tersebut. Kedua, guru harus menjelaskan peran setiap kata fungsional dalam pembentukan makna kalimat. Ketiga, guru harus menjelaskan bahwa intonasi sangat berpengaruh pada kalimat. Keempat, guru harus memperhatikan makna gramatikal pada tataran morfologis.
Huruf-huruf tambahan yang ikut membentuk kata, baik yang berada di awal maupun akhir, mempunyai makna tersendiri yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Guru harus mengajak siswanya agar memperhatikan perubahan bentuk kata secara morfologis. Tentunya, disesuaikan dengan tingkat kecerdasan dan kemampuan siswa serta situasi dan kondisi.
E.     Strategi Pembelajaran Gramatikal
1.      Musykilat  Al-Thullab
Strategi pembelajaran ini dapat mengakomodasikan kebutuhan dan harapan seluruh mahasiswa, sehingga mahasiswa yang pemalu sekalipun, karena ia memberi peluang kepada mahasiswa menanyakan hal-hal yang belum dimengerti dari gramatikal yang telah diajarkan.
2.      Istintajiyyah
Pola pembelajaran ini dapat disampaikan dengan strategi  modifikasi lecturing ( ceramah ), sehingga mahasiswa dapat tetap konsentrasi  mengamati berjalannya materi, sambil diselangi dengan berbagai contoh untuk pemantapan materi.
3.      Muqaranat Al-Nash
Teknik pembelajaran ini bertujuan agar mahasiswa dapat membandingkan dua model tulisan yang berbeda bentuk, namun sama tema bahasan. Kajian ini lebih difokuskan pada unsur gramatikal bahasannya.
4.      Tahlil Al-Akhtha
Ini adalah strategi yang menuntut adanya kecermatan mahasiswa dalam mengidentifikasi dan menganalisa kesalahan pada tata bahasa Arab. Disamping menghadirkan pembenaran atas kesalahan tersebut.
5.      Ikhtiyar Al-Jumal
Ini adalah strategi yang membutuhkan kejelian  mahasiswa untuk dapat memilih antara kalimat yang salah dan kalimat yang benar. Strategi ini dapat berguna untuk menggugah sense of language mahasiswa terhadap struktur kalimat bahasa arab.
F.      Kalimat dan Pola Kalimat
Kalimat dan pola kalimat merupakan dua istilah yang sama sekali berbeda tetapi mempunyai hubungan yang sangat erat.
Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan untuk membedakan antara istilah kalimat dan pola kalimat.
Kalimat merupakan pernyataan yang riil, sedangkan pola kalimat merupakan bentuk tersembunyi yang terkandung dalam kalimat.
Jumlah kalimat baik yang sudah atau yang belum terungkap dalam setiap bahasa tidak terbatas. Sementara jumlah pola kalimat dalam setiap bahasa sangatlah terbatas.
Setiap kalimat memiliki pola tertentu. Sedangkan setiap pola kalimat bisa memiliki kalimat yang tak terhingga jumlahnya.
G.    Latihan Pola Kalimat
Pembelajaran  struktur bahasa pada hakekatnya adalah pembelajaran pola kalimat. Cara terbaik untuk mengajarkan pola kalimat adalah berlatih pola kalimat. Latihan pola kalimat yang terbaik adalah dengan menerapkan pola kedalam berbagai kalimat dengan melakukan perubahan kata-katanya. Artinya, latihan pola kalimat sesungguhnya mengulang-ulang pola kalimat dengan kata-kata yang bervariasi.
1.      At-Ta’wid Sabit Al-Mauqi
Salah satu cara latihan pola kalimat adalah latihan mengganti kata yang menduduki jabatan tertentu.
2.      At-Ta’wid Mutagayyir Al-Mauqi’
Dalam latihan ini, penggantian terjadi pada kata yang menduduki jabatan kedudukan yang berbeda sesuai dengan stimulus yang diberikan guru.
3.      At-Ta’wid Al-Basit
Pada latihan jenis ini, guru hanya menyampaikan satu stimulus atau satu kata yang harus diganti ditempat yang sesuai.
4.      At-Ta’wid Al-Muta’addid
Pada latihan jenis ini, guru menyampaikan dua stimulus atau dua kata sekaligus.
5.      At-Ta’wid bi Al-Musir Al-Syafawi
Stimulus yang diberikan guru biasanya berbentuk ungkapan lisan, baik satu kata maupun dua kata.
6.      At-Ta’wid bi Al-Musir Al-Suri
Terkadang stimulus yang diberikan guru berupa gambar yang diperlihatkan didepan kelas. Kemudian guru meminta salah seorang siswa untuk mengungkapkan kalimat dengan penggantiannya sesuai dengan stimulus pada gambar.
7.      At-Ta’wid bi Al-Musir Al-Mahsus
Dalam latihan ini guru memberikan stimulus dengan menunjukkan benda konkret.
8.      At-Ta’wid bi Al-Musir Al-Khamil
Dalam latihan ini, stimulus tidak mempengaruhi kata-kata yang lain dalam kalimat yang ada. Inilah yang dimaksud dengan penggantian dengan stimulus pasif, karena penggantian hanya terjadi pada kata yang sesuai dengan stimulus saja tanpa diikuti penggantian pada kata-kata yang lain.
9.      At-Ta’wid bi Al-Musir Al-Nasyit
Yang dimaksud dengan stimulus aktif adalah stimulus yang mempengaruhi penggantian kata-kata yang lain dalam kalimat tersebut.
10.  At-Ta’wid At-Tarakumi
Dalam latihan ini, penggantian kata terjadi pada kalimat terakhir yang mesti diubah.
11.  At-Ta’wid gair At-Tarakumi
Sedangkan pada penggantian gair Tarakumi yang menjadi rujukan adalah kalimat yang pertama.
12.  At-Tamrin Al-Halaqi
Latihan ini merupakan jenis latihan substitusi yang diakhiri dengan kalimat yang pertama.
13.  At-Tamrin Al-Mutasalsil
Dalam latihan ini seorang siswa mengajukan pertanyaan, dan pertanyaan itu dijawab oleh siswa yang di sampingnya, kemudian siswa yang menjawab tadi menyampaikan pertanyaan yang sama kepada siswa berikutnya dan begitu seterusnya secara berantai.
14.  At-Tamrin Ar-Ruba’i
Latihan ini terdiri dari empat langkah: 1) guru memberikan stimulus dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan; 2) guru memilih siswa untuk menjawab pertanyaan; 3) guru mengulangi jawaban siswa atau membetulkannya sekaligus sebagai contoh; 4) seluruh siswa mengikuti jawaban yang disampaikan guru.
15.  At-Tamrin Ad-Damaj
Dalam latihan ini siswa diminta untuk menggabungkan dua kalimat menjadi satu kalimat dengan menambahkan kata sambung, huruf syarat, atau huruf lain yang cocok.
16.  At-Tamrin Al-Idafah
Dalam latihan ini siswa diminta untuk menyimpan kata di tempat yang cocok dalam kalimat yang disediakan.
17.  At-Tamrin Al-Takmilah
Guru memberikan beberapa bagian kalimat dan siswa diminta untuk melengkapinya dengan kata yang cocok.
18.  At-Tamrin Al-Tahwil
Siswa diminta untuk mengubah satu pola atau susunan kalimat ke dalam susunan lain.
19.  At-Tamrin At-Tamaddud
Siswa diminta untuk mengisi kalimat yang dibuang.
20.  At-Tamrin Al-Istibdal
Siswa diminta untuk meletakan satu kata sebagai pengganti beberapa kata yang lain dalam kalimat.
21.  At-Tamrin At-Tabi’ah
Siswa diminta untuk mengisi tempat yang kosong dengan kata yang cocok.
22.  At-Tamrin At-Tartib
Guru memberikan kalimat yang disusun secara acak.
23.  At-Tamrin Al-Ikhtiyar min Muta’adid
Siswa diminta untuk memilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa pilihan-pilihan ganda/multiple choise.
24.  At-Tamrin Al-Tasykil
Siswa diminta untuk memberi harakat setiap akhir kata pada sebuah kalimat atau kata-kata tertentu saja.
25.  At-Tamrin Ta’dil Al-Sigah
Siswa diminta untuk menyesuaikan bentuk kata tertentu sehingga cocok dengan kata-kata yang lain dalam kalimat yang disediakan.
H.    Struktur Kalimat dan Konteks
Ketika mengajar struktur atau pola kalimat baru, sebaiknya guru mengaitkannya dengan konteks dan kondisi rill kehidupan siswa. Hal ini akan sangat membantu penjelasan makna dan penggunaan struktur baru itu. Langkah-langkah yang bisa ditempuh adalah sebagai berikut.
1.      Contoh konkret
2.      Nama konkret
3.      Kalimat rill
4.      Kata kerja rill
I.       Prinsip Umum Pembelajaran Struktur Bahasa
1.      Perhatikan kemampuan siswa
2.      Hindari istilah-istilah nahwu
3.      Bandingkan antar struktur kalimat
4.      Perhatikan pola dan makna secara proporsional
5.      Gunakan dua jenis drill ( lisan dan tulisan )
6.      Klasifikasikan jenis drill yang cocok
7.      Variasikan metode mengajar
8.      Review materi yang sudah diajarkan
9.      Lakukan latihan meniru secara klasikal atau kelompok
10.  Gunakan alat peraga
11.  Beri kosakata yang akrab dan mudah
J.       Penyajian Struktur Kalimat
Dalam menyajikan struktur kalimat baru dihadapan siswa, guru bisa menempuh langkah-langkah berikut:
v  Pemberian contoh
v  Memfokuskan
v  Pemberian makna
v  Sigah
v  Perbandingan
v  Reinforcment
v  Contoh sepadan
v  Generalisasi
v  Latihan secara lisan
v  Latihan secara tertulis
v  pengulangan




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
v  Teori-Teori Tata Bahasa
1.      Teori Tata Bahasa Tradisional
2.      Teori Unsur Bawahan Langsung
3.      Teori Tagmemik
4.      Teori Tata Bahasa Transformatif
v  Implementasi dalam Pembelajaran
Kita bisa memanfaatkan keempat teori di atas dalam pembelajaran  struktur bahasa.
v  Makna Gramatikal
Makna gramatikal melibatkan empat unsur. Pertama, komposisi kata yakni urutan kata dalam sebuah kalimat memiliki makna tertentu. Kedua, kata fungsional. Ketiga, intonasi tangim. Keempat, bentuk kata sigah.
v  Pengajaran Makna Gramatikal
Guru seyogyanya dapat membantu siwa memahami makna gramatikal sebuah kalimat dengan cara berikut: pertama, guru harus menjelaskan bagaimana pengaruh kedudukan kata dalam kalimat terhadap makna. Ia pun harus menjelaskan hubungan antara kata dalam kalimat tersebut. Kedua, guru harus menjelaskan peran setiap kata fungsional dalam pembentukan makna kalimat. Ketiga, guru harus menjelaskan bahwa intonasi sangat berpengaruh pada kalimat. Keempat, guru harus memperhatikan makna gramatikal pada tataran morfologis.
v  Strategi Pembelajaran Gramatikal
1.      Musykilat  Al-Thullab
2.      Istintajiyyah
3.      Muqaranat Al-Nash
4.      Tahlil Al-Akhtha
5.      Ikhtiyar Al-Jumal
v  Kalimat dan Pola Kalimat
Kalimat merupakan pernyataan yang riil, sedangkan pola kalimat merupakan bentuk tersembunyi yang terkandung dalam kalimat.
v  Latihan Pola Kalimat
Pembelajaran  struktur bahasa pada hakekatnya adalah pembelajaran pola kalimat. Cara terbaik untuk mengajarkan pola kalimat adalah berlatih pola kalimat. Latihan pola kalimat yang terbaik adalah dengan menerapkan pola kedalam berbagai kalimat dengan melakukan perubahan kata-katanya. Artinya, latihan pola kalimat sesungguhnya mengulang-ulang pola kalimat dengan kata-kata yang bervariasi.
v  Struktur Kalimat dan Konteks
Ketika mengajar struktur atau pola kalimat baru, sebaiknya guru mengaitkannya dengan konteks dan kondisi rill kehidupan siswa. Hal ini akan sangat membantu penjelasan makna dan penggunaan struktur baru itu.
v  Prinsip Umum Pembelajaran Struktur Bahasa
1.      Perhatikan kemampuan siswa
2.      Hindari istilah-istilah nahwu
3.      Bandingkan antar struktur kalimat
4.      Perhatikan pola dan makna secara proporsional
5.      Gunakan dua jenis drill ( lisan dan tulisan )
6.      Klasifikasikan jenis drill yang cocok
7.      Variasikan metode mengajar
8.      Review materi yang sudah diajarkan
9.      Lakukan latihan meniru secara klasikal atau kelompok
10.  Gunakan alat peraga
11.  Beri kosakata yang akrab dan mudah
v  Penyajian Struktur Kalimat
Dalam menyajikan struktur kalimat baru dihadapan siswa, guru bisa menempuh langkah-langkah berikut:
1.      Pemberian contoh
2.      Memfokuskan
3.      Pemberian makna
4.      Sigah
5.      Perbandingan
6.      Reinforcment
7.      Contoh sepadan
8.      Generalisasi
9.      Latihan secara lisan
10.  Latihan secara tertulis
11.  pengulangan
B.     Saran
Setelah membaca makalah ini, diharapkan mahasiswa atau mahasiswi dapat mengetahui :
1.      Apa saja teori-teori tata bahasa ?
2.      Bagaimana implementasi dalam pembelajaran ?
3.      Apakah makna gramatikal ?
4.      Bagaiman pengajaran makna gramatikal ?
5.      Bagaimana strategi pembelajaran gramatikal ?
6.      Apa yang dimaksud kalimat dan pola kalimat ?
7.      Bagaimana latihan pola kalimat ?
8.      Apa yang dimaksud struktur kalimat dan konteks ?
9.      Bagaimana prinsip umum pembelajaran struktur bahasa ?
10.  Bagaimana penyajian struktur kalimat ?


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Ads

Fans Page Facebook

Arsip Blog

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}